Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Doakan Negeri di Pelataran Candi, Peserta Nyalakan Lilin Perdamaian

22 Agustus 2019, 21: 16: 02 WIB | editor : Mochamad Chariris

Anggota komunitas mencium sang saka usai melakukan doa bersama di pelataran Candi Brahu, Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Selasa (20/8) malam.

Anggota komunitas mencium sang saka usai melakukan doa bersama di pelataran Candi Brahu, Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Selasa (20/8) malam. (Imron Arlado/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Negara lain sudah merayakan hari kemerdekaannya dengan meriah. Namun, di negeri ini, peringatan HUT Ke 74 Kemerdekaan RI, justru diwarnai polemik kisruh antarsuku di Papua.

Hal inilah yang menjadi keprihatinan 50-an pemuda dari lintas komunitas dan agama, Selasa (20/8) malam. Di Candi Brahu, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, mereka menyalakan lilin dan menggelar doa bersama, agar negeri ini tetap damai dalam pelukan pertiwi.

Nanang Moeni, salah satu anggota komunitas Save Trowulan mengatakan, sebagai anak bangsa, ia mengaku miris melihat kondisi negeri yang masih carut-marut. Sesama anak negeri masih saling ribut. ’’Semoga, lantunan doa yang dipanjatkan, membuat bangsa ini tetap Bhinneka Tunggal Eka. Mengembalikan kodratnya sebagai negara yang besar, luhur, dan bukan negara yang baru lahir,’’ jelasnya.

Dipilihnya Candi Brahu sebagai lokasi berdoa, kata Nanang Moeni, bukan tanpa alasan. ’’Di candi Brahu ini, nusantara pernah bersatu. Kerajaan Majapahit telah mengalami kejayaan besar dan diakui oleh lima Benua,’’ tegas pria berambut gondrong ini. Perbedaan yang ada di negeri ini, seharusnya disyukuri. Bukan malah menjadi pangkal persoalan.

’’Apa pun sukunya, apa pun warna pakaian, kita tetap satu. Satu mahluk Tuhan, satu nusantara,’’ ungkap Nanang. Sementara itu, Tono Amboro, anggota komunitas yang lain menceritakan, doa yang dilantunkan bersama itu diharapkan mampu menjaga keuntuhan negeri ini. Dan, Papua tetap menjadi bagian dari NKRI.

Bagi dia, silang sengkarut dalam sebuah bangsa adalah persoalan biasa Namun, harus segera diselesaikan. ’’Semoga, apa yang telah kita panjatkan, apa yang dialami bangsa ini segera berdamai. Dari Ibu Kota Majapahit, semoga bangsa ini kembali berdamai lagi,’’ pungkasnya.

Selain bergantian melantunkan doa, momen ini juga diwarnai pembacaan puisi karya Ahmad Gani. Di tengah suasana candi yang sangat gelap, prosesi ini berakhir jelang dini hari. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia