Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Obrolan Peran Politisi Muda Bersama Amirudin

Pemuda Itu Punya Idealisme, Kreativitas, Inovatif, dan Dinamis

02 September 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Amirudin bersama istri menjelang pelantikan DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2019-2024 di kantor DPC PKB.

Amirudin bersama istri menjelang pelantikan DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2019-2024 di kantor DPC PKB. (Moch. Chariris/radarmojokerto.id)

DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2019-2024 tak lagi didominasi politisi senior. Muncul wajah-wajah baru yang lebih fresh. Mereka bakal mewarnai dinamisasi parlemen selama lima tahun ke depan.

Bahkan, bersiap menyuarakan mimpi-mimpi masyarakat, termasuk harapan kalangan milenial lewat perjuangan legislasi. Berikut bincang-bincang Jawa Pos Radar Mojokerrto Farisma Romawan tentang peran politisi muda bersama anggota F-PKB, Amirudin.

Apa yang mendorong Anda tertarik menerjuni politik?

Dulunya, berawal dari proses belajar dan pengalaman organisasi. Saya melihat politik itu himmah (semangat), dan wasilah mencapai cita-cita besar. Ketika dulu di organisasi mendampingi orang marginal, kita butuh dukungan politik kan? Jadi, menurut saya politik itu hikmah (kebijaksanaan) menggunakan kekuasaan untuk kemanfaatan.

Kenapa jatuh cinta dengan PKB?

Berpolitik itu ibadah dan ber-PKB itu berkah. Pastinya, kita orang NU di Jawa Timur (Jatim) khususnya, punya runtutan sejarah dengan PKB. Apalagi, pesantren dan santri. Pendiri PKB itu kiai dan pengurus NU. Dan, PKB mayoritas diisi oleh kaum muda yang selalu menghadirkan diskusi politik yang riang gembira. Tentu, dengan arahan dari para kiai dan bu nyai.

Dimana semestinya peran politisi muda mewarnai panggung politik?

Pemuda itu punya idealisme, kreativitas, dan inovasi. Kalau di politik, politik muda ini cenderung dikenal fleksibel. Tidak suka formal-formal. Nah, dari sikap pemuda itu maka peranannya dinamis. Politisi muda bisa menjadi bawahan yang kreatif. Mengusulkan agenda-agenda politik sesuai dengan kebutuhan zaman.

Demikian juga bisa menjadi pemimpin yang inovatif. Jadi, dia punya ide, tapi juga mau menjalankan dengan seksama. Yang terpenting bagi politisi muda ialah menghilangkan keengganan untuk berpikir dan menjalankam cita-cita yang sudah disematkan. Sebab, mereka juga akan menjadi contoh bagi generasi lainnya.

Pasca dilantik sebagai anggota dewan, apa yang Anda persiapkan?

Pesiapannya lebih banyak pada niat dan menjaga mental. Meski saya sudah lama hidup di politik, tapi menjadi wakil rakyat ini memang baru pertama. Maka, niatan yang baik harus didahulukan. Dan, menjaga cita-cita dan janji politik saya agar tidak terjerumus pada aktivitas yang melanggar aturan.

Mewakili kaum milenial, tanggapan Anda soal IT dan bisnis startup?

Sebelum membahas startup, kita perlu pahami dulu dua aspek kehidupan milenial. Pertama, teknologi informasi (TI), dan kedua mental entrepreneurship. Kadang, kita melihat anak muda paham dan tahu cara membuat startup, tapi tidak bisa memiliki keberanian untuk bertindak mengembangkan sebagai produk bisnis.

Di pihak berbeda, banyak dari anak muda yang enggan memanfaatkan startup, tapi dia sudah memulai dunia usaha secara tradisional, melalui medsos misalnya. Ke depan formulasinya harus diperbaiki. Kita bisa lihat anak Presiden Jokowi yang pertama (Gibran Rakabuming Raka). Dia punya aplikasi untuk masyarakat. Di pihak yang lain dia juga berbisnis sendiri. Jadi integral.

Hal-hal apakah yang selama ini belum tersentuh perhatian?

Berkaitan dengan startup dan bisnis kelompok milenial, bagi saya, pemerintah daerah memang masih setengah hati. Mereka ada pada status quo: antara berpikir klasik dan modern. Idealnya, pemerintah daerah harus adaptif dan komunikatif.

Seharusnya pemuda kekinian menghadapi tantangan zaman?

Jawabannya satu. Mempersiapkan diri untuk beradaptasi. Tugas pemuda mempelajari kemungkinan-kemungkinan dan kecenderungan perubahan global, nasional, dan lokal. Tugas pemerintah memberikan arahan ke mana idealnya mereka harus bertindak.

Kalau melihat dari skala nasional, cita-cita membangun SDM unggul itu tagline yang sudah sangat benar. Jadi, kita perlu berbenah dari sisi sumber daya manusia (SDM), bukan sekadar infrastruktur yang akan dipakai manusia itu sendiri. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia