Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Dinkes Terjunkan Tim Untuk Memburu Obat Kedaluwarsa

13 September 2019, 06: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Warga Sumberwuluh, Desa Lakardowo, Jetis saat berobat di Puskesmas Jetis.

Warga Sumberwuluh, Desa Lakardowo, Jetis saat berobat di Puskesmas Jetis. (dok/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menyebarnya obat kedaluwarsa di Puskesmas Jetis memaksa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten bertindak. Mereka langsung memburu keberadaan obat tak layak tersebut. Salah satunya dengan menerjunkan tim memeriksa seluruh puskesmas di wilayahnya.

’’Hari ini (kemarin, red) petugas kita turun. Dan tidak hanya di Puskesmas Jetis saja, tapi juga di-sampling untuk mengecek puskemas lain di sekitarnya,’’ ungkap Kepala Dinkes Kabupaten Didik Chusnul Yakin.

Di Puskesmas Jetis, tim yang diterjunkan berhasil menemukan tiga botol salep. Tak ingin terulang, salep tak layak pakai itu pun diamankan. Obat yang diketahui sudah melewati ED sejak September 2018 lalu itu masuk dalam daftar reture atau pengembalian ke dinkes. Selanjutnya, laporan dari seluruh obat yang telah kedaluwarsa akan diakumulasikan. Dan, diajukan pemusnahan kepada bupati. ’’Sementara diamankan dulu, nanti selanjutnya dia (puskesmas) akan melaporkan kepada kita. Kalau sudah disetujui bupati, ya langsung dimusnahkan,’’ tandasnya.

Seluruh obat yang dimusnahkan harus terdata dalam berita acara. Sedangkan untuk langkah pemusnahan, dinkes kerja sama dengan pihak ketiga. Pasalnya, limbah medis obat yang sudah kedaluwarsa berpotensi masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sehingga, pemusnahan harus secara khusus.

Pasca pengembalian obat, puskesmas bisa mengajukan stok lagi sesuai kebutuhan. Seluruhnya distribusi dilakukan oleh gudang obat di Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar. Didik juga mengklaim jika seluruh stok obat sudah dalam pengawasan.

Pun demikian saat pengadaan awal melalui e-katalog. Sebab, obat yang bakal dibeli memiliki standar sekurang-kurangnya memiki rentang waktu dua tahun sebelum masa kedaluwarsa. ’’Masa expired-nya harus yang panjang. Sebab ini menyangkut stok, distribusi, dan semuanya butuh waktu. Makanya kalau tinggal beberapa bulan tidak mungkin kita beli,’’ katanya.

Mekanisme tersebut sebenarnya telah ditegakkan dalam Standar Operasional Prosesdur (SOP) pelayanan di fasilitas kesehatan. Petugas harus secara berkala melakukan pengecekan terhadap obat-obatan. Minimal satu bulan sekali.

Selain mendata terkait ketersedaiaan stok, puskesmas juga diwajibkan mencatat nomor batch dan tanggal kedaluwarsanya. Bahkan, jika sudah memasuki ED kurang dari sebulan, obat sudah harus disisihkan untuk diajukan pengembalian.

Namun, menyebarnya obat kedaluwarsa di Puskesmas Jetis tersebut, diakui Didik, karena human error. Keteledoran petugas.’’Jadi masih ada (obat kedaluwarsa) yang terselip. Makanya, akibat keteledoran petugas itu kita lakukan pembinaan,’’ paparnya.

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia