Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Jejak Masa Kecil Soekarno di Mojokerto (2)

Dikenal Sangat Pintar, Jiwa Kepemimpinan Tumbuh dari Usia 10 Tahun

17 Agustus 2019, 05: 15: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Rumah di Jalan Gajah Mada Nomor 82 yang dulu menjadi tempat tinggal keluarga Soekarno semasa kecil di Kota Mojokerto.

Rumah di Jalan Gajah Mada Nomor 82 yang dulu menjadi tempat tinggal keluarga Soekarno semasa kecil di Kota Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

SEMASA anak-anak, karakter pribadi Soekarno mulai tumbuh. Embrio jiwa kepemimpinannya juga mulai tampak. Saat menginjak umur 10 tahun, Koesno kecil memiliki kemauan keras. Setidaknya, kepribadiannya tersebut menjadikannya sebagai sosok yang menonjol di kalangan anak-anak sebayanya.

Seiring bertambahnya usia, karakternya terus berkembang. Ketika usia 12 tahun, Soekarno memiliki semacam kelompok bermain. Dan, putra R. Soekemi itu yang ditunjuk sebagai pemimpin dari kelompoknya. ”Soekarno itu pintar, tidak dari sisi akademis saja. Tetapi jiwa kepemimpinannya juga mulai muncul saat di Mojokerto,” imbuh Kepala Disparpora Kota Mojokerto, Novi Rahardjo.

Sebab, apa pun yang dilakukan Soekarno, teman-teman yang lain pasti akan mengikutinya. Itu digambarkan ketika bermain jangkrik di tengah Alun-Alun Kota Mojokerto, anak-anak pribumi yang lain juga melakukan hal yang sama. Pun demikian saat Soekarno mengoleksi prangko yang kemudian diikuti oleh kelompoknya.

Di sisi lain, pada saat itu, Soekarno juga tidak mau kalah dengan anak-anak yang lain. Anak yang lahir 6 Juni 1901 saat fajar ini berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam berbagai hal. ”Contoh kecil saat memenjat pohon, dia (Soekarno) akan memanjat lebih tinggi daripada anak-anak yang lain,” ujarnya.

Meski risiko yang dihadapi juga lebih besar, namun Soekarno memiliki keberanian untuk menghadapi. Oleh sebab itu, tidak jarang bocah kecil itu terjatuh dan kepalanya luka lantaran kemauan kerasnya memanjat pohon lebih tinggi.

Soekano pun menuliskan, bahwa semasa beranjak remaja itu lah wataknya mulai terbentuk. Tak hanya itu, Novi menceritakan, tumbuhnya karakter dan kepribadian Soekarno tidak lepas dari orang-orang di sekitarnya. Di antaranya adalah Soekemi yang mendidik putra keduanya itu untuk disiplin. Sebagai seorang guru, Soekemi lah yang menggembleng Soekarno untuk membaca dan menulis.

Disebutkan dalam Mojokerto: Kepedihan di Masa Muda (dalam buku Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia), ayahnya mendidik dengan begitu keras sewaktu tinggal di sebuah rumah sewa di Kota Mojokerto. Bahkan, ketika melakukan kesalahan atau tidak mau menuruti perintah ayahnya, Soekemi tak segan melayangkan pukulan menggunakan rotan kepada Soekarno.

Novi menceritakan, pernah suatu ketika Soekarno yang hobi bermain ke sungai pulang setelah matahari tenggelam. Dengan maksud mencari ikan sebagai lauk pauk untuk makan malamnya, Soekemi tetap menghukum Soekarno. ”Dia (Soekarno) dipukul bapaknya, karena baru pulang melewati Magrib,” paparnya.

Namun, hal itu semata dilakukan sebagai cara cara mendidik seorang anak kepada anaknya. Sebab, Soekami memiliki keyakinan, bahwa anaknya akan tumbuh menjadi sosok pemimpin. Sebab, di sisi lain, Soekmi juga sangat sayang terhadap putranya tersebut. Itu digambarkan ketika Soekarno jatuh sakit keras ketika masih tinggal di rumah di Jalan Timur (sekarang Jalan Gajah Mada).

Kala itu, putra bernama asli Koesno terserang penyakit tifus yang membuat terbaring kurang lebih 2,5 bulan. Selama itu pula, setiap siang dan malam Soekemi berbaring mendampingi putranya di sebuah kamar sempit dan lembab di rumah sewa itu. Kuat dugaan, penyakit yang menyerang Putera Sang Fajar (julukan Soekarno) akibat banjir yang masuk ke rumah dan menggenangi halamannya.

Ya, sepanjang musim penghujan Desember sampai April sungai atau kanal di kota kerap meluap. Setelah sembuh, keluarganya memutuskan untuk pindah rumah untuk menghindari banjir. ”Ayahnya Bung Karno (Soekemi) kemudian menyewa rumah lagi di Jalan Residen Pamuji,” paparnya.

Besar kemungkinan, pergantian nama Koesno menjadi Soekarno dilakukan hampir bersamaan dengan perpindahan rumah tersebut. Sang proklamator menyebutkan, bahwa pergantian nama lantaran semasa kecil kerap sakit-sakitan. Puncaknya pada saat di Mojokerto saat terserang tifus yang nyaris mengancam jiwa Soekarno.

Pergantian semacam itu lazim dilakukan bagi sebagian orang Jawa dengan tujuan tertentu. Hingga akhirnya, Soekemi memberi nama baru Karna (Karno; ejaan Jawa) sebagai pengganti Koesno. Nama tersebut diambil dari salah satu tokoh cerita klasik Mahabarata yang berarti sosok kuat dan besar. Kemudian di depannya diberi awalan Soe (Su) yang berati paling baik. Sejak saat itu melekatlah nama Soekarno kepada sang Proklamator Kemerdekaan RI ini. 

Sepeninggal keluarga Soekarno, rumah sewa tersebut sempat dijadikan sebagai Losmen atau Hotel Merdeka. Sedangkan saat ini, bangunan tepat di sebelah utara Pasar Tanjung Anyar itu menjadi sebuah toko kue (Bo Liem). Seokarno menginggalkan Mojokerto pada kisaran usia 15 tahun.

”Jadi, Soekarno berada di Mojokerto kurang lebih selama sembilan tahun. Kemudian pindah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikannya,” pungkasnya. (rizal amrulloh)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia