Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Hobi kok Gegeran

17 Juli 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain Nadzir/radarmojokerto.id)

Padang bulan masak trancam

Iwak tempe sambelane kelopo

Bojo egois senengane ngancam

Buyar ae timbang ati ngersulo

KELANGGENGAN hubungan sebuah rumah tangga tidak bisa diupayakan hanya satu pihak saja. Harus ada kesinambungan antara suami dan istri dalam melanjutkan kisah kehidupan. Termasuk pola komunikasi yang harus sejalan satu sama lain. Jika tidak, maka jangan harap hubungan bisa akur, atau justru kandas di tengah jalan. Barangkali gambaran itu bisa mewakili kehidupan keluarga Tulkiyem (samaran) bersama Mukiyo (samaran), warga Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Tulkiyem harus merelakan biduk rumah tangganya hancur akibat perselisihan dengan Mukiyo yang tak kunjung usai. Hingga keduanya sepakat untuk lebih baik berpisah ketimbang menjalani hubungan yang tak sehat. Dua bulan lalu, Mukiyo mendaftarkan cerai talak ke Pengadilan Agama (PA) Mojokerto, untuk menyelesaikan kisah rumah tangga di mata hukum.

Tulkiyem menjelaskan, perselisihannya dengan Mukiyo memang terjadi sejak lama. Entah mengapa, baik dirinya maupun Mukiyo sama-sama tidak ingin mengalah satu sama lain. Masalah sekecil pun sudah pasti menjadi besar lantaran sifat egois yang masih membara. ’’Kadang perkoro cilik sering digedek-gedekno. Koyok gak enak nek gak geger (terkadang perkara kecil sering dibesar-besarkan. Seperti tidak suka kalau tidak bertengkar),’’ kata Tulkiyem.

Tulkiyem sempat sedikit mengalah. Dengan harapan, keluarganya bisa menjadi lebih harmonis. Namun, upayanya tak membuahkan hasil. Bahkan, semakin parah. Dan setiap masalah pasti tidak ada ujungnya. Akibatnya, Tulkiyem merasa tidak kuat lagi hidup dengan Mukiyo. Selama hampir tiga tahun membina rumah tangga, Tulkiyem merasakan tidak adanya rasa cinta dalam diri suaminya itu ’’Mungkin wes gak cocok bekne. Luweh apik pisahan ae (mungkin sudah tidak cocok. Lebih baik berpisah saja),’’ jelasnya.

Tulkiyem mengaku, sempat mengajak Mukiyo untuk berdamai dan meluruskan semua persoalan yang terjadi dengan hati dingin. Dengan harapan, satu sama lain saling menghormati dan menghargai. Akan tetapi, yang bukan kedamaian didapat. Namun, justru Mukiyo ingin segera mengakhiri kehidupan keluarganya dengan Tulkiyem.

Tak usah pikir panjang, Tulkiyem yang sudah tidak kuat lagi sepakat untuk memutus tali pernikahan mereka di meja hijau PA Mojokerto. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia