Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Kerajinan Cangkir dan Teko Berbahan Bambu

Ramai saat Ramadan, Jadi Aksesoris Rumah karena Natural

06 September 2019, 12: 30: 06 WIB | editor : Imron Arlado

Perajin menunjukkan cangkir dan teko bambu hasil karyanya.

Perajin menunjukkan cangkir dan teko bambu hasil karyanya. (shalihin/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Bertempat tinggal di wilayah dengan potensi alam melimpah, membuat warga Jatirejo mampu menyulap bambu menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Penduduk asli asal Desa Rejosari, Kecamatan Jatirejo ini, pun mampu membuat perabotan rumah tangga dalam bentuk cangkir atau teko.

DESA Rejosari, Kecamatan Jatirejo, Kabupataen Mojokerto, di antara desa di Kabupaten Mojokerto memiliki potensi alam melimpah. Salah satu adalah kekayan alam tanaman bambu.

Menjamurnya tanaman itu membuat warga memutar otak dengan menciptakan kerajinan unik bernilai jual tinggi. Di antaranya, menyulap bambu menjadi cangkir dan teko sebagai perabotan rumah tangga.

Ya, untuk mewujudkan mengembangan pengelolaan bambu ini, tentu harus ada ada yang mempunyai ide cemerlang. Baik dalam bentuk kerajinan tangan, atau bisa disebut dengan budidaya taman wisata. Melalului ide kreatif beberapa pemuda Desa Rejosari, kerajinan tangan pun berhasil dipopulerkan.

Sukiadi, salah satu perajin menceritakan, proses pembuatan cangkir dan teko berbahan bambu membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 1 minggu. Rentan tujuh hari itu, ia dapat menuntaskan pesanan 5 cangkir dan satu 1 teko. ”Harga jualnya Rp 15 ribu untuk 1 buah cangkir.

Sedangkan harga jual satu teko Rp 70 ribu,” imbuhnya. Selama ini, para perajin masih menggunakan peralatan manual. Yakni, gergaji, gerinda, kertas gosok, dan lem. Gergaji dimanfaatkan memotong bambu. Gerinda digunakan sebagai alat mengupas serat bambu. Kertas gosok sebagai alat menghaluskan serat saat proses finishing. Serta lem G guna merekatkan pegangan tangan pada cangkir.

Ia menjelaskan, keunikan dari cangkir dan teko berbahan bambu, selain tampak alami juga tidak mudah pecah, seperti gelas kaca biasa. ”Kekuatannya tidak kalah dengan produksi yang dihasilkan mesin,” katanya.

Selain tahan lama dan tahan banting, gelas bambu memiliki tampilan natural. ”Sehingga dapat dimanfaatkan mempercantik keindahan rumah atau menambah kesan alami pada jamuan makan,” terangnya.

Dia menjelaskan, pemasaran rintisan usaha kerajinan sejak tahun 2016 hingga sekarang ini baru mengandalkan momen-momen tertentu. Seperti bulan Ramadan.  Sebab, di bulan suci ini banyak pesanan mengalir dari luar kota.

Bahkan, di antara pemesan, meluangkan waktu mendatangi rumah-rumah perajin langsung di Desa Rejosari. ”Biasanya untuk asesoris ruangan rumah, persiapan Hari Raya Idul Fitri,” imbuhnya. Selain Ramadan, diakui Sukiadi, perajin sengaja untuk tidak memproduksi. ”Sebab, minim pembeli,” jelasnya.

Namun, sekarang Pemerintah Desa Rejosari berencana membudidayakan tanaman bambu ini dengan membuka objek wisata bambu. Di mana, nantinya pemerintah desa akan menjadikan hasil karya para perajin sebagai suvenir khas Desa Rejosari. ”Dengan adanya wisata bambu ini, nantinya menjadi peluang besar bagi para perajin dalam memasarkan karya mereka,” tandasnya.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia