Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Geliat Jasa Reparasi Alas Kaki Residen Pamuji

Banyak Menolak Orderan, Sepatu Seharga Rp 1 Juta pun Minta Dijahit

20 Juli 2019, 17: 17: 00 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sofiya menjahit bagian atas sepatu pelanggan di lapaknya Jalan Residen Pamuji, Kota Mojokerto.

Sofiya menjahit bagian atas sepatu pelanggan di lapaknya Jalan Residen Pamuji, Kota Mojokerto. (Fendy Hermansyah/radarmojokerto.id)

Jenis pekerjaan seperti ini masih dipandang sebelah mata. Padahal, jasa mereka kerap menyelamatkan sepatu lama yang usang menjadi kembali bisa dipakai lagi. Sekaligus dapat berhemat ongkos karena tak perlu beli sepatu baru.

KERAMAIAN Jalan Residen Pamuji, Kota Mojokerto sekitaran Pasar Tanjung Anyar menenggelamkan beberapa orang yang sibuk bekerja satu ini. Mereka ada di pinggiran trotoar. Di balik lapak penjual buah. Di samping cepitan toko. Hingga berkawan pedagang kali lima (PKL).

Sudah lama, para tukang reparasi sepatu ini bermukim di sekitaran Pasar Tanjung Anyar. Mereka menumpang sesisa ruang yang lowong untuk menawarkan jasanya. Mereparasi sepatu, mengganti sol, mengelem, menjahit, dan lainnya. Di masa tahun ajaran baru sekolah kemarin, rupanya membawa berkah tersendiri bagi mereka. Lonjakan orang yang mereparasi sepatu terasa nyata.

Sampai-sampai, order tersebut sempat ditolak-tolak lantaran waktu yang terbatas. Mereka biasa dikenali atribut lapak kotak yang kerap ditulisi Ganti Sol, Jahit Sol, Reparasi Sepatu, dan lainnya. Di atasnya, dijajar sepatu bekas yang telah direparasi. Plus, jajaran sol sepatu aneka ukuran. Antara jajaran para pereparasi sepatu ini, dua di antaranya adalah para wanita.

Salah satunya, Sofiya, tukang reparasi asal Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Kemarin siang, tangannya masih menggapit sepatu. Tangan kanan memegang stik jarum bikinan sendiri. Stik itu digunakan membuat lubang dan menaruh benang. Membuat jahitan di pinggiran sol sepatu. Lalu, membuat simpul lantas menariknya sekuat-kuatnya.

’’Ya banyak sekali,’’ jawab perempuan berjilbab hijau pastel ini. Sejak masa libur sekolah, order reparasi sepatu meningkat. Khususnya sepatu sekolah yang biasanya warnanya didominasi hitam. Hanya saja, dia sendiri enggan muluk-muluk. Ia hanya menggarap sepatu yang bisa digarapnya hari itu. Sehingga banyak menolak orderan karena masih menggarap pesanan orang.

’’Ya sempat nolak-nolak. Karena kalau diterima nanti yang lain gak tergarap,’’ ucap perempuan berusia 50 tahun ini. Biasanya sepatu yang minta direparasi, sepatu yang ingin diganti solnya. Ada pula yang mengelem sol dan membuat jahitan baru. ’’Yang sering itu ngelem lalu dijahit agar solnya kuat,’’ tukas Sofi yang juga menjual jeruk dan salak.

Dia sendiri mulai mereparasi sepatu sejak tahun 1998. Kala itu era krisis ekonomi melanda Indonesia. Apesnya, suaminya yang bekerja di pabrik sepatu terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari situ, Sofi membantu suami menjadi tukang reparasi sepatu di sekitaran Pasar Tanjung Anyar.

Hingga 21 tahun, Sofi masih mereparasi sepatu. Dia kini menggantikan suami yang telah meninggal dunia. Meski perempuan, terampil menjahit sol sepatu dengan tenaga tangan. ’’Kalau jahitan pabrik lebih rapi. Tapi, kalau jahitan tangan bisa lebih kuat dan detail,’’ rincinya. Sesekali terkena tusukan stik jarum mengenai tangannya. Namun, hal itu dianggapnya sudah biasa. Sehingga seolah sudah kebal.

Tenaga tangan untuk menjahit sol sepatu yang kadang sangat keras tetap dihadapinya. Itu biasanya ketika sepatu yang direparasi berbahan kulit hewan. ’’Kalau menjahit sepatu jenis itu harus ngoyo. Karena, kulitnya keras. Ada juga sepatu mahal yang ada lapisannya keras,’’ rincinya.

Dia mengamati akhir-akhir ini banyak terima orderan sepatu yang berharga mahal. Minta direparasi dijahit dan lem. ’’Sepatu harga Rp 1 juta, tapi tetap minta jahit dan lem. Mungkin biar lebih kuat lagi,’’ timpalnya. 

Pekerjaan itu ia tekuni dengan benar. Mereparasi sepatu memang ada kalanya sepi. Agar asap dapur tetap mengebul, di sebelah lapak reparasi solnya ia juga jualan buah-buahan. Kini, dia ditemani salah satu keponakannya. Biasa membuka lapak sejak pukul 08.00 hingga 16.00. (fendy hermansyah)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia