Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Truk Membandel, Rambu Larangan Masuk Kota di Jam Tertentu Diabaikan

03 September 2019, 13: 08: 23 WIB | editor : Mochamad Chariris

Truk melintas di jembatan Jalan Gajah Mada Kota Mojokerto menuju Jalan Raya Jetis-Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Truk melintas di jembatan Jalan Gajah Mada Kota Mojokerto menuju Jalan Raya Jetis-Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Truk atau roda enam ke atas masuk kawasan Kota Mojokerto di jam larangan belum sepenuhnya menaati rambu-rambu lalu lintas. Pengemudi masih membandel dengan menerabas rambu larangan yang terpasang.

Setidaknya itu, terpantau memasuki jembatan Jalan Gajah Mada, Kecamatan Magersari. Dalam hitungan menit, tercatat puluhan truk tampak lalu lalang keluar masuk kota. ''Para pengemudi truk yang menerabas rambu larangan seakan sudah terbiasa,'' tutur Hasan, pengendara motor kepada radarmojokerto.id.

Kondisi ini hampir setiap hari terjadi. Padahal, di sisi utara Jembatan Gajah Mada atau dari Jalan Raya Jetis-Gedeg, Kabupaten Mojokerto, rambu larang terpasang jelas. Menjelaskan, truk atau roda enam ke atas dilarang melintas, berlaku dari pukul 06.00-18.00.

”Kalau tidak ada tindakan, ya Rambu-rambunya seakan muspro. Apalagi, banyak kendaraan di depan pertokoan bongkar muat area trotoar jalan," imbuhnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Januari lalu setelah ada insiden truk menyasar mobil dinas patroli Satsabhara Polresta Mojokerto di simpang Jalan Kartini-Jalan Majapahit saat mengawal tahanan Lapas Kelas IIB Kota Mojokerto menuju PN Mojokerto.

Polisi seakan tak memberi ruang gerak bagi para truk yang masih masuk wilayah kota. Mereka yang terjaring langsung ditindak. Penyitaan kendaraan juga dilakukan jika pengemudi terbukti beberapa kali melanggar. "Sekarang, yang sering razia sepeda motor. Untuk truk sudah jarang. Buktinya, setiap hari masih banyak truk masuk kota,'' terangnya.

Padahal, selain melanggar UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan jalan, kondisi itu menambah kesemrawutan jantung kota. Banyak truk pengangkut material galian C (sirtu) membahayakan pengguna jalan. Khususnya roda dua. Di mana truk tersebut kerap menimbulkan debu karena bak truk tidak ditutup menggunakan terpal.

''Jelas rawan kecelakaan jika debu sirtu kena mata pengendara roda dua,'' pungkasnya. Kasatlantas Polresta Mojokerto AKP Marita Dyah belum bisa berkomentar. Pihaknya masih mengikuti rapat di Polda Jatim.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia