Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Ekonomi

Produsen Terancam Gulung Tikar Jika Cukai Rokok 23 Persen

18 September 2019, 08: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Karyawan SKT di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menunggu kepastian nasib.

Karyawan SKT di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menunggu kepastian nasib. (sofan/radarmojokerto.id)

TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Rencana pemerintah menaikkan harga cukai rokok 23 persen dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen per 1 Januari 2020 nanti akan berpengaruh buruk terhadap industri dan petani tembakau. Sebab, kondisi tersebut berimbas terhadap penurunan devisa negara lantaran tumbuh suburnya rokok ilegal. Serta menambah jumlah pengangguran nasional.

Direktur PT Irutama (Ittihad Rahmat Utama) Trowulan Bambang, mengatakan, kenaikan cukai hingga 23 persen dipastikan akan berdampak besar bagi produsen. Khusunya, bagi produsen sigaret kretek tangan (SKT). Menyusul, sejauh ini, produksi SKT murni dikerjakan oleh tenaga kerja manusia. ’’Imbasnya pada tenaga kerja dan petani tembakau itu sendiri,’’ ungkapnya.

Sebaliknya, jika ada pengecualian tarif cukai SKT lebih rendah, seperti kabar yang beredar, paling tidak besaran maksimal diharapkan 7 persen. Namun, jika di atasnya, lanjut Bambang, akan berdampak negatif terhadap tenaga kerja. Bagaimana tidak, naiknya cukai rokok kali ini hanya diukur pada tiga tujuan. Yakni, mengurangi orang untuk merokok, mengatur industri rokok, dan menjaga pendapatan negara.

Bambang berpendapat, untuk mewujudkan tiga poin tersebut, dipastikan cukup berat. Apalagi dengan menaikkan nilai cukai rokok sebesar 23 persen. Pasalnya, tenaga kerja dan petani tembakau tidak menjadi pertimbangan.

’’Kemudian untuk SKT, tembakau yang dipakai adalah tembakau lokal,’’ tuturnya. Padahal, jika tingginya cukai rokok berpengaruh terhadap menurunnya permintaan pasar, secara tidak langsung berdampak terhadap pengurangan karyawan yang jumlahnya tak sedikit. Sehingga, pengangguran akan bertambah. ’’Alasan itu (tiga poin) pasti tidak efektif. Pasti banyak perusahaan rokok yang gulung tikar,’’ terangnya.

Di lain sisi, potensi kemunculan rokok ilegal akan cukup tinggi. ’’Maka, nilainya bisa jadi malah tidak ada kenaikan pada pendapatan negara,’’ tambahnya. Padahal, sejauh ini industri rokok tanah air cukup banyak menyerap tenaga kerja. SKT di Mitra Produksi Sigaret Indonesia, misalnya.

Sampai saat ini jumlah tenaga kerjanya mencapai 40 ribu lebih. Angka itu belum termasuk pekerja yang lain. ’’Kenaikan itu sangat berat,’’ keluhnya. Bambang lantas membayangkan. Apalgi, nilai UMK di Kabupaten Mojokerto tahun ini mendekati angka Rp 4 juta.

Tahun depan diperkirakan akan kembali naik. Sehingga dengan kondisi seperti ini, selain SKT padat karya digencet oleh kenaikan UMK, ke depan justru dibarengi kenaikan cukai rokok yang melambung.

’’Dampaknya akan multiefek. Satu, pasti produksi akan menurun. Semula pendapatannya bisa maksimal jadi minimal,’’ tegas anggota Aliansi Tembakau Indonesia ini. Hanya saja, sejauh ini, rencana kenaiakan harga cukai dan HJE tersebut belum diterima perusahaan secara resmi.

Pihaknya optimistis, dalam waktu dekat dan jangka menengah tak akan memengaruhi penurunan konsumen di lapangan. Jika seperti itu, dipastikan tidak sampai ada pengurangan karyawan. Karena pengurangan tergantung pada permintaan pasar. ’’Kalau harga naik, pasar menurun lama-lama akan terjadi.

Tapi, itu belum tentu juga terjadi. Tapi, jika pasar tetap, akan minimal,’’ ujarnya.Sebaliknya, jika pasar itu mengalami terjun bebas, mau tidak mau pasti akan berdampak. ’’Dampaknya tidak langsung mengerangi tenaga kerja, tapi secara bertahap. Mungkin mengurangi produksi dulu,’’ terangnya.

Sehingga, lanjut dia, pemerintah seharusnya mempertimbangkan pada sektor padat karya. Sebab, dari proses linting, pemotongan, pengepakan, hingga packing ke atas truk, semuanya masih menggunakan tenaga manusia. Buktinya, tandas Bambang, di PT Irutama saja hingga detik ini sedikitnya ada 1.150 karyawan.

Dari ribuan tenaga kerja itu, setiap hari mampu menghasilkan 1,7 juta hingga 1,9 juta batang rokok per hari. ’’Jika toh ada kenaikan, kalau bisa tidak lebih dari 5 persen untuk SKT,’’ jelasnya. Kondisi ini tentunya berbanding terbalik dengan sigaret kretek mesin (SKM), karena tenaga kerjanya tergolong sedikit. ’’Beberapa pekerja, tapi setara dengan 3 ribu  tenaga kerja. Sebab, yang penting kompetitif,’’ pungkas Bambang.

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia