Rabu, 21 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Aku Sudah Tak Kuat

25 Juli 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Nadzir/radarmojokerto.id)

Budal sekolah numpak Yaris

Nggowo bekal diadahi kresek

Awal pacaran sikape manis

Pas nikah dadak tukang resek

MENJAGA keharmonisan rumah tangga memang tidak semudah yang dikira. Butuh kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi setiap cobaan. Berpikir jernih dan tidak terlalu reaktif menjadi kunci dalam menemukan solusi permasalahan.

Akan tetapi, cara tersebut rupanya tidak ditemukan dalam jiwa Mukiyo (samaran), warga Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Di mata istrinya, Tulkiyem (samaran), Mukiyo ibarat preman saat cobaan menghadang. Temperamental dan suka main tangan menjadi hal yang tak terpisahkan dalam diri Mukiyo.

Hingga akhirnya Tulkiyem merasa tak kuat lagi, dan meminta agar segera bercerai demi menghindari hal-hal buruk di kemudian hari. Di depan hakim Pengadilan Agama (PA) Mojokerto, Tulkiyem menceritakan biduk rumah tangganya yang sudah tidak diselamatkan lagi akibat sikap temperamen Mukiyo.

’’Wes gak kuat. Nek diterus-terusno gak malah dadi apik, tapi malah rusak. (Sudah tidak kuat. Kalau diterus-teruskan tidak menjadi baik, tapi malah rusak),’’ tutur Tulkiyem. Tulkiyem masih ingat betul dulu saat menjalani awal-awal pernikahan. Selain dikenal sangat mencintainya, Mukiyo dinilai orang yang lemah lembut.

Namun, anggapan itu ternyata hanya sebentar. Setelah pernikahan memasuki usia 2 tahun, semua kelembutan dan kasih sayang berubah menjadi kepedihan mendalam. Tulkiyem mengaku suaminya terbiasa bersikap keras dan ringan tangan alias gampang memukul. Walau hanya dipicu masalah sepele.

Ia menceritakan, pernah suatu ketika Tulkiyem dihajar suaminya hingga berdarah karena salah berkata sedikit kepada suaminya. Sejak itulah biduk keluarganya seakan kehilangan ketenteraman. Sampai akhirnya terbesit dalam diri Tulkiyem untuk memutuskan lebih baik berpisah dengan Mukiyo. Semula, niat berpisah masih diragukan. Alasannya, karena dirinya merasa malu kepala keluarga. Maklum, pernikahan itu merupakan permintaan Tulkiyem dan Mukiyo sendiri.

’’Biyen pacaran karo aku, mari ngunu ngeroso cocok, yo langsung rabi (Dulu pacaran sama saya, setelah itu merasa cocok dan langsung menikah),’’ tandasnya. Namun, dengan situasi saat ini, Tulkiyem menilai perpisahan menjadi satu-satunya jalan keluar yang terbaik. Tulkiyem pun memutuskan pulang ke rumah orang tuanya, sekaligus meminta izin perceraian itu.

Dari cerita Tulkiyem, kedua orang ruanya pun memberi restu kepadanya untuk berangkat menuju PA Mojokerto untuk mendaftarkan gugatan cerai. ’’Untunge, wong tuaku yo ngerti karo aku (Untungnya orang tuaku ya mengerti kondisi aku),’’ tandasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia