Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Sudah 79 Kali Kebakaran di Mojokerto

18 September 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Petugas PMK mendapat pertolongan akibat mengalami sesak napas saat melakukan pemadaman gudang rongsokan di Desa Perning, Kec. Jetis, Senin (17/9).

Petugas PMK mendapat pertolongan akibat mengalami sesak napas saat melakukan pemadaman gudang rongsokan di Desa Perning, Kec. Jetis, Senin (17/9). (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi baru akan berakhir Oktober mendatang, kasus kebakaran di Kabupaten Mojokerto terus meningkat. Bahkan, dalam sehari bisa mencapai empat kali.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto Muhammad Zaini, mengatakan, sejak memasuki musim kemarau bulan Juli lalu, kebakaran di kabupaten dalam seminggu ini bisa mencapai tiga hingga lima kali. Mulai dari lahan kosong, hutan, rumah, hingga tempat usaha.

’’Kalau di jumlah dalam sebulan, kebakaran terjadi antara 15 hingga 20 kali di Kabupaten Mojokerto,’’ ungkapnya, kemarin. Senin (16/9) lalu, dalam hitungan jam, kebakaran terjadi di tiga lokasi. Meski tidak sampai jatuh korban, namun mengharuskan warga agar selalu waspada. Sebab, potensi kebakaran selama musim kemarau masih tinggi.

Terakhir, kebakaran hebat melanda gudang rongsokan milik Welly, warga Desa Perning, Kecamatan Jetis. Kobaran api mengeluarkan kepulasan asap hitam pekat mengakibatkan enam orang harus mendapat bantuan oksigen. Mereka mengaku mengalami sesak napas karena area kebakaran dipenuhi asap pekat. Bahkan, satu di antaranya mengalami pingsan.

Di hari yang sama, kebakaran melanda sebuah lahan di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, dan di TPA Belahantengah, Kecamatan Mojosari. ’’Artinya, dengan tingginya bencana kebakaran ini, masyarakat harus mengambil peran untuk menekan angka kebakaran itu sendiri. Yang terpenting jangan sampai jadi korban berikutnya,’’ tegasnya. Data BPBD menyebutkan, terhitung sejak Juli hingga pertengahan September, kebakaran di kabupaten sudah terjadi 79 kali. Tertinggi,adalah kebakaran lahan mencapai 24 kali, 20 kali kebakaran hutan, disusul kebakaran rumah atau bangunan 18 kali. ’’Luasan hutan yang terbakar juga mencapai ratusan hektare,’’ jelasnya.

Hasil assessement, kata Zaini, banyak faktor menjadi pemicu. Kebakaran hutan misalnya, salah satunya akibatnya karena ulah pendaki. Menurut dia, api unggun yang ditinggalkan pendaki gunung. Meski mulanya sudah dipadamkan, namun saat ditinggal turun, api kembali muncul akibat embusan angina kencang. Di samping itu, cuaca panas dan banyak terdapat rerumputan kering membuat kobaran api dengan cepat menjalar. ’’Kejadian seperti ini hampir terjadi tiap tahun selama musim kemarau,’’ tegasnya. Sebaliknya, tingginya kebakaran rumah tak lain akibat kurang kehati-hatian pemilik rumah. Kata dia, kerap kali kebakaran dipicu kompor elpiji tidak dimatikan, korsleting listrik, dan kebocoran tabung gas elpiji. ’’Itu yang menjadi faktor tingginya kebakaran rumah atau bangunan,’’ tandas Zaini.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia