Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Algoritma dengan Efek Lansia Bikin Netizen Gemari Aplikasi Ubah Wajah

20 Juli 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

DALAM sepekan terakhir ini, media sosial (medsos) seolah dibanjiri dengan perubahan wajah para netizen. Tidak hanya netizen biasa, sejumlah artis dan publik figur pun tak luput dari aksi viral mengubah gambar wajah menggunakan aplikasi foto editing. Khususnya mengubah menjadi lebih tua.

Selain sekadar iseng, aksi tersebut juga untuk mengobati rasa penasaran akan prediksi raut muka mereka kedepannya. Padahal, aksi tersebut sejatinya sudah ada sekitar dua tahun lalu. Tidak hanya sekadar menjadi lebih tua, tapi juga lebih cantik dan putih dari gambar aslinya.

Bedanya, aplikasi bertajuk FaceApp versi terbaru kali ini memiliki algoritma dengan efek tua atau muda yang lebih oke. Termasuk mengedit foto wajah menjadi tersenyum, terlihat lebih muda, mencoba gaya rambut baru hingga mengubah gender dengan kualitas lebih detail. Sehingga tampak seperti aslinya.

Viralnya aplikasi FaceApp ini tak luput dari tantangan atau challenge yang ramai di Twitter dan Instagram lewat tagar #FaceAppChallenge dan #AgeChallenge. Berisikan pengguna yang berlomba-loba mengirimkan foto tua/muda bergambarkan dirinya atau sosok-sosok kondang lain.

Meski sempat kontroversi lantaran berbahaya terhadap data privasi, namun aplikasi ini masih diganderungi sejumlah netizen. Mereka mengaku penasaran dengan hasil raut wajah mereka setelah diedit. Yang paling ditunggu adalah editing menjadi lebih tua. Di mana, banyak yang ingin tahu bagaimana prediksi wajah mereka saat tua nanti.

’’Iseng saja, seperti apa sih wajah kita 10 sampai 20 tahun ke depan. Meskipun hasilnya juga kadang kok agak memaksa. Hehehehe,’’ tutur Mivtaufani, pengguna FaceApp asal Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Meski terlihat mengasyikkan, namun banyak pengguna yang mengaku waswas terhadap berita soal efek dari penggunaan aplikasi ini.

Sebab, bisa saja foto asli mereka disimpan, disebar, atau bahkan dijual untuk tujuan komersial. Meski foto tersebut telah dihapus, namun pihak aplikasi masih menyimpannya lantaran kebijakan privasi yang diterapkan. Menjawab pertanyaan itu, Taufan mengakuinya.

Meski dirinya bukan siapa-siapa, namun kebijakan tersbeut cukup membuka akses foto, informasi lokasi, penggunaan data serta history browsing penggunanya. ’’Khawatir juga, tapi nggak seberapa besar. Toh, setelah itu kita bisa uninstall aplikasinya,’’ tandasnya

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia