Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Lahirnya Gerakan Rukun Tani di Mojokerto (2)

Rukun Tani Memilih Berafiliasi dengan Gerakan Politik

05 September 2019, 12: 06: 38 WIB | editor : Imron Arlado

Petani sedang memanen hasil pertanian mereka.

Petani sedang memanen hasil pertanian mereka. (Istimewa for radarmojokerto.id)

PADA tahun 1935, PBI memutuskan meleburkan diri dalam sebuah wadah baru yang dinamakan Partai Indonesia Raya (Parindra). Selain itu, PBI sepakat menyatukan diri dengan Budi Utomo dan beberapa organisasi kedaerahan yang satu visi dengan dr Soetomo.

Setelah itu, Rukun Tani juga ikut berafiliasi dalam Parindra. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, Parindra sempat memfasilitasi orasi terbuka di Gedung Pertemuan Mojokerto. Soedjono tampil sebagai pembicara mewakili Pengurus Parindra Mojokerto M. Pamoeji yang berhalangan hadir dalam kegiatan yang digelar 19 November 1938 itu.

Dalam pidatonya, Seojono menyampaikan bahwa Parindra adalah murni organisasi politik. ’’Tetapi kegiatannya tidak hanya urusan politik, karena ada bidang lain yang dilakukannya. Seperti mengayomi petani dalam Rukun Tani,’’ sambung Yuhan.

Soedjono juga menyebut jika pertanian adalah bidang utama pekerjaan masyarakat saat itu. Sedikitnya, ada 80 persen penduduk menjadi petani. Sedangkan 20 persen sisanya bekerja sebagai pegawai, pedagang, dan buruh.

Seiring meningkatnya populasi, para petani justru dihadapkan dengan tidak adanya pembukaan lahan pertanian baru. Di sisi lain, petani yang menghasilkan bahan pangan juga belum mendapatkan perhatian. Kesulitan lainnya adalah karena petani banyak yang terjerat kredit.

’’Kredit itu biasa ditawarkan oleh semacam rentenir yang datang ke desa-desa,’’ papar Mantan Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini. Setidaknya, sebanyak 71 persen dari kalangan petani terjerat utang. Sehingga, permasalahan itu harus segera disikapi dengan saling bekerja sama di antara petani sendiri.

Seperti yang telah dilakukan oleh Rukun Tani Lumajang yang sudah sukses melakukan gerakan ekonomi. Itu menyusul telah mampu mendirikan sekolah. Tak hanya itu, peralatan sekolah juga diberikan secara cuma-cuma bagi anak dari para anggotanya.

Yuhan menambahkan, Parindra merupakan partai politik terbesar di Mojokerto pada masa itu. Para tokohnya ikut mewarnai percaturan politik dalam dewan perwakilan yang dibentuk oleh pemerintah kolonial.

Tokoh Parindra Mojokerto adalah RP. Soeroso pasca keluar. Pahlawan nasional yang dijuluki sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia itu bergabung setelah keluar dari Sarekat Islam. ’’Oleh karena itu, organisasi Rukun Tani di wilayah Mojokerto saat itu juga berkembang cukup baik untuk membela nasib para petani,’’ pungkasnya. (ram/abi)

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia