Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Batik Kakao, Manfaatkan Kulit Ari Biji Cokelat sebagai Bahan Pewarna

31 Juli 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Perempuan perajin batik mengikuti pelatihan di tempat wisata di Randugenengan, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.

Perempuan perajin batik mengikuti pelatihan di tempat wisata di Randugenengan, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Kulit ari biji cokelat yang selama ini selalu terbuang di tempat sampah, kini mulai dilirik oleh sejumlah perempuan di kawasan Puri. Mereka memanfaatkannya sebagai bahan pewarna batik. Mereka menyebutnya, batik kakao.

’’Awalnya pudar. Tapi, setelah dicampur dengan berbagai ramuan itu, menjadi lebih gelap. Lebih bagus,’’ ungkap Ayu Christina, pembina perajin batik asal Gedeg. Di tengah memberi pelatihan lokasi wisata di Randugeneng, Kecamatan Dlanggu itu, dia menjelaskan hasil eksperimennya.

Semula ia bereksperimen dan mencampur kulit ari kakao itu dengan tawas. Namun, hasilnya sangat pudar. Lalu ia pun mencampur dengan bahan pewarna alam dan dikombinasikan dengan bahan lain.

Diakui dia, eksperimen yang dilakukan berulang-ulang itu untuk mendukung Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto yang ingin menggali dan memanfaatkan limbah kulit ari biji kakao. ’’Awalnya, terbuang sia-sia,’’ tambahnya.

Untuk memberikan pewarnaan yang lebih matang, Ayu menyebut, dirinya harus mencampur sejumlah bahan yang bisa menghasilkan warna berbeda. Mulai dari tunjung (sejening logam) yang akan menghasilkan warna gelap, tawas untuk warna terang dan kapur menghasilkan warna lebih cerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto Yoko Priyono, mengatakan, sudah membentuk forum usaha kelompok bersama dan sudah berjalan sejak tahun 2018 lalu. Untuk tanaman kakao berkembang dengan baik di Mojokerto.

Saat ini, tegas dia, tanaman kakao di Kabupaten Mojokerto sudah tembus 430 hektare dan tersebar di 17 kecamatan. ’’Dengan tanaman cokelat yang semakin luas, maka kulit ari yang terbuang akan sangat banyak. Nah, saya ingin agar tidak dibuang sia-sia dan menjadi pewarna batik,’’ tambahnya.

Untuk mendukung rencananya itu, tegas Yoko, Dinkop melakukan kerja sama dengan ISI Solo dan Balai Batik Solo. ’’Dan, kami sudah siapkan marketplace-nya. Mulai yang offline sampai online,’’ beber Yoko.

Yoko optimistis, dengan pemasaran yang bagus, maka batik cokelat ini akan menjadi salah satu produk unggulan di Kabupaten Mojokerto. Karena, batik jenis ini dianggap sebagai gagasan pertama di negeri ini. ’’Produk ini jauh lebih alami karena menggunakan semua bahan yang alami,’’ pungkas dia. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia