Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Hewan Kurban Terserang Penyakit, Disperta Sebut Masih Layak Dikonsumsi

08 Agustus 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kepala Dinas Pertanian Suliestyowati memeriksa hewan kurban di peternakan hewan Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Kepala Dinas Pertanian Suliestyowati memeriksa hewan kurban di peternakan hewan Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Empat hari menjelang Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah, pengawasan terhadap kesehatan hewan kurban terus digencarkan. Kali ini, hewan kurban berpenyakit masih ditemukan Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto di sejumlah pedagang yang tersebar di 18 kecamatan.

Meski sebatas penyakit ringan, namun upaya mengawasi kesehatan hewan tetap menjadi prioritas pemerintah demi menjamin keamanan konsumen terhadap daging yang akan dibagikan. Dalam catatan petugas, setidaknya ada 3 jenis penyakit yang banyak diidap hewan kurban, baik sapi maupun kambing.

Diantaranya mata merah atau pink eye, iritasi kulit (scabies) hingga diare. Ketiga jenis penyakit itu banyak diidap pada hewan kurban jenis kambing. Rata-rata, hewan berpenyakit itu berada di sejumlah lapak pedagang di kawasan utara sungai.Seperti Jetis dan Gedeg. Pink eye menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan dan diidap, yakni 17 ekor.

Sementara scabies, monoorchid hingga diare masing-masing hanya 1 ekor dari total pengawasan dan pengecekan di 12 kecamatan. ’’Hewan yang kena penyakit pink eye itu ada di Jetis dan Gedeg. Trowulan dan Dlanggu juga ada,’’ tutur Suliestyowati, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, di sela sidak hewan kurban di peternak kawasan Desa/Kecamatan Sooko, Rabu (7/8).

Pengawasan telah berjalan selama 8 hari. Mulai 1 Agustus hingga hari ini. Dengan total hewan yang diperiksa sebanyak 1.111 ekor kambing, 216 ekor sapi, dan 41 ekor domba. Hewan tersebut tersebar di 45 lapak pedagang yang berdiri di 12 kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Meski ditemukan sejumlah penyakit, namun kondisi itu dinilai tidak membahayakan bagi konsumen. Di mana, ketiga jenis penyakit tergolong ringan. Sehingga hewan masih dianggap layak untuk dikurbankan dan dikonsumsi masyarakat. Petugas juga langsung memberikan penanganan khusus bagi hewan yang kurang sehat. Dengan memberikan vaksin atau obat-obatan.

Termasuk pula hewan yang dianggap belum layak dikurbankan karena terlalu muda. Atau belum sesuai dengan syariat agama Islam. ’’Masih kategori sehat. Penyakitnya masih dalam kategori ringan. Ini pun kita bantu pengobatan. Seperti imunisasi dan vaksin. Kita harapkan jenis sapi dan kambing yang sehat dan layak dikurbankan sesuai ajaran agama Islam,’’ tandasnya.

Dalam pengawasannya, petugas dan dokter mengecek kondisi fisik hewan dari berbagai aspek dan syarat kurban. Mulai dari kaki harus kuat, kulit yang bersih dan mata cerah, tumbuhnya gigi (poel), hingga feses yang padat atau tidak terlalu encer. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia