Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Jejak Masa Kecil Soekarno di Mojokerto (1)

Dibesarkan dari Keluarga Sederhana, Tinggal di Rumah Sewa

16 Agustus 2019, 23: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi Soekarno masa kecil di Mojokerto.

Ilustrasi Soekarno masa kecil di Mojokerto. (Nadzir/radarmojokerto.id)

Soekarno merupakan tokoh besar nasional, karena memiliki peran penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Pada 17 Agustus 1945 lalu, sosok karismatik yang dikenal dengan Bung Karno ini memproklamirkan Kemerdekaan RI dari penjajah Belanda.

DI usianya yang baru menginjak 44 tahun, Soekarno dipercaya rakyat untuk menduduki kursi Presiden RI pertama. Tokoh kelahiran Surabaya, Jawa Timur (Jatim), 6 Juni 1901 ini sejak muda memang dikenal memiliki jiwa kepemimpinan.

Bahkan, embrio itu telah tumbuh sejak usia anak-anak. Semasa kecil, putra dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ini dilahirkan dengan nama Koesno.

Saat memasuki usia taman kanak-kanak (TK), Koesno awalnya tinggal bersama nenek dari bapaknya di Tulungagung. Kemudian pindah lagi ke Ploso, Kabupaten Jombang, karena tuntutan tugas dari bapaknya yang berprofesi sebagai guru.

Tetapi, Koesno tidak lama tinggal di Kota Santri tersebut. Keluarga Soekemi kembali pindah untuk mengajar di Inlandsche School di Kota Mojokerto. Soekarno menginjakkan kaki pertama kali di Kota Onde-Onde kisaran tahun 1907.

”Soekarno pindah ke Mojokerto saat usia enam tahun,” terang Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Mojokerto, Novi Rahardjo.

Dia memaparkan, kisah kecil masa hidupnya tertulis dalam buku biografi, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Novi memaparkan, dijelaskan dalam buku karya Cindy Adams itu, bahwa Koesno bersama keluarganya tinggal di Jalan Oostenweg atau Jalan Timur Nomor 88.

Nama jalan tersebut kemudian diubah menjadi Jalan Pahlawan. Selanjutnya namanya kembali berganti dengan Jalan Gajah Mada sampai saat ini. Menurutnya, tempat tinggalnya kala itu tergolong sangat sederhana.

Karena hanya berdinding semi permanen dari bambu. ”Saat itu rumah tinggalnya menyewa,” paparnya. Dia menjelaskan, rumah sewa keluarga Soekarno terletak di dekat sebuah sungai buatan atau kanal Jagalan. Aliran kanal tersebut hampir tidak pernah kering sepanjang tahun.

Bahkan, ketika musim penghujan tiba, air sungai kerap meluap hingga menggenangi halaman dan masuk rumah keluarga Soekarno. ”Rumah itu kini digunakan untuk dealer Gemini di Jalan Gajah Mada (Nomor 82),” terangnya.

Novi melanjutkan, selain Bung Karno, Soekemi juga tinggal bersama anak sulungnya Soekarmini. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Soekarno. Kehidupan keluarganya tergolong dalam kondisi serbakekurangan.

Bahkan, lebih dari separo gaji bulanan bapaknya sebagai mantri guru harus dihabiskan untuk biaya sewa rumah. ”Kehidupannya sangat miskin, bahkan jarang bisa makan nasi. Lebih sering justru makan gaplek,” ulasnya.

Keluarga Soekemi memang lebih sering mengolah bahan makanan dari ubi kayu dan jagung yang ditumbuk dengan makanan lain itu. Bahkan, dalam biografinya, Soekarno juga menyebutkan bahwa orang tuanya tidak mampu membeli beras.

Untuk bisa makan nasi saja ibunya hanya mampu membeli gabah atau padi. Dengen demikian, setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Soekarno harus membantunya menumbuk hingga menjadi bulir beras.

Kemelaratannya juga digambarkan dalam hal permainan. Sewaktu kecil, Bung Karno juga hampir tidak memiliki mainan. Seperti kebanyakan anak kota yang lain. Novi megatakan, Soekarno lebih sering menghabiskan waktu bermain di sungai.

”Untuk membeli makanan saja Pak Karno kesulitan, apalagi mainan. Jadi, saat anak-anak lain mainan petasan atau kelereng, dia tidak bisa,” imbuhnya. Soekarno lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar rumahnya dengan permainan yang tidak mengeluarkan uang.

Yaitu, dengan bermain seluncuran memanfaatkan daun dari pohon dekat rumahnya, serta bermain ke sungai. ”Saat kecil dia (Soekarno) sering mencari ikan di sungai,” tandas mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto ini.

Pada suatu hari, Soekarno merasa kegirangan ketika ada seorang tamu yang datang ke tempat tinggalnya. Rekan Soekemi itu rupanya membawa bingkisan kecil untuk Koesno.

Isi kado tersebut adalah petasan. Keinginannya pun seakan terkabul malam itu. Maklum, semasa kecil dia tidak mampu membeli petasan walau saat itu masih seharga satu sen. (rizal amrulloh)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia