Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Predator Sembilan Anak Bakal Dieksekusi Kebiri

26 Agustus 2019, 20: 27: 53 WIB | editor : Mochamad Chariris

Predator Sembilan Anak Bakal Dieksekusi Kebiri

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Langkah Muhammad Aris, 21, warga Mangelo Tengah, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, mengais keadilan di Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur (Jatim), akhirnya kandas.

Ia tetap harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun, denda Rp 100 juta, serta pidana tambahan berupa kebiri medis.  Predator sembilan anak ini dihukum berat lantaran memiliki perilaku yang tak manusiawi.

Ia terbukti, telah menggagahi sembilan bocah bahkan di antaranya balita, untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Dalam waktu dekat, ia dipastikan tak bisa mengalami ereksi lagi. Menyusul, rencana Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto yang akan segera mengeksekusinya. Eksekusi berupa kebiri akan dilakukan tim medis.

Kajari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono mengatakan, saat ini, rencana eksekusi sedang dimatangkan oleh jaksa eksekutor. ’’Saya sudah memerintahkan jaksa eksekutor untuk segera mencari dokter,’’ ungkapnya. Ia menambahkan, rencana eksekusi akan dilangsungkan dalam waktu dekat setelah kejari mengantongi putusan Pengadilan Tinggi (PT) Jatim atas kasus tersebut.

Kasus ini telah dinyatakan inkracht setelah terpidana tak mengajukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung (MA). ’’Putusan PT tepat 8 Agustus lalu,’’ tandas Rudy. Nantinya, jaksa eksekutor akan mendatangkan tim dokter untuk melakukan pengebirian. Proses kebiri dilakukan agar terpidana tak lagi mengalami ereksi hingga seumur hidup.

JPU M. Syarief Simatupang, SH, menambahkan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan sejumlah dokter spesialis. ’’Kita sudah komunikasi dengan dokter. Dan, akan segera melangkah,’’ jelasnya singkat.

Salah satu langkahnya, yakni dengan mengajukan surat resmi ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Nantinya, IDI akan mendelegasikan dokter spesialis untuk menjalankan putusan pengadilan tersebut. Sementara itu, kuasa hukum Aris, Handoyo, SH, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto mengatakan, pihaknya belum menerima salinan putusan PT tersebut. Karena langkah hukum ke PT Jatim, dilakukan oleh keluarga Aris.

’’Sampai detik ini, saya belum tahu,’’ jelasnya. Meski mengaku belum mengetahui salinan putusan, namun ia mengkritik putusan yang dijatuhkan hakim di tingkat PN Mojokerto. Menurutnya, putusan itu sangat berat karena harus ditanggung seumur hidup. ’’Menurut saya, cukup lah hukuman badan. Karena sudah sangat berat,’’ jelasnya.

Hukuman tambahan berupa kebiri yang dijatuhkan hakim, kata Handoyo, dianggap tidak manusiawi. ’’Apalagi, klien saya itu juga kurang normal. Ada yang beda. Seperti orang yang sedang nglakoni,’’ pungkasnya.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia