Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

KH Mashul Ismail, Kiai Kharismatik Itu Telah Berpulang

02 Oktober 2019, 06: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

KH Mashul Ismail telah berpulang setelah menjalani perawatan di RSI Sakinah selama 12 hari.

KH Mashul Ismail telah berpulang setelah menjalani perawatan di RSI Sakinah selama 12 hari. (dok/radarmojokerto.id)

GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sosok tegas dan kharismatik itu telah tiada. Selama 12 hari terbaring sakit, KH Mashul Ismail, Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto itu, akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSI Sakinah Mojokerto, Selasa (1/10) dini hari.

Komplikasi penyakit diabetes militus (DM) tak dapat dihindari dari tubuh sang panutan tersebut sejak beberapa tahun lalu.

Duka mendalam tak bisa dielakkan ribuan santri, kerabat dekat, warga Nahdliyin, hingga warga umum saat prosesi pemakaman yang berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Terpadu, Husnul Hidayah, Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Selasa pagi. Nampak sejumlah pejabat pemerintahan hingga struktural PC NU turut mengantar kepergian beliau ke kompleks pemakaman keluarga.

Seolah ketegasan dan kedisiplinannya yang menggugah banyak jamaah turut menghormati beliau. Tidak hanya warga biasa, tapi juga kepada kalangan pejabat pemerintahan hingga aparat penegak hukum (APH). Banyak kisah dan pengalaman beliau yang bisa dijadikan panutan.

Termasuk bagaimana cara menjaga kerukunan antarumat beragama, khususnya di di wilayah Kabupaten Mojokerto. ’’Beliau ini termasuk ulama yang disegani. Karena beliau begitu egaliter, bisa masuk ke semua lini. Tidak hanya di struktural pemerintahan, tapi sampai ke warga di pelosok desa-desa,’’ tutur Ketua Tanfidz PC NU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alawi.

Kiai Mashul memang kerap menjadi perbincangan. Bahkan, tak jarang beliau bertindak tegas dalam menyikapi persoalan sosial. Termasuk menyikapi panasnya suhu politik saat pemilu dan pilpres beberapa waktu lalu.

Di sejumlah statement-nya, Kiai Mashul tak segan memperingatkan siapapun yang dengan sengaja mengacaukan pesta demokrasi atas dalih agama. Dan, dari ketegasannya itu, Kiai Mashul didapuk sebagai ketua umum MUI Kabupaten Mojokerto dalam dua periode sekaligus (2014-2019 dan 2019-2024).

Tak hanya itu, Kiai Mashul juga tak segan mengabdikan diri seutuhnya baik untuk organisasi maupun jamiyah. Beliau juga tak sungkan menghadiri sejumlah pengajian yang berlangsung di pelosok-pelosok kampung. Termasuk selalu menghadiri di setiap rapat pengurus NU, baik di tingkat cabang, MWC (majelis wakil cabang) setingkat kecamatan, hingga ranting (desa/kelurahan).

’’Terakhir kali ikut rapat pengurus ya hari Jumat (20/9), atau sesaat sebelum masuk rumah sakit. Jangankan rapat, kalau tidak ada uzur, beliau selalu menyempatkan hadir di pengajian rutin Ahadan setiap minggu pagi,’’ tambahnya.

Sesuai amanat terakhirnya, Kiai Mashul berpesan agar pengurus NU dapat terus berkiprah dalam mengurusi jamaah di semua sendi kehidupan. Almarhum juga berpesan agar NU atau santri mampu menjadi solusi di setiap permasalahan sosial masyarakat.

(mj/far/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia