Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Kreasi Vapers, Eksplorasi Coil Builder, Terlindungi Cukai Liquid

12 Agustus 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pengguna vapour menunjukkan bagian vapour miliknya.

Pengguna vapour menunjukkan bagian vapour miliknya. (Fendy Hermansyah/radarmojokerto.id)

Para pengguna vapour-semacam rokok elektrik, nyatanya kian berkembang. Padahal, diperketat dengan adanya aturan hingga beban pajak. Kini, banyak pula yang menjajal sebagai produsen komponen perangkat hisap.

DERETAN warung, kafe, dan restoran di Jalan Benteng Pancasila (Benpas) Kota Mojokerto menjadi tempat nongkrong yang asyik bagi siapa saja. Tak terkecuali bagi komunitas pengguna vapour atau yang akrab disapa vapers. Kongko sore semakin lengkap sembari menghisap vapour kesayangan.

Dari asap yang mengepul tercium aneka aroma buah. Juga, aroma kue-kue creamy. Ringan nan lembut. Satu di antaranya adalah Akbar Khadafi, 29, warga asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Pria lajang ini sudah mengenal vapour sejak tahun 2015.

Pengguna membenahi vapour miliknya.

Pengguna membenahi vapour miliknya. (Fendy Hermansyah/radarmojokerto.id)

Awalnya, dia menjajal rokok elektrik ini sebagai media agar berhenti merokok manual. ’’Tapi, saat itu vape store masih jarang. Jadi, kadang pakai kadang tidak,’’ ujarnya. Vape yang sempat ngehits itu belakangan goyang. Lantaran diterpa berbagai isu. Mulai isu terkait keberadaan bahan beracun, narkoba, tidak adanya cukai atas penggunaan nikotin, hingga berbagai penyelewengan lainnya.

Pun demikian di Kota Mojokerto. Komunitas vapours sempat meredup. Namun, perlahan tapi pasti justru komunitas penyuka vapour ini kian berkembang. Keberadaan vape store kian menjamur. ’’Memang kebanyakan anak muda yang menggemari. Tapi, kalangan pekerja swasta juga banyak,’’ sambung Dafi, sapaan akrab Akbar Khadafi.

Tak diduga, komunitas vaper kini kian menggurita. Bahkan, diketahui vapour belakangan sudah menjadi semacam culture. Itu tak lepas dari industri di dalamnya yang sudah berkembang. Seperangkat alat hisap vapour biasa didapat dengan harga mahal. Mulai dari baterai, head unit, liquid, kapas, dan lain-lain. Belum lagi, kini ada vapour berbentuk mini. Dalam satu perangkat bisa mencapai nilai jutaan rupiah.

’’Memang agak mahal. Tapi, lebih baik dibanding rokok,’’ tukas Dafi. Kenyataan itu agaknya yang menyebabkan vapers kini bertumbuhan. Salah satu pengguna mesin hisap merek tertentu, yakni hexom bahkan menjadi major di Indonesia.

Pria yang sehari-hari sebagai manajer tempat makan ini mengaku mulai menjajal produksi komponen vapour berupa koil. Alias sebagai coil builder. Bersama koleganya, dia mengembangkan koil bikinan mereka sejak empat bulan terakhir ini. ’’Ini karena pasar vapour butuh produk lokal alternatif yang terjangkau,’’ tukas dia.

Di pasaran, produk koil memang gampang ditemukan. Tapi, harganya mahal. Padahal, penggunaannya hanya sebatas 1 minggu hingga satu bulan. ’’Kami bikin yang bahannya sama, tapi harganya murah. Ternyata diterima,’’ sambungnya.

Pembuatan koil untuk head unit vapour itu memang tak mudah. Dia mengaku butuh riset 6 bulan untuk menemukan komposisi dan bentuk koil yang disukai. ’’Karena, koil ini dapat menentukan taste (rasa) hingga kedalaman asap (cloud),’’ tukas Dafi.

Kini, dia memiliki produk bermerek jascoil. Produk koil vapour itu biasa dipasarkan di vape store di Mojokerto. Per bulan, keuntungan bersih yang didapatkan bisa menyentuh Rp 2 juta. ’’Ke depan, kami juga ingin menjajal produksi untuk liquid-nya,’’ sambungnya.

Soal liquid, menjadi komponen penting vapour. Karena memberikan rasa dan menciptakan asap bagi vapers. Cairan bernikotin yang biasa diteteskan di koil berkapas. Sehingga, ketika dihisap, vapers dapat merasakan taste yang ada. Juga, menghisap cloud (asap) aromatik. Sekarang, liquid karena bernikotin sudah dilengkapi dengna cukai.

Dulu, diakui Ageng, vapers Mojokerto memang banyak yang produk lokal tanpa cukai. Bahan-bahannya tidak diketahui dengan jelas bahkan terkesan ilegal. ’’Dulu ada pula yang dicampur narkoba. Harganya mahal. Sekarang sudah hilang semenjak ada liquid cukai,’’ terang pria yang tinggal di Jetis ini.

Pria berbadan kurus ini menyebutkan produk liquid atau cairan vapour sudah banyak dijumpai di pasaran. Kebanyakan sudah bercukai. Ada pun bikinan lokal yang tak bercukai tidak diperjual belikan. ’’Biasanya hanya untuk hadiah saja. Jadi tidak dijualbelikan. Itu bisa di-blacklist,’’ tandasnya.

Produksi liquid yang terjangkau pasaran kini yang tengah ditunggu-tunggu. Karena memang bahan-bahan liquid tidak mudah didapat. Lantaran menggunakan bahan kimiawi yang food grade. Biasanya, barang semacam itu didapat dari luar negeri. ’’Kalau produk liquid lokal baru ada dari Bali. Jadi izinnya sudah ada dan pakai cukai,’’ sambungnya.

Dafi menambahkan, meskipun berharga lebih mahal karena adanya cukai, liquid resmi dianggapnya lebih aman. Selain lebih aman dari sisi kesehatan, juga aman dari penatausahaannya. ’’Bagi vapers tentunya merasa terlindungi dengan adanya cukai,’’ tambah dia. (fendy hermansyah)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia