Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisi Dalami Aliran Dana Investasi, Polisi Periksa Ulang Investor

01 Oktober 2019, 09: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Para investor akan kembali menjalani pemeriksaan setelah naiknya status penyelidikan menjadi penyidikan.

Para investor akan kembali menjalani pemeriksaan setelah naiknya status penyelidikan menjadi penyidikan. (sofan/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pendalaman laporan kasus investasi macet PT Rofiq Habifah Sukses (RHS) Group terus digulirkan pihak kepolisian.

Belakangan, Satreskrim Polresta Mojokerto bahkan membentuk tim khusus (timsus) untuk mendalami dugaan penipuan dan penggelapan dengan kerugian mencapai miliaran rupiah dari ratusan korban sebagai investror tersebut.

Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Ade Warokka, mengatakan, meski statusnya sudah naik tahap penyidikan, sejauh ini petugas belum menetapkan tersangka di balik dugaan tindak pidana tersebut. ’’Belum (ada tersangka, Red), sekarang masih terus kita dalami,’’ ungkapnya.

Menurut Ade Warokka, pihaknya kini bahkan membentuk timsus untuk mengungkap fakta-fakta di balik investasi macet hingga berujung pada laporan dugaan penipuan ini. Timsus berjumlah 11 orang dari gabungan penyidik tersebut sekaligus untuk melakukan pemeriksaan ulang secara maraton pada ratusan korban yang sebelumnya resmi melapor ke mapolresta.

’’Dari 109 (investor, Red) korban, 50 orang sudah kita lakukan pemeriksaan. Pemeriksaan ulang pada saksi korban untuk mengkroscek data-data yang sebelumnya didapat penyidik,’’ terangnya.

Kata dia, keterangan saksi ini sangat penting dalam kelanjutan perkara yang bergulir sejak Rabu (3/9) lalu. Artinya, dari keterangan ini, penyidik nantinya akan dapat menyimpulkan bagaimana alur dugaan penipuan yang dilakukan PT RHS sebenarnya. Langkah ini sekaligus sebagai upaya melengkapi alat bukti, sebelum akhirnya digelar perkara, dan penetapan tersangka.

’’Memang, kasus sudah naik ke penyidikan, tapi untuk penetapan tersangka, kami perlu menggali lebih dalam dan menyimpulkan dari serangkaian pemeriksaan dan alat bukti yang kita dapat,’’ tegasnya.

Meski ada tiga orang yang dilaporkan para korban, sejauh ini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap satu terlapor. Yakni, Kepala Cabang Mojokerto PT RHS, DS. Dia diduga orang yang bertanggung jawab di balik dugaan penipuan investasi 109 investor atau nasabah. Nilai nominalnya pun bervariasi. Ada yang sekitar Rp 100 juta, Rp 300 juta, Rp 500 juta. Sehingga, jika dikalkulasi nilainya mencpaai Rp 7 miliar.

Karena korbannya cukup banyak, Ade Warokka juga meminta waktu untuk terus mempelajari aliran dana dugaan penipuan dengan modus investasi itu. Termasuk dugaan masih adanya pihak lain yang turut menjadi korban investasi dengan sistem bagi hasil fee senilai 5-10 persen dari nominal yang diinvestasikan. ’’Prosesnya ini sangat panjang. Keterangan korban dan terlapor berbeda. Jadi, kami harus bijaksana. Kami cek dulu alat bukti apa saja yang mengarah untuk menetapkan tersangka,’’ tegasnya.

Kemarin penyidik sudah menyita barang bukti berupa kuitansi penyerahan uang serta sertifikat tanda bukti investasi. Namun, dalam perjalanan kasus ini, belakangan diketahui, PT RHS Group justru melaporkan balik pada nasabahnya atau dugaan berita hoax dan hate speech. Jumat (27/9) lalu, sejumlah investor atau nasabah justru dilaporkan balik oleh manajemen atas dugaan telah menyebarkan fitnah, berita hoax, hingga melakukan hate speech atau ujaran kebencian. Mereka yang dilaporkan PT RHS Group diketahui berjumlah empat orang. Masing-masing berinisial AS, BVS, RW, dan RM.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia