Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Modus Kaki Buntung, Mendadak Lari Saat Hendak Ditangkap Petugas

11 September 2019, 09: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jamilah menjadi bahan tertawaan lantaran mendadak lari saat didatangi petugas Satpol PP.

Jamilah menjadi bahan tertawaan lantaran mendadak lari saat didatangi petugas Satpol PP. (Khudori/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sekilas, Jamilah laiknya difabel. Seperti tidak mempunyai kaki. Di perempatan jalan, perempuan 40 tahun warga Tlasih, Desa Tawar, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto itu, meminta-minta.

Bersamaan lampu rambu menyala merah, dia beraksi. Tubuhnya bergoyang. Seolah menyampaikan kepada pengguna jalan tentang kondisinya. Iba. Lalu melempar uang. Itu yang diharapkan. 

Seperti siang itu. Jamilah sedang beraksi di perempatan Empunala, Kota Mojokerto. Sampai di situ, dia tidak berjalan sendiri atau naik angkot. Melainkan diantar suaminya. Naik motor.

Berangkat dari rumah tidak pasti. Bisa pagi atau siang. Kalau siang sekitar pukul 11.00. Nah, sore hari sekitar pukul 15.00, Jamilah dijemput suaminya. Naik motor juga.

Di perempatan itu, dia terus menggoyangkan tubuhnya. Kakinya beralas spon dan berbalut kain seperti diperban. Ibu satu anak ini berusaha menarik empati pengguna jalan yang dermawan. ’’Modus ini memang untuk menarik simpati warga,’’ ungkap Kasi Pembinaan dan Ketertiban Satpol PP Kota Mojokerto, Mulyono, kemarin.

Saat sedang konsentrasi menarik uluran tangan, mendadak petugas Satpol PP Kota Mojokerto datang. Kedatangan petugas itu pun membuat Jamilah panik. Dia yang mendesain dirinya seolah tak mempunyai kaki berbegas bangkit.

Dia berusaha malarikan diri dan bersembunyi di salah satu toko. Dia yang takut terjaring razia bersembunyi di depan mobil yang terparkir.

Sayangnya, upaya itu gagal. Petugas yang berusaha mencari keberadaannya berhasil menemukan berada di bawah bodi depan mobil. ’’Saat hendak di bawah sempat menolak. Sempat ada sedikit perdebatan juga,’’ terangnya.

Menurutnya, razia yang dilakukan tak lepas dari laporan masyarakat yang resah dengan ulahnya. ’’Selain karena sudah melanggar perda, tindakan itu juga menggangu ketertiban umum,’’ tambahnya.

Hasil pemeriksaan, Jamilah ternyata tidak kali pertama ini terjaring. Beberapa tahun lalu, juga pernah. Saat itu juga sedang beraksi di Kota Onde-Onde.

Untuk membuat jera, petugas mengancam akan melakukan tindakan tipiring. Selain sudah terjaring dua kali, dia juga sudah menipu pengguna jalan dengan cara menutupi kedua kakinya agar terlihat seolah-olah cacat. ’’Tindakan ini tentu sudah sangat memprihatinkan,’’ sesalnya.

Namun, tidak demikian dengan Jamilah. Dia membantah jika berpura-pura cacat. Spon dan perban yang dipakainya hanya sebagai alas agar lututnya tak lecet. ’’Kalau tidak diberi alas seperti ini, lutut saya lecet,’’ tuturnya.

Menurutnya, dia nekat menjadi pegemis lantaran tak butuh modal banyak. Hal itu pun dianggap lebih menguntungkan dibanding berjualan nasi yang sebelumnya pernah dilakoninya.

Hanya berjemur dan menari-nari di simpang empat jalan saja, banyak pengguna jalan yang empati memberinya uang. ’’Tidak banyak, sehari Rp 35-40 ribu. Paling banyak Rp 50 ribu,’’ terangnya.

Namun, siang itu dia sedang apes. ’’Biasanya saya di perempatan Awang-Awang Mojosari, jarang di kota. Baru beberapa hari ini saja karena diajak teman. Katanya aman. Tapi malah kena razia,’’ paparnya.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia