Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Kumpulan Penari Bikin Cover hingga Flashmob, Prihatin Dianggap LGBT

07 Agustus 2019, 16: 58: 42 WIB | editor : Mochamad Chariris

Anggota Art Mo saat menggelar Flashmob tari tradisi bersama Polres Mojokerto Kota di Alun-alun, Minggu (4/8).

Anggota Art Mo saat menggelar Flashmob tari tradisi bersama Polres Mojokerto Kota di Alun-alun, Minggu (4/8). (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Modernisasi tak menghalangi seseorang dalam mengekspresikan karya seni. Termasuk tari tradisi yang mulai banyak ditinggalkan kaum milenial lantaran dianggap kuno.

Untuk itu, butuh wadah dan upaya keras untuk membangkitkan kembali tari tradisi hingga mampu bersaing dengan budaya lainnya.

BERAWAL dari reuni Lebaran sebulan lalu. 15 sampai 20 penari baik dari Kota maupun Kabupaten Mojokerto sepakat kumpul bersama demi menjalin keakraban. Semula, tak banyak hal yang mereka bahas, kecuali hanya seputar sharing pengalaman ketika mendapat job, baik sebagai pelaku maupun pelatih tari tradisi.

Namun, dalam benak mereka yang paling dalam, tersembul sebuah keresahan dan kegundahan akan eksistensi tari tradisi itu sendiri. Khususnya di kalangan remaja kaum milenial.

Di mana, tari tradisi kini tak banyak dilirik sebagai warisan budaya yang menarik. Bahkan, anak-anak, khususnya kaum pelajar kini lebih mengenal modern dance ketimbang tari-tarian. Sebuah ironi yang tak bisa ditolak di era digital yang terus berkembang.

Termasuk unsur seni dan budaya yang harus bersaing demi merebut hati penggemarnya. Nah, keresahan tersebut yang mencoba dicurahkan dengan membentuk komunitas penari Mojokerto. Yang diberi nama Art Mo, singkatan dari Arek Tari Mojokerto.

’’Kita pakai kata Arek karena ada unsur lokalitas daerah. Tari tradisi ini semakin lama justru ditinggalkan karena westernisasi (kebarat-baratan). Untuk nama Art Mo sendiri baru dibentuk tanggal 21 Juli,’’ tutur Puspitaning Wulan, salah satu pentolan Art Mo.

Tak banyak buang waktu, mereka mencoba mengekspresikan tari-tarian itu lewat kegiatan yang sederhana namun menarik banyak orang. Salah satunya dengan menggelar flashmob tari di ruang publik.

Pilihan flashmob juga bukan tanpa alasan. Di mana, ajang menari bersama ala barat itu coba diadopsi ala budaya Indonesia. Dari semula yang bernuansa pop culture dengan bentuk modern dance dan musik upbeat, digubah menjadi ajang menari tradisional.

Sehingga, dapat mengenalkan secara langsung warisan budaya leluhur di kalangan remaja. Setidaknya sudah ada 4 lokasi yang telah mereka kuasai. Mulai dari Alun-alun, mal, hingga pelataran candi di Trowulan.

’’Jujur kami meniru Flashmob di Jogja dan Surabaya yang sempat viral. Flashmob itu kan masih dianggap nyeleneh dan biasa pake lagu pop yang modern. Sementara tari tradisi identik dengan rias busana lengkap dan dipraktikkan di stage sebagai pertunjukan.

Nah, kami mencoba bisa dipraktikkan di mana saja, dengan iringan musik karawitan ala budaya Jawa,’’ tandasnya. Tak hanya flashmob, untuk lebih mengenalkan tari tradisi, para penari dari berbagai sanggar ini juga meng-cover sejumlah jenis tari lewat video.

Mulai tari Gelang Ro'om (Madura), tari Bajidor Kahot (Sunda), tari Legong (Bali), tari Jejer (Banyuwangi), tari Ganong dan Jathil (Ponorogo). Video itu untuk mengenalkan lebih dalam setiap gerakan tari berdasarkan filosofi dan makna dibaliknya.

’’Kalau tradisi kan turun temurun, alias adi luhung. Tidak punah dalam kemajuan zaman dan pasti ada aturannya. Misalnya dalam hal berbusana, pasti ada pakem yang tidak boleh diubah. Sementara tari modern dibuat tanpa ada pakem,’’ tambahnya.

Selain gempuran budaya barat, para anggota Art Mo juga prihatin akan seni yang dijadikan komodifikasi (transformasi menjadi komoditas atau objek dagang) khususnya seni tari. Sehingga, mengubah otentifikasi bentuk tarian itu sendiri. Sehingga nilai tradisinya luntur.

Hal ini tak lepas dari permintaan pasar yang menginginkan trasformasi nilai dan bentuk. Bahkan, banyak yang menyebut tari tradisi kini diidentikkan dengan kaum LGBT (Lesbian, gay, biseksual, transgender). Di mana, laki-laki dan perempuan dapat mempraktikkan semua jenis tarian.

Anggapan tersebut yang justru dianggap salah. Lantaran tari tradisi sudah ada sejak zaman kerajaan. Sementara fenomena LGBT berkembang dari dunia barat yang masuk ke Nusantara.

’’Kami bentuk komunitas itu juga untuk menghilangkan stigma negatif tentang penari di mata masyarakat. Menari tradisi itu uri-uri budaya, kok malah dibilang LGBT. Katanya bangsa yang besar itu yang menghargai sejarah,’’ pungkasnya. (farisma romawan)

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia