Kamis, 17 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Jembatan Rejoto Kini, Pasar Kaget Menghilang, Jadi Jujukan Pemancing

28 Juli 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Perahu fiber terparkir di bawah Jembatan Rejoto. Sejauh ini, tempat yang diharapkan jadi titik keramaian baru itu belum tergarap maksimal.

Perahu fiber terparkir di bawah Jembatan Rejoto. Sejauh ini, tempat yang diharapkan jadi titik keramaian baru itu belum tergarap maksimal. (Fendy Hermansyah/radarmojokerto.id)

Pengembangan kawasan barat Kota Mojokerto di area Jembatan Rejoto sangat ditunggu masyarakat. Lantaran, dipercayai bakal membawa dampak ekonomi bagi warga setempat. Niscaya, ketimpangan dengan wilayah timur pun dapat terkikis. Tapi, bagaimana kondisi kawasan Rejoto sekarang ini?

MUSIM kemarau sering membawa cuaca cerah di Kota Mojokerto. Meski cerah, justru malah terasa sejuk. Terlebih ketika berada di kawasan Jembatan Rejoto Kecamatan Prajurit Kulon, akhir pekan lalu.

Beberapa pemancing tampak santai menunggu kenur senarnya bergerak. Beberapa joran ditaruh di pojokan pagar bambu persis di bawah jembatan yang menghubungkan Kelurahan Blooto dengan Kelurahan Pulorejo tersebut.

’’Paling sering orang mancing di sini,’’ ujar Choliq, warga Jombang yang mancing sedari pagi. Ia sengaja mengambil bawah jembatan sisi selatan. Selain teduh, ada pagar bambu. Sehingga relatif lebih aman.

Sedang di sisi utara, di dekat fondasi jembatan tidak ada pagar bambu. Selain itu, di dekat situ terdapat balok girder yang mencungul ke permukaan air. Maklum, ketika musim kemarau begini, debit Sungai Ngotok yang dilintasi Jembatan Rejoto agak menyusut.

Kondisi itu pulalah yang kerap dimanfaatkan warga dan pemancing sekitar mengincar ikan-ikan khas sungai. Macam rengkik, bader, mujair, bahkan wader. Kondisi air yang tenang dan debit yang menyusut. ’’Kalau di utara itu ada balok. Jadi rawan kecantol. Tapi katanya mau diangkat,’’ tambah pria paro baya ini.

Sekitaran Jembatan Rejoto praktis jarang dipakai aktivitas yang meriah. Pasca gelaran Festival Mojotirto, tidak ada lagi event. Atau kegiatan yang menyentuh kawasan barat Kota Mojokerto tersebut. Memang ada dua perahu yang diparkir di bawah jembatan. Namun, perahu berbahan fiber itu tampak masih dicat ulang warna oranye.

Beberapa warung dari bangunan semipermanen masih menghiasi pinggir jalan Rejoto. Di antaranya masih buka. ’’Ini bukanya hanya Sabtu-Minggu,’’ ujar Nurhayati, nenek pemilik warung sisi Blooto. Di luar hari itu, warungnya ditutup karena Rejoto sepi.

Perempuan berusia 60 tahun lebih ini, mengakui, pada hari-hari biasa kawasan Rejoto relatif sepi. Dulu, pada akhir pekan selalu ramai karena warga setempat menggelar Pasar Kaget Hari Minggu. Warga biasa berjualan di sepajang jalan-jembatan Rejoto. Juga bisa berolahraga bebas.

Sekarang, kegiatan pasar Minggu sudah tidak digelar lagi. Nurhayati berharap pengembangan kawasan Rejoto digelar pemerintah. Karena, dia sejak lama mendengar kawasan itu akan disentuh pembangunan. ’’Kapan dibangun. Ini kapan diresmikan belum tahu. Warungnya biar bisa buka tiap hari,’’ inginnya.

Tiap pekan dia menyajikan kuliner khas tradisional. Macam sayur lodeh, nasi jagung, dan minuman kopi yang diracik sendiri dengan jagung. Dia juga menjual titipan botok ikan Rengkik. Ikan Rengkik adalah ikan khas perairan Sungai Brantas, Ngotok, dan sungai di kota. Per bungkus dijual Rp 5.000.

Beda suasana ketika malam hari, area Rejoto semakin sepi. Pantas saja, permukiman terdekat saja berjarak sekitar 200 meteran. Namun, malam Minggu lokasi itu sering dipakai area nongkrong muda-mudi. Maklum, di sekitar jalan-jembatan Rejoto kini telah berlampu.

Beberapa kali kejadian kenakalan remaja kerap mencuat di lokasi tersebut. Bahkan, aparat trantib sering mendapati kejadian yang melibatkan muda-mudi. Baik itu seperti minum minuman keras hingga vandalisme. Kepala Satpol PP Kota Mojokerto Heriyana Dodik Murtono, mengatakan, kawasan Rejoto masih menjadi daerah rawan.

Pihaknya menetapkan kawasan itu sebagai area patroli baik siang maupun malam hari. ’’Area tersebut masih menjadi lokasi patrol kami untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,’’ tukasnya. Menurut dia, kawasan itu memang jauh dari permukiman.

Sehingga, pengawasannya sulit dilakukan masyarakat sekitar. Untuk itu, pihaknya sering menyasar area tersebut sebagai areal patroli. ’’Beberapa kali ada muda-mudi yang membawa miras. Terpaksa kami amankan,’’ tegas dia. Ke depan, pihaknya terus mengatensi kawasan tersebut. (fendy hermansyah)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia