Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

PT RHS Group Diduga Kolaps, Investasi Rp 21,5 Miliar Belum Kembali

20 September 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kepala Divisi Sosial PT. RHS Kancab Mojokerto Sumargi memberi keterangan pers terkait gugatan nasabah di salah satu rumah makan Mojokerto.

Kepala Divisi Sosial PT. RHS Kancab Mojokerto Sumargi memberi keterangan pers terkait gugatan nasabah di salah satu rumah makan Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan investasi bodong dengan jumlah korban mencapai ratusan investor terus bergulir. Rabu (18/9), manajeman PT Rofiq Hanifah (RHS) Group akhirnya buka suara.

Mereka membantah jika investasi yang selama ini berjalan adalah bisnis fiktif atau bodong. ’’Usaha milik PT RHS benar-benar ada. Tidak fiktif atau bodong,’’ ungkap Kepala Divisi Sosial PT RHS Group Kancab Mojokerto Sumargi, di salah satu rumah makan Jalan Jayanegara, Puri, kemarin.

Menurutnya, uang Rp 7 miliar milik 109 investor yang sebelumnya mengaku menjadi korban dan resmi melaporkan PT RHS Group ke Mapolresta Mojokerto sejauh ini memang belum kembali. Itu pun, lanjut Sumargi, bukan karena ditipu atau sengaja tidak untuk dikembalikan.

Hanya saja, kebetulan, karena kondisi perusahaan sedang tidak stabil lantaran adanya persaingan bisnis. Sehingga membuat perusahaan membutuhkan waktu untuk mengembalikan. ’’Tidak hanya Rp 7 miliar. Tapi, seluruh uang nasabah 565 orang di Kancab Mojokerto dengan total Rp 21,5 miliar belum kembali,’’ terangnya.

Namun, lagi-lagi Sumargi mengaku bukan berarti perusahaan tidak mau mengembalikan kepada investor. Sejauh ini manajemen masih berusaha menjual aset Waterpark Chenoa dengan luas lahan 7.799 meter persegi senilai Rp 30 miliar.

Aset sertifikat hak milik (SHM) berlokasi di Blitar tersebut merupakan aset usaha konsorsium (aset komunitas) atas nama M. Ainur Rofiq, pimpinan perusahaan. Aset tersebut, kini dipercayakan pada Sumargi untuk dijual. Hasil penjualan nantinya sebagai ganti rugi uang milik ratusan investor yang uangnya diketahui sedang mengendap di perusahaan.

’’Dan, semuanya bisa jual. Karena ini aset milik komonitas,’’ paparnya. Kuasa jual saat ini sudah diserahkan keada Sumargi dan para investor tertanggal 5 September 2018 lalu berikut SHM-nya. ’’Uangnya nanti untuk mengembalikan seluruh uang nasabah Mojokerto,’’ tambahnya. Hanya saja sampai saat ini, aset yang digadang sebagai ganti rugi itu belum juga laku terjual.

Tak hanya itu, terkait tuduhan bodong, Sumargi lagi-lagi membantah. Sebab, sebelumnya PT RHS Group miliki delapan aset di Kediri dan Blitar. Di antaranya satu lahan sawah dan tujuh bangunan berupa toko dan rumah yang sebelumnya sebagai usaha bahan bangunan.

Sayangnya, saat ini, semua aset sudah tidak beroperasi lagi, lantaran perusahaan sedang pailit karena persaingan bisnis. ’’Namanya persaingan bisnis, ada goncangan-goncangan, akhirnya satu persatu toko ritel kita tutup,’’ tuturnya. Sehingga kondisi itu membuat fee 5 persen yang selalu dibayarkan per tanggal 10 macet.

Akibatnya, para investor bertanya-tanya lantaran tidak mendapat kiriman bagi hasil. Meski sempat dilakukan penjelasan dan mediasi, seiring berjalannya waktu, hal ini membuat sejumlah nasabah di Mojokerto resah. Mereka akhirnya memilih jalur hukum dengan melaporkan manajemen PT RHS Group ke Mapolresta Mojokerto, atas dugaan penipuan dan penggelapan pada Selasa (4/9) lalu.

Mereka resmi melaporkan tiga orang. Salah satu di antaranya adalah Sumargi. Selebihnya adalah kepala cabang DW, direktur RF, dan tim sembilan.  ’’Tapi, saya ingin bersih tanpa mengotori. Menang, tanpa mengalahkan. Soalnya kita saudara. Untuk itu saya bersama owner berusaha menjual semua aset yang ada,’’ tandasnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia