Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Guru SMK Temukan Pupuk Oranik Hayati Abadi Berbahan Baku Air Leri

19 Juli 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Taufikur Rohman mendampingi anak didiknya mendemonstrasikan produksi pupuk organik hayati abadi.

Taufikur Rohman mendampingi anak didiknya mendemonstrasikan produksi pupuk organik hayati abadi. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

Masalah keterbatasan pupuk nonorganik yang dirasakan kalangan petani membuat Taufikur Rohman tak kehabisan akal. Melalui metode memanfaatkan dedek dan air leri, warga Dusun Ngares, Desa Ngares Kidul, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, ini berhasil menemukan pupuk organik hayati abadi.

MENGEMBALIKAN tanah menjadi subur tanpa pupuk mengandung kimia menjadi cita-cita Taufikur Rohman. Sebagai guru pembina di SMK Mutu Kemlagi, belakangan ia terus mendorong anak didiknya agar lebih kreatif dan inovatif.  

Salah satunya dengan membuat pupuk organik hayati abadi. Bukan tanpa sebab. Hal ini disebabkan masalah keterbatasan pupuk nonorganik di kalangan petani. ’’Apalagi, kelangkaan pupuk terjadi setiap musim tanam tiba,’’ katanya sembari mendemonstrasikan produksi pupuk di Lapangan Desa Canggu, Kecamatan Jetis, kemarin.

Dia menerangkan, pupuk hayati dapat menyuburkan tanah. Berdasarkan hasil penelitiannya, pupuk berbahan baku air leri dicampur dedek dan air kelapa ini mengandung bakteri pseudomonas fluorescens.  Dikenal dapat beradaptasi dan mengkloning dengan baik akar tanaman. Leri juga bermanfaat menghambat perkembangbiakkan pathogen.

Sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit pada tanaman. Ia menjelaskan, air cucian beras juga bermanfaat untuk kesuburan tanaman. Pengendali organisme pengganggu tanaman dan menyehatkan akar tanaman. ’’Dari asas manfaat yang terkandung, leri ini sangat bagus dijadikan bahan baku membuat pupuk organik cair,’’ terangnya.

Penggunaan pupuk organik cair juga dinilai cocok untuk digunakan para petani di Mojokero. Seperti petani padi, sayuran, hingga palawija. Disisi lain, pembuatan pupuk hayati ini juga memengaruhi biaya produksi. Dia menyebutkan, jika sebelumnya petani harus mengeluarkan biaya tinggi akibat mahalnya pupuk kimia.

Dengan pupuk buatan ini, petani dapat menekan biaya semaksimal mungkin. ’’Lebih ngirit 50 persen. Yang terpenting, pupuk ini abadi. Tak bisa habis. Kalau kita bisa mengembangkan,’’ terangnya. Tak kalan penting, jika tak terkontaminasi zat kimia, mikroba yang terkandung. juga tak akan punah. ’’Ini akan terus berkembang,’’ tuturnya.

’’Dalam uji laboratorium pupuk organik ini juga aman. Sangat baik bagi petani,’’ tambahnya. Dia menceritakan, proses pembuatann pupuk tergolong sederhana. Dengan mamanfaatkan wadah galon air dan botol bekas minuman kemasan, ia bisa membuat 20 liter pupuk hayati. Dengan komposisi, 2 kilogram dedek, 10 liter air leri, ditambah 5 liter air kelapa, dan 1 kilogram mulase.

Mulase digunakan sekaligus sebagai nutrisi perkembangan mikroba di dalam dedek yang sudah dikukus terlebih dulu. ’’Tujuannya, mematikan bakteri yang terkandung dalam dedek,’’ ujarnya. Dalam pembuatan ini, juga hanya dibutuhkan pompa udara. Tujuannya, mengambil udara dari oksigen yang segar, supaya tidak terkontaminasi bakteri. Juga diberi larutan zat kalium permanganate untuk membunu bakteri dari udara.

Sebagai antisipasi adanya bakteri yang lolos, aliran udara disaring menggunakan alkohol. Sehingga bakteri tidak sampai masuk pada proses pengadaan pupuk organik. ’’Maka, pertumbuhan mikroba yang ada di plasma ini semakin cepat. Prosesnya juga hanya membutuhkan 14 hari. Setelah itu, pupuk sudah siap pakai,’’ tegasnya. Itu pun bahan baku yang masih mengendap di bawah masih bisa dipakai lagi dengan cara menambah air leri.

’’Kita tidak lagi menambah mikroba. Karena di dalam masih banyak. Makanya kita sebut pupuk abadi,’’ tambahnya. Cara pemakaiannya, imbuh Taufikur, para petani tinggal menyemprotkan pupuk yang sudah dicampur air di lahan yang sudah dibajak atau digemburkan.

’’Ketentuannya 100 miligram pupuk bisa dicampur air 20 liter. Angka ini bisa memupuk sekitar 20 meter persegi lahan,’’ paparnya. Untuk mempercepat pertumbuhan micro organisme di dalam tanah lebih cepat, petani bisa menyiram tanah yang sudah dipupuk dengan air.

Selanjutnya, petani membutuhkan jarak waktu 10 hari untuk bisa melangsungkan cocok tanam. ’’Dua migggu setelah tanam, kita bisa melakukan penyemprotan lagi supaya hasilnya lebih maksimal,’’ paparnya. (khudori aliandu)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia