Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Annisa Fitri Mengaku Jatuh Didorong, Kerap Jadi Sasaran Ejekan Teman

20 September 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Annisa Fitri tak bisa banyak beraktivitas saat ditemui di rumahnya,  Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Annisa Fitri tak bisa banyak beraktivitas saat ditemui di rumahnya, Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Bullying yang masih terjadi di lingkungan sekolah berakibat pada diri Annisa Fitri, 13, pelajar kelas VII SMPN 2 Sooko, Kabupaten Mojokerto. Bahkan, warga Dusun/Desa Modongan, Kecamatan Sooko ini, hanya bisa berbaring di rumah tanpa aktivitas.

Dia mengalami cedera di pergelangan kaki kanan akibat terjatuh dari tangga sekolah. Korban terjatuh karena didorong temannya. Kamis (19/9), anak ke lima dari lima beraudara pasangan Suwantah dan Miarsih itu hanya bisa berbaring dan duduk di rumahnya.

Sesekali dia merintih lantaran pergelangan kakinya masih terasa sakit. Ya, dia didiagnosa dokter mengalami cedera pada pergelangan. Setelah sebelumnya, Jumat (6/9) diduga menjadi korban bullying di sekolah.

’’Pergelangan kaki kanan saya cedera karena jatuh dari tangga akibat didorong teman,’’ ungkap Annisa, ditemui di rumahnya Desa Modongan, Kecamatan Sooko. Siswi kelas VII SMPN 2 Sooko ini sudah dua minggu absen mengikuti pelajaran.

Pergelangan kaki kanannya masih terlihat dibalut perban dan gips. Meski kondisinya sedikit membaik, namun dia belum bisa melakukan rutinitas sehari-hari. Sebab, untuk berjalan saja Annisa kesulitan. Untuk berjalan, dia harus menggunakan kruk.

Namun, tak jarang, untuk ke kamar mandi, sesekali harus dibopong orang tua atau kakaknya. ’’Kalau dibuat jalan masih terasa sakitnya,’’ tegasnya. Rutinitas ini sudah berlangsung dua pekan. Annisa mengaku dugaan bullying terjadi pada Jumat (6/9) pukul 09.30.

Saat itu dia hendak ke kantin sekolah. Karena ruang kelasnya di lantai dua, dia lebih dulu menuruni tangga. Namun, saat menginjak lantai satu, dia diduga didorong temannya, BG. Korban terjungkal dari tangga dengan ketinggian sekitar 1 meter.

Kebetulan, saat didorong dia sudah sampai anak tangga ketiga dari bawah. ’’Pergelangan saya langsung memar,’’ tuturnya. Pergelangan kaki kanan Annisa terkilir. Tangis kesakitan Annisa mengundang perhatian siswa dan guru.

Untuk mendapatkan penangan, dia langsung dibawa ke ruang UKS untuk mendapat pijatan dari sesam siswa. Annisa baru dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, setelah pihak sekolah menyampaikan kabar jatuhnya Annisa kepada orang tuanya.

’’Saya juga sering jadi korban bully. Sering jadi sasaran ejekan temannya. Sebelum tergelincir, beberapa kali rambut saya juga dijambaki,’’ terangnya. Meski demikian, tidak ada perhatian serius dari pihak sekolah. Hingga dua pekan ini tidak satupun dari pihak sekolah datang menjenguk.

’’Dua minggu ini saja juga ketinggalan pelajaran,’’ sesalnya. Agus Sucipto, 23, kakak Annisa mengatakan, adiknya hanya menginap semalam di RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo. Annisa diizinkan pulang setelah pergelangan kaki kanannya dipasang gips.

Menurut dia, pengobatan adiknya saat itu menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). ’’Harapan saya pihak sekolah tanggung jawab karena kejadiannya di sekolah,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Humas SMPN 2 Sooko, Subai mengaku belum dapat memastikan Annisa terjatuh akibat bullying atau faktor lain. Sebab, dari informasi yang didapat, diduga Annisa jatuh karena terjerat roknya sendiri.

’’Soal penyebabnya, tidak tahu pasti. Tapi, dari saki-saksi yang ada, katanya kesrimpet roknya,’’ ungkapnya. Dia menegaskan, sekolah tak lantas membawa Annisa ke rumah sakit juga karena ada alasan.

Sebab, pasca terjatuh, korban diketahui tidak merasa kesakitan. Bahkan tertawa. ’’Waktu itu karena anaknya tidak merasa kesakitan yang lebih. Anaknya ketawa-ketawa,’’ tegas Subai. Kendati demikian, bukan berarti sekolah lepas tanggung jawab.

Disinggung perihal pengakuan korban yang mengaku jatuh akibat didorong temannya, sekolah juga lansung melakukan mediasai. Mempertemukan antara keluarga korban dengan keluarga BG, siswa yang diduga sebagai pelakunya. ’’Keduanya juga sudah saling memaafkan,’’ pungkasnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia