Rabu, 21 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Jamaah Haji Kembali ke Hotel setelah Lempar Jumrah di Jamarat

12 Agustus 2019, 18: 38: 54 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jamaah haji beristirahat pasca menjalani proses ritual lempar jumrah di Jamarat, Makkah.

Jamaah haji beristirahat pasca menjalani proses ritual lempar jumrah di Jamarat, Makkah. (Basuni/radarmojokerto.id)

MAKKAH, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jamaah haji yang hotelnya berada di sekitaran Jamarat atau tempat melontar jumrah, memilih kembali ke hotelnya setelah melempar jumrah.

Sebab, skema penempatan jamaah yang hotelnya dekat dengan Jamarat (di wilayah Syisyah) akan ditempatkan di Mina Jadid, yang berjarak 7-8 kilometer dari Jamarat. Sementara itu, jarak dari hotel jamaah di wilayah Syisyah ke Jamarat hanya sekitar empat kilometer.

’’Pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian jamaah pilih kembali ke pemondokan, ketimbang ke tenda (Mina ). Setelah lempar jumrah kembali ke pemondokan,’’ kata KH Akhmad Basori karom 9 kloter 61.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, ribuan  jamaah haji asal Jawa Timur, Bali dan NTT yang ada di sektor  Mahbas Jin sebagian dari mereka memilih kembali ke hotel pemondokan usai melempar jumrah dan kembali lagi ke Mina untuk mabit (berdiam diri) di Mina.

Jarak antara tenda di Mina yang berjarak sekitar 5-6 km dengan jamarat menjadi alasan mereka milih kembali ke hotel. Ini lebih dekat antara hotel di Mahbas Jin dengan Jamarat yang berjarak sekitar 1,5 km - 2 km. Sementara, itu ada juga lokasi tenda jamaah berada jauh di Mina Jadid, yang jaraknya 7-8 Km dari Jamarat.

Dari jamaah bahwa jarak hotel mereka lebih dekat dengan Jamarat, ketimbang tenda mereka di Mina Jadid yang jaraknya tujuh kilometer ke Jamarat. ’’Ketika mereka pulang ke pemondokan, harus kembali mabit menjelang malam hari, kembali ke Mina, dan melontar jumrah dan ke pemondokan lagi,’’ terang KH Akhmad Basori.

Jamaah lebih memilih berjalan kaki dari hotel ke Jamarat, yang jaraknya sekitar 2 km. Di samping itu, kembali ke hotel lebih nyaman dan mandinya pun tidak antre seperti umumnya di kamar mandi yang ada di sekitaran Mina. ’’Selama ini kita tidak melarang, silakan saja yang mau kembali ke hotelnya, karena rata-rata begitu,’’ ujar Usman Sadat, ketua kloter 63.

Untuk konsumsi jemaah yang memilih kembali ke hotel, tidak ke tenda di Mina, maka risikonya tidak mendapat makan. Karena jatah makan untuk jamaah akan diberikan di tenda-tenda. Sejauh ini, jatah makan jamaah yang kembali ke hotel belum bisa diberikan.

’’Kalau konsumsi itu kontraknya ada di tenda, dan menjadi tanggung jawab jamaah sendiri karena memang tidak ada distribusi makanan ke hotel selama armuzna ini,’’ terangnya

Sementara itu, CJH Kabupaten Mojokerto kloter 61 patut bersyukur karena pada tahun ini mendapat maktab atau pemondokan yang cukup dekat dengan Masjidilharam dan jamarat. Pada tahun ini seluruh CJH asal Kabupaten Mojokerto mendapat pemondokan di wilayah Mahbas Jin.

Sebagaimana diketahui, jarak antara Masjidilharam dengan maktab Mahbas Jin sekitar 1,9 Km. Jarak yang cukup dekat dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Berbeda dengan tahun lalu yang sebagian menempati maktab di yang berpencar misal di Raudla.

Jaraknya sekitar 3 Km dari Masjidilharam. ’’Alhamdulillah, sekarang semua mendapat maktab di Mahbas Jin,’’ kata Suparmanto, jamaah haji. dr Ana Krismiawati menyampaikan, meski mendapat jarak yang cukup dekat dengan Masjidilharam, seluruh jamaah diminta untuk selalu me-manage waktu dengan baik.

Sehingga, seluruh kegiatan selama ibadah haji bisa berlangsung dengan lancar. Utamanya me-manage kesehatan. ’’Selalu kita pesan untuk menjaga kesehatan. Makan dan minum yang teratur. Utamanya memperbanyak minum air putih, karena suhu udara di sana (Tanah Suci, red) cukup panas,’’ imbaunya. (ahmad basuni)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia