Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Melihat Tradisi Ruwatan Sukerto

Sucikan Diri, Membuang Sial dan Membuka Rezeki

09 September 2019, 12: 16: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Prosesi penyiraman air dari tujuh sumber petirtaan kepada peserta ruwatan sukerto di Pendapa Agung Trowulan.

Prosesi penyiraman air dari tujuh sumber petirtaan kepada peserta ruwatan sukerto di Pendapa Agung Trowulan. (Rizal/radarmojokerto.id)

Bulan Sura dalam kalender Jawa dinilai menjadi bulan yang sakral bagi masyarakat. Meski terdapat beberapa pantangan untuk dilakukan beberapa kegiatan, namun di bulan ini dinilai tepat untuk melakukan ruwatan.

Tradisi tersebut masih begitu kental di Kabupaten Mojokerto, karena dipercaya untuk membuang sial.

Lantunan irama gamelan terdengar sayup di halaman di Pendapa Agung, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (8/9) kemarin.

Dengan piawai Ki Marto Hadi memainkan wayang kulit dengan lakon Lahire Betoro Kolo. Dalam pewayangan Jawa, Betoro Kolo merupakan sosok yang menyeramkan dan berwujud raksasa. 

Betoro Kolo juga dikisahkan memangsa manusia yang memiliki kriteria atau ciri-ciri tertentu. Seperti orang yang memiliki anak tunggal atau ontang-anting; lima anak laki-laki semua atau pandawa lima; serta anak dua berjenis kelamin lak-laki dan perempuan atau gentono-gentini. Untuk menghindari jadi mangsa, maka harus diadakan upacara ruwatan.

Seiring berjalannya pertunjukan wayang kulit, puluhan warga tampak berbaris untuk menjalani ritual ruwatan di halaman Pendapa Agung, kemarin.

Kebanyakan dari mereka memiliki ciri-ciri sebagaimana target magsa dari Betoro Kolo. Ya, tradisi yang disebut sebagai Ruwatan Sukerto itu rutin setiap tahun digelar setiap tahun di bulan Sura. Ritual tersebut dipercaya sebagai sarana untuk membuang kesialan.

Sehari sebelumnya digelar ruwatan, dilakukan prosesi unduh-unduh petirtaan. Pada Sabtu (7/9) tersebut dilakukan pengambilan air dari tujuh sumber di sekitar Trowulan.

Mata air tersebut bukan sembarangan, konon airnya dianggap suci karena merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit.

Ketujuh mata air tersebut adalah di Petirtaan Siti Inggil, Desa Bejijong; petirtaan Tribhuwana Tungga Dewi, Desa Klinterejo; petilasan Prabu Hayam Wuruk, Desa Panggih; petirtaan Putri Campa dan Sumber Towo, Desa Unggahan; Sumur Sakti Gajah Mada, Desa Beloh; serta di Sumur Upas, Desa Sentonorejo.

Setelah itu, air yang diambil dari tujuh sumber petirtaan yang digunakan untuk prosesi ruwatan. Dipimpin oleh tokoh adat setempat, proses ruwatan dimulai dari penyiraman air suci yang sudah dicampur dengan bunga setaman.

Air tersebut dibasuhkan mulai dari bagian kepala hingga kaki peserta yang diruwat. ’’Ruwat itu adalah penyucian atau pembersihan diri,’’ ungkap tokoh adat sekaligus pemimpin ruwatan sukerto, Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno.

Iringan doa-doa menambah kesakralan upcara ruwatan. Masing-masing peserta membalut diri dengan kain mori. Lembar kain berwarna putih polos itu dilingkarkan pada tubuh peserta. Mereka secara bergiliran disiram sebanyak tiga kali.

Dia mengatakan, setiap siraman air dari tujuh sumber suci itu mengandung makna tersendiri. Air dalam gayung yang pertama untuk melepaskan kotoran yang ada di dalam diri manusia. Sementara siraman kedua untuk menghilangkan energi negatif yang ada dalam jiwa manusia. Sedangkan yang ketiga menghilangkan energi-energi negatif yang dikirimkan dari orang yang tidak bertanggung jawab. ’’Ruwatan sukerto ini salah satunya bermanfaat untuk diri manusia. Yaitu untuk menghilangkan semua bala (kesialan), musibah, maupun membuka rezeki yang belum kita dapat. Baik karena kelalaian kita, kotoran batin dan jasad kita,’’ tandasnya.

Setelah itu, rambut para peserta juga dipotong sebagai simbol membuang sial. Kemudian, tangan para peserta diberi ikatan tali sebagai lambang untuk memperkuat tekad dalam meraih suatu keinginan. Nantinya seluruh kain, pakaian, serta rambut yang sudah dipotong akan dilarung bersama-sama.

Ki Wiro Kadek mengatakan, selain penggabungan dari tujuh sumber patirtaan, air juga dicampur dengan bunga setaman, minyak wangi, kayu gaharu, serta kayu cendana. Menurutnya, dengan penyatuan berbagai bahan tersebut bertujuan untuk mengharumkan raga maupun jiwa dalam diri manusia. ’’Dengan keharuman budi pekerti kita, semoga akan diijabahi (dikabulkan) doa-doa kita,’’ ulasnya.

Di sisi lain, ruwatan Sukerto memiliki manfaatnya menjauhkan bala yang ada di sekitar kampung maupun negara Indonesia. Setelah seluruh rangkaian ruwatan selesai, prosesi ditutup dengan doa.

’’Doa sebagai wujud rasa syukur kepada sang pencipta. Dengan harapan ruwatan ini bisa membawa berkah dan semua usaha dan urusan apapun dimudahkan,’’ pungkas Pengasuh Paguyuban Pondok Tlasih 87, Puri, kabupaten Mojokerto ini.

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia