Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
SK, Komunitas Sopir Penderek Kiai Mojokerto

Mobil Mogok di Perjalanan, Anggota Terdekat Merapat, Menjemput Kiai

23 Juli 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Anggota komunitas SK seringkali jumpa darat untuk menguatkan rasa solidaritas sesama anggota.

Anggota komunitas SK seringkali jumpa darat untuk menguatkan rasa solidaritas sesama anggota. (Imron Arlado/radarmojokerto.id)

Sopir kiai bekerja tanpa mendapat gaji. Mereka dengan ikhlas memberikan pelayanan terbaik bagi sang kiai. Tujuan mereka jauh lebih besar. Yakni, mengais berkah hingga mengabaikan rasa lelah.

MALAM itu, belasan anak muda duduk memutar di salah satu warung di kawasan Surodinawan, Kota Mojokerto. Dengan mengenakan sarung dan kopiah, canda tawa di antara mereka terdengar sangat lirih.

Mereka adalah para sopir kiai di Mojokerto. Mereka tengah menyambut kedatangan seorang kawannya dari Kudus, Jateng, yang kebetulan mengantar sang kiai ke Mojokerto. ’’Kami sudah biasa seperti ini. Kalau ada teman dari jauh, semua pada ngumpul,’’ ungkap M. Muhsinul Amin.

Remaja 23 tahun yang aktif menjadi sopir pengasuh Pondok Pesantren Quran Nurul Huda, Surodinawan, KH Faqih Usman ini, menuturkan, sesama anggota komunitas memiliki ikatan emosial yang cukup lekat. Selalu memberikan sambutan ke sesama anggota yang berkunjung ke wilayahnya.

Bagi dia, sesama sopir kiai selalu berbagi tentang pengalaman-pengalamannya selama perjalanan. Mulai dari kantuk yang tak tertahan, hingga kendaraan mengalami gangguan saat perjalanan.

Di sinilah, peran solidaritas sesama anggota komunitas baru bisa dirasakan. Dengan anggota yang sudah mencapai 200-an, mereka dengan mudah mendapat bantuan. ’’Pernah ada yang mengalami mogok saat perjalanan. Anggota dengan jarak terdekat, harus segera datang dan mengantar kiai,’’ ceritanya.

Proses pengantaran kiai ini, hingga sampai tujuan. Dan, kendaraan akan diurus bengkel yang sudah disediakan oleh anggota komunitas yang lain.

Muhsin mengakui, seorang sopir kiai memang tak memiliki bayaran rutin tiap bulan. Seperti sopir para pejabat atau konglomerat. Namun, soal loyalitas, santri memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Mereka harus mampu memberikan pelayanan yang apik ke kiai.

Anggota komunitas ini tak hanya bagi mereka yang masih lajang dan nyatri di pesantren. Sopir kiai juga banyak yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. ’’Semua hanya ngalap (mencari) berkah. Tidak ada yang berorientasi ke profit,’’ tambah dia.

Dengan anggota yang cukup banyak ini, mereka biasa berkomunikasi melalui grup WhatsApp hingga medsos. Namun, sejumlah syarat dipasang. Di antaranya, seluruh anggota harus NU, tidak boleh berjualan barang di grup, hingga meng-share konten pornografi. Jika terdapat anggota yang melanggar, admin langsung bertindak tegas dan mengeluarkan dari grup.

Berdiri sejak tahun 2017 lalu, anggota SK di Mojokerto ini sudah mencapai belasan orang. Di saat senggang, mereka kerap menggelar kopdar untuk sekadar berbagi cerita. Dan, kopdar terbesar dilakukan saat Ramadan lalu di kediaman Marzuki Mustamar, Ponpes Sabilur Rosyad, Karang Besuki, Sukun, Malang. (imron arlado)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia