Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Aku Salah Apa?

20 Juli 2019, 23: 06: 01 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

Rambut klemis pakaian necis

Mlaku-mlaku ijen macak keren

Rumah tangga kudu harmonis

Supoyo keluargane gak blaen

TAK ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba saja angin menerjang. Disertai petir yang terus menyambar. Membuat semuanya porak-poranda. Sebuah peristiwa yang tak diinginkan semua manusia. Meski bukan kejadian yang sebenarnya, namun gambaran itu cukup mewakili perasaan Mukiyo (samaran), warga Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Bagaimana tidak, biduk rumah tangganya bersama Tulkiyem (samaran) tiba-tiba diterjang badai perceraian di tengah keharmonisan yang terjadi. Bahkan, sampai putusan pun, Mukiyo tak tahu menahu alasan di balik gugatan cerai yang dilayangkan Tulkiyem 6 bulan lalu itu.

Ya, Mukiyo yang kini tengah mengajukan banding di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto mengaku rumah tangganya semula baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda keributan atau perselisihan yang terjadi antara dirinya dengan Tulkiyem. Semuanya berjalan harmonis dan apa adanya. Pekerjaannya sebagai tukang sepatu juga tak pernah sekalipun dikeluhkan Tulkiyem.

’’Mangkane iku. Kok moro-moro onok surat panggilan sidang nang omah. Padahal, sakdurunge gak onok opo-opo (Maka dari itu, kok tiba-tiba ada panggilan sidang di rumah. Padahal, sebelumnya tidak ada apa-apa),’’ tutur Mukiyo. Dia yang sudah 8 tahun membina rumah tangga mengaku tak pernah sekalipun bertengkar hebat dengan Tulkiyem. Sempat ada keluhan dari Tulkiyem di tiga tahun pertama pernikahan. Lantaran tak juga diberikan momongan.

Namun, di tahun berikutnya, pasangan suami-istri ini akhirnya dianugerahi dua buah hati. Bahkan, kehadiran dua anaknya seakan melengkapi keharmonisan rumah tangga mereka selama hampir lima tahun. ’’Wong yo wes duwe anak loro. Mosok kok gak mikir nasibe anak-anak besok yo opo (Kan ya sudah punya dua anak. Masak kok tidak berpikir nasibnya anak-anak besok bagaimana),’’ tandasnya.

Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Tulkiyem tiba-tiba saja menggugat cerainya tanpa ada alasan pasti. Bahkan, di sidang pertama dan beberapa sidang setelahnya, Mukiyo tak sekalipun tahu. Padahal, petugas PA Mojokerto selalu melayangkan surat panggilan ke rumah. Berdasarkan penelusurannya, surat panggilan itu kerap disembunyikan Tulkiyem.

Hingga akhirnya, Mukiyo baru tersadar saat proses gugatan sudah hampir memasuki masa putusan. Mukiyo yang tak tahu sebab-musababnya hanya bisa tercengang menerima putusan hakim. ’’Jarene pas surate panggilane teko, mesti didelikno. Konangane pas wes terakhir-terakhir (Katanya, saat suratnya datang, selalu disembunyikan. Kepergok pas sudah terakhir-terakhir),’’ sesalnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia