Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Landasan Pesawat Hindia Belanda, Dekat Kampung, Sulit Terlihat Musuh

01 Agustus 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kantor Pos TNI AU Lanud Surabaya di Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.

Kantor Pos TNI AU Lanud Surabaya di Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO menjadi salah satu kota penting saat masih menjadi bagian dari Karesidenan Surabaya. Salah satu yang menjadi bukti pentingnya wilayah Mojokerto adalah berdirinya lapangan terbang.

Ya, setidaknya terdapat tiga pangkalan udara yang pernah dibangun pada zaman Hindia Belanda. Meski keberadaan kini telah hilang. Namun menjadi salah satu tetenger bisu sejarah peristiwa perang dunia II (PD II).

Landasan pacu tersebut sekaligus menjadi warisan terakhir sebelum penjajah kolonial angkat kaki dari bumi Nusantara. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, menceritakan, sekitar tahun 1930-an hingga meletusnya PD II (1939-1945), Mojokerto merupakan kota penting di wilayah Karesidenan Surabaya.

Itu karena posisinya sebagai kawasan penyangga atau hinterland bagi Kota Surabaya. Karena itu, Belanda sempat membangun sejumlah instalasi militer di Mojokerto. Tujuannya, menyiapkan langkah antisipasi jika Surabaya tidak bisa dipertahankan ketika serangan Jepang datang.

’’Salah satu fasilitas yang dibangun di Mojokerto itu adalah lapangan terbang,’’ terangnya. Saat meletupnya PD II pada 1939, badai perang yang melibatkan banyak negara ini terasa sampai di tanah Hindia Belanda yang kala itu menjajah wilayah republik.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menuturkan, serangan yang dilancarkan Jepang mampu meluluhlantakkan kekuatan penjajah di Asia. Situasi tersebut tentu membuat Hindia Belanda waswas. Segala persiapan dilakukan untuk membendung serangan pasukan Matahari Terbit itu.

Di antaranya, pangkalan angkatan laut utama di Tanjung Perak Surabaya diperkuat berikut fasilitas melarikan diri jika kalah dari musuh. ’’Mojokerto kemudian dipilih untuk mempertahankan diri,’’ ujarnya.

Bekas wilayah Kadipaten Japan ini dipilih karena merupakan kota terdekat dari Surabaya. Di samping itu, sebut Yuhan, kondisi geografis Mojokerto juga dinilai strategis dibanding kota lainnya. Pasalnya, selain didukung dengan datarannya yang landai, juga wilayahnya terletak di antara hutan di sisi selatan dan utara.

Pertimbangan lainnya adalah dukungan sumber daya alam yang dianggap dapat menunjang kebutuhan perang. Di sisi lain, berdirinya banyak pabrik gula juga menjadi salah satu alasan. Sebab, tempat industri tersebut bisa dijadikan sebagai bengkel senjata serta barak militer.

Untuk itu, beber Yuhan, wilayah Mojokerto juga perlu ditunjang dengan pertahanan perang. Sehingga, dibangunlah airfield atau lapangan terbang sebagai kegiatan lepas landas dan pendaratan armada pesawat milik kolonial. ’’Belanda menyiapkan tiga alternatif pendaratan pesawat di Mojokerto,’’ tukasnya.

Lokasi pertama yang dipilih adalah hamparan tanah lapang di Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kuterejo. Selain itu, juga di Kecamatan Jetis. Yaitu di Desa Ngabar dan di Desa Mlirip. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia