Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Korupsi Rp 1,6 Miliar, Pejabat Bulog Diganjar 5,5 Tahun Penjara

05 Oktober 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Kasi Bidang Komersial dan Pengembangan Bisnis, Bulog Subdivre Surabaya Selatan Sigit Hendro Purnomo divonis 5,5 tahun penjara, denda Rp 200 juta, dan membayar uang pengganti Rp 1,6 miliar.

Kasi Bidang Komersial dan Pengembangan Bisnis, Bulog Subdivre Surabaya Selatan Sigit Hendro Purnomo divonis 5,5 tahun penjara, denda Rp 200 juta, dan membayar uang pengganti Rp 1,6 miliar. (imron arlado/radarmojokerto.id)

SURABAYA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Terdakwa tunggal kasus dugaan korupsi di tubuh Bulog Sub Divre Surabaya Selatan, Sigit Hendro Purnomo, diganjar hukuman penjara selama 5 tahun 6 bulan, oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Surabaya, Jumat (4/10). Hukuman ini jauh lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Ketua Majelis Hakim I Wayan Sosiawan, SH, menilai, Sigit telah terbukti melanggar dakwaan primer yakni pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). ’’Mengadili terdakwa dengan hukuman penjara selama 5,5 tahun,’’ ujarnya.

Selain harus menjalani hukuman yang berat, Sigit juga harus membayar denda senilai Rp 200 juta, subsider 6 bulan penjara, dan membayar uang pengganti sebesar Rp 1,6 miliar. ’’Jika tidak dibayar dalam jangka satu bulan, maka akan diganti dengan penjara selama 6 bulan,’’ ungkapnya.

Mendengar putusan hakim ini, pria 36 tahun ini tak langsung menerima. Usai melakukan konsultasi dengan kuasa hukumnya, Sigit menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut.

Senada diungkapkan JPU Erfandi Kurnia, SH. Ia pun menyatakan pikir-pikir selama tujuh hari dan akan melaporkan hasil putusan tersebut ke Kajari Kabupaten Mojokerto. ’’Kami juga pikir-pikir,’’ tegas Erfandi.

Sikap pikir-pikir yang diungkapkan JPU ini cukup realistis. Karena, putusan majelis hakim atas perilaku korup yang dilakukan pejabat bulog ini, sangat jauh dari tuntutan jaksa. Pekan lalu, jaksa menuntut hukuman penjara selama 8 tahun, denda Rp 250 juta subsider 6 bulan penjara, dan membayar uang pengganti yang telah dikorupsi sebesar Rp 1,6 miliar.

Jaksa beralasan, hukuman berat ini layak diterima terdakwa lantaran Kepala Seksi Komersial dan Pengembangan Bisnis, di bulog ini telah menyalahgunakan kewenangannya untuk memperkaya diri sendiri.

Sigit, kata Erfandi, telah terbukti melanggar Pasal 2 dan 3 UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ia telah menghabiskan uang hasil penjualan di bulog hingga mencapai Rp 1,6 miliar.

Perlu diketahui, Sigit diduga telah menilap uang perusahaan senilai Rp 1,6 miliar. Sebagai pejabat, Sigit memiliki kewenangan yang cukup besar. Di antaranya, melakukan penjualan komoditas melalui program Rumah Pangan Kita (RPK). Di sektor ini saja, uang bulog yang hilang diperkirakan mencapai Rp 618,7 juta.

Dana ini belum termasuk penjualan pasar umum atau operasi pasar yang menelan anggaran sebesar Rp 91,14 juta serta penjualan jagung yang mencapai Rp 800 juta. Belum lagi, stok gula di gudang Bulog yang hilang mencapai 10.118 kilogram senilai Rp 126,5 juta.

Sigit mulai menghilang sejak 31 Oktober 2017. Dia tidak pernah memenuhi panggilan penyidik Kejati Jatim, hingga akhirnya ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak November 2018. Pelariannya berakhir setelah penyidik kejati mengendus keberadaan tersangka di rumah orang tuanya, di kawasan Bandung.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia