Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Krisis Air Bersih, Gantikan Mandi, Angin-Anginkan Tubuh di Atas Bukit

02 September 2019, 19: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga bersama putrinya mengisi jeriken di penampungan air Dusun Kandangan 2, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Warga bersama putrinya mengisi jeriken di penampungan air Dusun Kandangan 2, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. (Sholihin/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Musim kemarau panjang tak kunjung berlalu benar-benar dirasakan warga terdampak kekeringan. Kebutuhan air bersih untuk memasak dan MCK pun masih mengandalkan bantuan.

Bahkan, untuk menghemat air, warga di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro harus naik bukti untuk sekadar membersihkan badan dengan mencari udara segar. Hal itu sekaligus sebagai pengganti mandi.

Ya, tiga dusun di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, masih dilanda kekeringan atau krisis air bersih. Tiga dusun itu adalah Dusun Kandangan, Dusun Kandangan 2, dan Dusun Sumber Telogo. Belakangan ini, warga hanya mengandalkan bantuan pengiriman air bersih yang disuplai dari Trawas oleh pemerintah daerah dan swasta.

Sebelumnya, warga biasa mengambil air bersih menggunakan motor untuk mengangkut satu hingga dua jeriken. Jika dihitung sesuai kebutuhan, untuk satu minggu, setidaknya warga mengandalkan penampungan air dengan kapasitas 1.000 liter air bersih.

Ketua Dusun Sekantong 2, Desa Konjorowesi Jumpin menuturkan, selama ini warga yang tinggal di tiga dusun tersebut mengalami kekurangan air bersih. Kendati pun bantuan air bersih masih mengalir terkadang pengiriman mengalami keterlambatan hingga tiga hari.

”Terbatasnya air bersih di penampungan membuat masyarakat harus efektif memanfaatkannya,” katanya. Semisal, lanjut Jumpin, warga terpaksa mandi satu kali sehari. Selebihnya dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak dan mencuci pakaian. Dia menjelaskan, di Dusun Kandangan selama ini terdapat 8 tangki penampungan.

Dari situ, setiap rumah disediakan 5-7 jeriken dengan masing-masing jeriken berkapasitas 30 liter. ”Itu untuk kebutuhan jika terjadi keterlambatan pengiriman air bersih,” tandasnya. Dia menceritakan, jika air bersih di penampungan benar-benar habis warga terpaksa mengambil air sendiri ke sumber air di Dusun Sekantong, Desa Kunjorowesi.

Jarak tempuhnya selama kurang lebih 30 menit perjalanan mengendarai sepeda motor. ”Untuk warga yang tidak ada punya motor ya terpaksa memikul satu atau dua jeriken sambil jalan kaki,” paparnya.

Sementara, jika sumber di Dusun Sekantong mengalami antrean, warga terbiasa beralih menuju sumber air bersih di Sumber Tetek. Di mana, lokasi sumber tersebut memasuki wilayah Kabupaten Pasuruan. ”Meski kadang dimarahi warga setempat akibat mengambil air di sana. Kalau saya tetep mengambil air,” lanjutnya.

Terbatasnya air bersih ini memaksa warga untuk menunda cuci pakain mereka. Setidaknya, warga baru bisa mencuci pakaian satu minggu sekali. Itupun hanya dengan sedikit membasahi pakaian kemudian dibilas satu kali. ”Yang penting cukup untuk membersihkan bau dan kotoran,” tambah Sarofa, warga lainnya.

Karenanya, istilah mandi angin sudah menjadi kebiasaan bagi warga setempat. Kadang mereka baru membersihkan tubuh atau mandi dengan air bersih tiga hari sekali. Tepatnya, saat pengiriman bantuan air bersih datang walau terlambat.

”Kalau sudah demikian kami biasanya mencari bukit yang mengandung udara segar untuk mengeringkan keringat,” terang Sarofa. ”Alhamdulillah, tahun ini pengiriman bantuan air bersih mulai normal, kendati kadang datangnya terlambat,” pungkas Jumpin. (sholihin)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia