Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Journey

Sego Bumbung Sambal Umbut, Lauk Ikan Asin Sambal Gejrot

29 Juli 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga dan wisatawan saat memasak sego bumbung di wisata Akar Seribu Desa Begagan Limo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Warga dan wisatawan saat memasak sego bumbung di wisata Akar Seribu Desa Begagan Limo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Masyarakat Dusun Begegan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, memiliki tradisi unik dalam hal kuliner. Ya, desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di kaki Gunung Anjasmoro ini terdapat menu makanan khas yang disebut sego bumbung. Seperti apa?

ASAP terlihat mengepul di dekat wisata Akar Seribu di Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang. Sumber api itu tak lain berasal dari sekelompok warga yang sedang memasak. Jangan bayangkan mereka memasak dengan sejumlah peralatan dapur atau kompor.

Sebab, warga yang tinggal di kawasan hutan Gunung Anjasmoro itu hanya mengandalkan kekayaan alam di sekitarnya. Warga hanya berbekal bambu yang dijadikan sebagai untuk memasak. Sedangkan api dihasilkan dengan membakar ranting-ranting kayu kering yang mudah ditemukan di sekitar kawasan hutan tersebut.

Metode memasak seperti itu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat hutan Begaganlimo. Bahkan sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka.

Awalnya, cara  memasak dengan bambu itu bertujuan mengisi perut kosong bagi warga yang bermata pencaharian di kawasan hutan. Sehingga, mereka cukup membawa beberapa genggam beras saja saat berangkat dari rumah. Beras itulah yang kemudian dimasak dengan menggunakan media bambu.

’’Makanya dinamakan sego bumbung karena masaknya pakai bambu. Ini cara khas warga Desa Bagaganlimo,’’ terang Kardi, salah satu warga Desa Begaganlimo. Tradisi memasak seperti itu telah dilakukan selama puluhan tahun yang lalu.

Sebab, kala itu, masyarakat sekitar masih banyak yang mencari nafkah di tengah hutan. Karena jarak antara permukiman dengan hutan cukup jauh, maka sego bumbung menjadi alternatif untuk mengisi perut kosong.

Cara memasaknya pun cukup sederhana. Kardi mengatakan, warga memanfaatkan kayu bambu yang tumbuh liar di dalam hutan. Setiap ruasnya kemudian dipotong untuk digunakan media memasak. Setelah dibersihkan, kemudian bambu diberi lubang kecil di tengahnya.

’’Biasanya pakai bambu petung,’’ ujar pria 61 tahun ini. Setelah itu, beras kemudian dimasukkan ke dalam bambu. Komposisinya tidak jauh berbeda dengan memasak nasi di dapur rumahan. Selain menambahkan air, juga diberi garam secukupnya. Tujuannya agar menambah cita rasa pada nasi.

’’Memasaknya dengan cara dibakar,’’ imbuhnya. Memasak sego bumbung kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 40-60 menit. Hal itu ditandai dengan berubahnya warna permukaan bambu menjadi cokelat kehitam-hitaman. Lobang kecil pada bambu juga bisa berfungsi untuk memastikan nasi sudah benar-benar matang.

Biasanya, warga mengkolaborasi dengan lauk ikan asin. Bahkan, kurang lengkap rasanya jika tanpa didampingi sambal gejrot. Sambal tersebut terbuat dari cabai, kemiri, bawang merah, bawang putih, serta asam. Semua bahan tersebut digejrot atau ditumbuk menggunakan bambu.

Yang menjadi ciri khas adalah menggunakan rotan muda atau yang disebut warga sebagai umbut. Batang rotan ditumbuk menjadi satu dengan bumbu sambal yang telah dihaluskan tadi. Karena itu, olahan tersebut juga biasa disebut sambal umbut

Bagi lidah masyarakat umum, rotan muda mungkin terasa pahit jika dimakan. Tetapi bagi warga Begaganlimo, makanan tersebut menjadi menu warisan dari para pendahulunya. ’’Ini merupakan makanan warga yang pergi ke hutan mencari rotan dan keninggar, nenek moyang kita dulu juga makan ini,’’ tandasnya.

Bahkan, akan lebih sempurna dengan minuman wedang secang. Minuman tradisional ini juga memanfaatkan bahan dari alam berupa rempah-rempah. Di antaranya adalah kayu secang, serai, pala, kayu manis, cengkeh, dan gula batu.

Menu tersebut tentu menjadi pelengkap hidangan untuk menikmati suasana alam di Desa Begaganlimo. Selain wisata Akar Seribu yang menjadi ikon, di kawasan paling selatan Kecamatan Gondang tersebut juga terdapat beberapa wisata dan situs yang bisa menjadi jujukan.

Antara lain, Batu Bancik, Candi Tumpuk, Petilasan Putri Windu Dewi, Batu Bajul, Batu Selokendhit, Goa Endhek, Coban Tanjung Biru, dan Candi Piring. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia