Rabu, 21 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Puluhan SD Negeri di Kabupaten Mojokerto Kesulitan Dapat Siswa Baru

30 Juli 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

SDN Mojoroto, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu lembaga yang tidak mampu memenuhi pagu siswa baru tahun ini.

SDN Mojoroto, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu lembaga yang tidak mampu memenuhi pagu siswa baru tahun ini. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Puluhan SDN yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Mojokerto memprihatinkan. Pada PPDB kemarin, siswa baru yang masuk sangat minim. Kurang dari 10 siswa.

Demikian itu terungkap setelah Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto melakukan evaluasi pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB). Dan, belakangan dinas terkait tersebut mengevaluasi lembaga-lembaga kekurangan siswa itu.

Kabid Pendidikan Dasar Dispendik Kabupaten Mojokerto Mujiati, menjelaskan, terdapat puluhan SDN yang tercatat belum mampu memenuhi pagu dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Bahkan 45 lembaga di antaranya mendapatkan tanda merah.

Sebab, hanya mendapat kurang dari 10 siswa. ’’Sekolah-sekolah yang kurang siswa nanti akan kita lakukan evaluasi,’’ terangnya. Dispendik mencatat, SDN yang menampung kurang dari 10 siswa baru tersebar di hampir seluruh kecamatan.

Terbanyak ada di wilayah Kecamatan Gedeg dengan 6 SDN. Kemudian disusul Dawarblandong dan Jetis. Masing-masing 5 SDN. Kekurangan siswa juga terjadi di wilayah perbatasan Kecamatan Pacet dan Jatirejo. Masing-masing tedapat 4 SDN.

Sedangkan Kemlagi, Trawas, dan Gondang juga terdapat masing-masing 3 SDN yang tidak genap mendapatkan 10 siswa baru. Sementara 12 SDN lainnya berada di Kecamatan Ngoro, Bangsal, Mojoanyar, Puri, Mojosari, Pungging, Dlanggu, dan Kutorejo. ’’Hanya Trowulan dan Sooko saja yang hampir terpenuhi semuanya,’’ ujarnya.

Menurutnya, data tersebut merupakan hasil laporan sementara pasca ditutupnya PPDB Juni lalu. Seiring berjalannya tahun pelajaran baru ini, sekolah yang kurang pagu masih diberi kesempatan untuk menampung anak usia sekolah. ’’Jadi, kemungkinan sudah ada yang bertambah,’’ tandasnya.

Pihaknya mengaku minimnya siswa disebabkan karena berbagai faktor. Di antarnya mimimnya jumlah penduduk di sekitar sekolah. Selain itu juga karena berada di wilayah terpencil. Bahkan, juga disebabkan kerena berdekatan dengan lembaga SD/sederajat yang lain.

’’Makanya nanti kita evaluasi di lapangan terkait faktor penyebabnya,’’ paparnya. Mujiati menyatakan, pihaknya juga akan memetakan jarak antar-SDN. Jika memang dinilai terlalu berdekatan, maka akan diusulkan untuk penggabungan atu merger.

Terlebih jika memang jumlah penduduk dan anak usia sekolah di wilayah tersebut juga minim. Namun, khusus lembaga yang berada di wilayah terpencil akan tetap dipertahankan. Antara lain, SDN di wilayah perbatasan. Seperti Kecamatan Jatirejo, Trawas, maupun Pacet.

Pasalnya, keberadaan lembaga di wilayah tersebut untuk mendekatkan akses pendidikan ke masyarakat. ’’Daerah terpencil kalau dimerger tidak mungkin, kasihan anak-anaknya nanti malah jauh,’’ tandasnya.

Pihaknya juga bakal melakukan koordinasi kepada masyarakat di sekitar. Di sisi lain, dispendik tahun ini juga mendirikan sebanyak 26 lembaga Taman Kanak-Kanak (TK) negeri baru yang ditempatkan di SD yang dianggap kesulitan mendapatkan siswa baru.

Langkah itu bertujuan agar lulusan TK bisa langsung melanjutkan ke SD Negeri yang ditempati. ’’Tapi kalau upaya sudah maksimal tetapi tetap kekurangan siswa, nanti kita merger dengan sekolah di dekatnya,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia