Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Perusahaan Tidak Siap Apar dan Hydrant

05 Oktober 2019, 07: 55: 59 WIB | editor : Imron Arlado

para karyawan menyelamatkan barang plastik di dalam pabrik.

para karyawan menyelamatkan barang plastik di dalam pabrik. (khudori/radarmojokerto.id)

Kepala BPBD Kabuaten Mojokerto, M. Zaini, tidak adanya alat pemadam api ringan (apar) hingga hydrant di lingkungan pabrik membuat kobaran api sulit dikendalikan. ’’Seharusnya kelangkapan ini harus ada,’’ ungkapnya, di lokasi.

Dari pantaunnya, diduga di lingkungan pabrik tidak ada apar hingga hydrant yang disediakan pabrik. Kondisi itu setelah petugas cukup kesulitan untuk menemukan sumber air untuk mengisi mobil pemadam kebaharan yang bergantian kehabisan air di tengah pemadaman api.

Tak urung, petugas pun dibuat kewalahan. Karena memang barang yang terbakar terbuat dari plastik, setidaknya adanya hydrant di pabrik memudahkan petugas melakukan tindakan pemadaman. Pun demikian apar, setidaknya keberadaannya di lingkungan pabrik akan cukup bermanfaat jika terjadi kebakaran seperti sekarang ini. Artinya, kobaran api yang belum membesar bisa dicegah agar tidak sampai merambat ke yang lainnya. ’’Masak pabrik sebesar ini tidak punya apar. Itu kan sudah salah,’’ tegasnya.

Apalagi dengan luasan pabrik 1.600 meter persegi, harusnya ada 20 apar sebagai antisipasi jika terjadi kebakaran. Sesuai aturan, setiap lorong gudang harus ada apar. ’’Tapi yang paling pokok lagi, ya sumber air atau hydrant. Jadi, saat ada kejadian seperti ini, tidak sampai kesulitan air,’’ paparnya.

Dengan demikian, pihaknya meminta dinas terkait untuk melakukan evaluasi terkait perizinan pabrik yang tidak dilengkapi standart keselamatan untuk kebakaran. Tidak hanya pabrik CV Surya Santoso Sejati di Dusun Sruni, Desa Sumbertanggul, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, saja, melainkan berlaku pada semua pabrik yang ada di wilayah Mojokerto.

Menurutnya, sebelum penerbitan izin, harusnya memang ada rekomendasi dari BPBD soal standar otoritas keamanan jika terjadi kebakaran. ’’Kalau tidak, baru dirasakan saat terjadi seperti ini (kebakaran),’’ tegasnya.

Karena apa, lanjut Zaini, kelengkapan alat itu, akan berguna untuk keperluan dan azas manfaat pabrik itu sendiri. ’’Kalau tidak ada, pabrik yang dirugikan jika terjadi kebakaran,’’ jelasnya lagi.

Zaini mengaku, bukan berarti dari ratusan pabrik yang ada di Kabupaten Mojokerto semuanya lalai tidak menyediakan apar dan hydrant. Melainkan sudah banyak juga yang sesuai standar. ’’Tetapi banyak juga yang tidak ada,’’ sesalnya.

Untuk itu, dengan tingginya kebakaran sekarang ini, BPBD sendiri sudah melakukan sidak ke sejumlah perusahaan memastikan keberadaan apar dan hydrant. ’’Sudah ada 30 lokasi yang sudah kami datangi. Bukan hanya lingkungan industri tapi juga perkantoran, dan sekolah,’’ pungkansya. 

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia