Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Kreasi Batik Ecoprint, Lebih Ramah Lingkungan, Motif Pakai Dedaunan

02 September 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sri Mujiatim menunjukkan karya batik dengan motif daun Surya Majapahit dari hasil teknik ecoprint di rumahnya, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Sri Mujiatim menunjukkan karya batik dengan motif daun Surya Majapahit dari hasil teknik ecoprint di rumahnya, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Kerajinan batik identik dengan menciptakan motif di atas permukaan kain dengan cara mencanting.

Seiring perkembangannya, ada pula melakukan dengan teknik cap maupun jumput. Selain itu, ada lagi yang saat ini sedang tren, yaitu batik ecoprint. Motif batik yang dihasilkan hanya berasal dari aneka jenis daun.

DI Kabupaten Mojokerto, tidak banyak perajin batik yang telah menerapkan teknik ecoprint. Salah satunya yang sudah menerapkannya adalah Sri Mujiatim, pembatik asal Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.

Sudah dua tahun ini dia mulai mengembangkan pembuatan kain batik ecoprint. Selama menekuni dunia batik sejak 2011 lalu, teknik ecoprint ini tergolong cara baru yang dicoba oleh Sri Mujiatim.

Dia mengaku tertarik karena dianggap lebih ramah lingkungan dibanding dengan cara sintetis. Sebab, seluruh proses pembuatannya hanya mengggunakan bahan baku dari alam. Mulai dari pembuatan motif batik hingga tahap pewarnaan. ’’Teknik membatiknya pakai daun warna alami,’’ terangnya.

Ya, teknik ini tergolong cukup unik. Karena motif batik yang dihasilkan berasal dari serat dan bentuk asli dari dedaunan. Sebenarnya ada beberapa cara dalam pembuatan batik ecoprint. Namun, Sri Mujiatim memilih dengan cara steam atau penguapan dengan cara dikukus.

Proses awalnya, dia menyiapkan sejumlah jenis daun yang akan dijadikan sebagai bahan membatik. Kemudian, daun ditempelkan di atas permukaan kain. Kain dilipat dengan cara digulung.

Lalu gulungan tersebut diuap dengan cara dikukus agar motifnya bisa menempel pada permukaan kain. ’’Kurang lebih prosesnya cukup dua jam,’’ urainya.Dia mengatakan, tidak semua jenis daun bisa dibuat ecoprint.

Menurutnya, daun yang bisa digunakan adalah yang tidak banyak mengandung air. Tak kalah pentingnya juga adalah daun yang memiliki kandungan warna alami.

Sejauh ini, yang mampu menghasilkan warna alami yang kuat adalah daun jati. Selain itu, jenis tumbuhan lain yang pernah dia terapkan adalah daun tanaman jarak, daun tinta atau mangsi, daun keres, daun arbei, serta daun ungu.

Setiap jenis daun juga memiliki karekteristik motif dan warna tersendiri. ’’Biasanya saya ambil daun yang tumbuh di sekitar rumah saja. Awalnya saya coba dulu bisa dipakai atau tidak untuk membatik,’’ ujarnya.

Sayangnnya, dia mengaku cukup kesulitan untuk mencari bahan baku pada musim kemarau. Sebab, daun yang digunakan merupakan daun yang muda. Sementara saat kemarau saat ini, sangat jarang tumbuhan yang daunnya bersemi.

Di samping alami, caranya tersebut juga dianggap lebih cepat dan mudah. Ibu dua anak ini menjelaskan, setelah proses steam, kain batik cukup diangin-anginkan selama 4-7 hari. Itu dilakukan agar warna bisa meresap sempurna ke dalam kain.

Munculnya warna juga tergantung dari proses fiksasi atau penguatan warna. Tahap akhir dalam proses membatik ini juga menggunakan bahan dari alam. Untuk dapat menghasilkan warna yang terang, dia menggunakan bahan tawas.

Sementara untuk sedikit lebih gelap menggunakan bahan kapur. Jika menghendaki warna yang lebih gelap atau kehitaman, Sri Mujiatim melakukan fiksasi dengan bahan tunjung.

Sri Mujiatim menambahkan, selain karena lebih ramah lingkungan, ketertarikannya untuk menggeluti ecoprint tidak lepas karena motif alam saat ini tengah ngetren di kalangan pecinta batik. Khususnya pangsa pasar yang ada di kota-kota besar.

Untuk itu, sejak dua tahun terakhir dia mulai mengembangkan dengan mengikuti pelatihan dan belajar pada teman sesama pembatik. Di sisi lain, cara baru tersebut juga untuk memperkaya kreasi dan motif yang dihasilkan.

Terlebih, tempat tinggalnya di desa Bejijong, Kecamatan Trowulan juga menjadi salah satu jujukan wisata di Kabupaten Mojokerto. Selain destinasi wisata sejarah, para pelancong juga memburu buah tangan untuk dibawa pulang.

Untuk itu, dia juga berkreasi dengan mengusung kearifan lokal. Dengan bahan dari daun, Sri Mujiatim membuat motif khas Surya Majapahit. Menurutnya, tujuan diterapkannya motif tersebut agar menjadi identitas batik khas Mojokerto yang notabene merupakan tempat berdirinya Kerajaan Majapahit.

’’Jadi kalau ada wisatawan yang datang ke sini (Trowulan, red) bisa mengenal batik khas dari Mojokerto. Makanya saya masukkan juga motif khas Majapahitan dari daun,’’ tutur perempuan kelahiran 23 November 1976 ini.

Dengan corak dan nilai motif yang alami, produk batik ecoprint juga bernilai ekonomis cukup tinggi di pasaran. Bahkan harganya hampir sama dengan batik tulis. Untuk selembar kain dengan lebar 2 meter x 115 sentimeter, dibanderol dengan harga Rp 300 ribu.

Selain itu, Sri Mujiatim juga mengaplikasikan batik motif daun tersebut ke dalam model hijab. Untuk jenis pashmina ukuran 175 cm x 60 cm dijual dengan harga Rp 100 ribu. Sedangkan untuk jenis segi empat ukuran 90 cm meter persegi rata-rata dijual Rp 60 ribu.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia