Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Komunitas Mojokerto Baby Wearers (MBW)

Kampanyekan Cara Menggendong Bayi yang Aman dan Nyaman

24 September 2019, 09: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Anggota MBW saat memberikan edukasi kepada kalangan ibu-ibu di CFD Jalan Benpas, Kota Mojokerto

Anggota MBW saat memberikan edukasi kepada kalangan ibu-ibu di CFD Jalan Benpas, Kota Mojokerto (dokMBW/radarmojokerto.id)

Menggendong bayi tak bisa dilakukan asal-asalan. Karena akan berdampak terhadap pertumbuhan sang buah hati. Di Mojokerto, sebuah komunitas menggendong selalu mengkampanyekan cara menimang bayi agar aman dan nyaman.

MEREKA menyebut dirinya Mojokerto Baby Wearers (MBW). Komunitas ini sudah berdiri sejak dua tahun silam. Beranggotakan ratusan perempuan yang selalu rutin mengkampanyekan cara menggendong bayi dengan benar.

Mereka berkampanye selalu dilakukan di tempat-tempat umum. Mulai dari alun-alun, kawasan wisata, hingga car free day (CFD) di Jalan Benteng Pancasila (Benpas), Kota Mojokerto. ’’Kami ingin, anak nyaman dan aman dalam gendongan,’’ ungkap pengurus MBM, Rifqi Ari Syukriyah, asal Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari.

Ibu muda 27 tahun ini menceritakan, komunitas ini berdiri untuk memberikan suntikan pemahaman terhadap ibu-ibu muda yang baru memiliki momongan. Mereka biasanya kebingungan saat memiliki anak pertama. Terlebih saat hendak menimangnya. Meski akhirnya, anggota komunitas yang sudah mencapai 200-an orang tersebut tak melulu dari kalangan ibu muda.

Komunitas ini, tegas Qiqi sapaan Rifqi Ari Syukriyah, selalu mengedepankan safety dan kenyamanan terhadap anak. Karena dengan menggendong yang benar, pertumbuhan dan kesehatan anak lebih terjamin.

Dalam setiap kampanye, komunitas ini selalu mengingatkan para perempuan yang memiliki anak masih dalam gendongan dengan TICKS. Yakni, tight (ketat), in view at all times (terlihat setiap saat), close enough to kiss (cukup dekat untuk mencium), keep chin of the chest (jauhkan dagu dari dada), dan supported back (menahan tulang belakang). ’’Lima prinsip dasar ini yang selalu kita sampaikan ke masyarakat,’’ ungkap ibu dari Akhmad Sakha Arkan Wiratama, 2,5 tahun tersebut.

Qiqi menambahkan, saat ini banyak ditemui orang tua menggendong bayinya dengan gendongan dan menghadap luar.  Meski nampak kekinian, namun cara menggendong seperti itu sangat tidak direkomendasikan. ’’Memang nampak gaya, tapi dari sisi kesehatan, tidak boleh lama-lama. Tulang panggul anak masih belum kuat,’’ jelasnya.

Pun demikian dengan memperlakukan anak sama dengan orang dewasa. Seorang bayi kerap diajak berkendara dengan motor. Biasanya, ini dilakukan para perempuan saat mengantar anak yang lain ke sekolah. ’’Kami sangat tidak menyarankan. Lebih baik titipkan dulu ke tetangga atau siapa lah. Karena sangat bahaya. Anak justru menjadi tameng bagi orang tuanya. Itu tidak baik,’’ tegas dia.

Selain mengkampanyekan cara menggendong yang baik, komunitas yang diketuai Dita Novri, 30, asal Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar ini, juga kerap mengkampanyekan model gendongan dengan tingkat kenyamanannya. Dari gendongan kain yang harganya puluhan ribu, hingga yang bertarif jutaan rupiah.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia