Rabu, 21 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Istri tanpa Nafkah

19 Juli 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

Tuku sepatu gawe sekolah

Sepatu ireng taline rafia

Bojo gak nguwehi nafkah

Buyar ae timbang terluka

Kelanggengan hubungan rumah tangga tak sekadar modal cinta dan kasih sayang. Nafkah juga menjadi pendukung utama ketenteraman sebuah keluarga. Tercukupinya kebutuhan lahir dan batin tidak bisa terpisah satu sama lain.

Akan tetapi, gambaran itu nampakya tak dirasakan Tulkiyem (samaran), warga Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, kurun waktu dua tahun terakhir. Ia harus mengakhiri kisah rumah tangganya dengan Mukiyo (samaran) di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto. Dengan alasan, suami yang telah menikahinya selama tiga tahun terakhir itu kini tak lagi menafkahinya.

Kemarin (17/7) Tulkiyem mengutarakan kisah hidupnya yang begitu pahit dihadapan manjelis hakim PA. Di mana, sejak dua tahun lalu, wanita 30 tahun ini harus membanting tulang sendiri untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Utamanya, kebutuhan sang buah hati yang kini berusia dua tahun.

’’Nek gak soro lapo milih pisahan. Pokoke, abot nek terus-terusan ngelakoni urip ngene ae (kalau nggak berat mengapa memilih berpisah. Pokoknya berat kalau terus-terusan menjalani hidup seperti ini),’’ kata Tulkiyem. Ya, meski hidup dalam satu rumah, namun Mukiyo tidak pernah memberikan uang belanja kepada Tulkiyem.

Entah apa alasannya. Padahal, suaminya itu masih aktif bekerja sebagai perajin sepatu di sebuah home industri. Pendapatannya bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, Mukiyo seakan tak lagi peduli pada nasib istrinya.

Utamanya, kepada sang buah hati yang sudah tak lagi dinafkahi sejak berusia setahun. ’’Awak dewe kudu kerjo dewe sak onoke. Mboh yo opo carane, supoyo anak tetep iso kecukupan gizine (saya sendiri harus bekerja seadanya. Entah bagaimana caranya supaya anak tetap bisa tercukupi gizinya),’’ ucapnya.

Tulkiyem sempat mengeluhkan soal kebutuhan hidup yang tak sedikit kepada Mukiyo. Namun, tak ada tanggapan. Termasuk upayanya bekerja serabutan yang juga tak mendapat respons sama sekali. Hingga akhirnya Tulkiyem merasa sudah tidak mampu lagi menahan beban dan penderitaan hidup yang dialami.

Ia pun menyerah dan meminta segera berpisah kepada Mukiyo sebagai jalan terbaik. Sempat menjadi pertimbangan serius lantaran anak yang masih berusia balita. Akan tetapi, tidak ada pilihan lagi selain bercerai. Berpisah dipandang sebagai jalan terbaik dari yang terburuk.

’’Sakjane yo sakno delok anake nek gak duwe bapak koyok ngene. Tapi, yo opo maneh, wonge dewe yo gak onok upaya sing apik (sebenarnya ya kasihan melihat anaknya kalau tidak punya bapak seperti ini. Tapi, bagaimana lagi, orangnya juga tidak ada iktikad baik untuk memperbaiki),’’ tandasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia