Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Terpaksa Mandi di Kubangan, Tak Setetes pun Air Keluar saat Ngebor

17 Juli 2019, 17: 04: 16 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, hanya bisa mengandalkan Wslic untuk mendapatkan pasokan air bersih.

Warga Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, hanya bisa mengandalkan Wslic untuk mendapatkan pasokan air bersih. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

Sebagai kawasan penyangga ibu kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto justru tak luput dari bencana kekeringan. Hampir setiap musim kemarau tiba, sejumlah desa dilanda minimnya pasokan air bersih.

Salah satunya dialami warga Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, sebagai perbatasan di wilayah utara Sungai Brantas.

TERIK sinar mentari tak menyurutkan nyali sejumlah ibu-ibu untuk bisa mendapatkan air bersih. Berbekal dua jeriken kapasitas 30 liter, mereka rela mengantre berjam-jam demi bisa mendapatkan air yang tersedia di tandon berukuran 3.330 liter.

Tandon itu terpasang di teras salah satu rumah penduduk. Air tersebut nantinya akan dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Utamanya kebutuhan memasak dan minum. Ya, hampir sebulan terakhir ini, ratusan warga di Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, kesulitan mendapatkan air bersih.

Pasokan air dari sumur Wslic (water and sanitation for low income communities) dan Pamsimas tak lagi mengalir sejak musim kemarau, Mei lalu. Akibatnya, mereka kini hanya bisa mengandalkan pasokan air bersih bantuan dari Pemkab Mojokerto dan pihak lain. Selain itu, warga terpaksa memanfaatkan air sungai yang keruh untuk aktivitas mandi dan mencuci.

Hal ini dilakukan demi bisa menyambung hidup di tengah keterbatasan. Sarti, 60, warga RT 2, Dusun Tempuran, Desa Simongagrok mengaku, terpaksa memanfaatkan air Sungai Pereng di belakang rumahnya,sejak sebulan lalu. Sungai yang mengalir dari kawasan Kemlagi menuju Kali Lamong itu menjadi satu-satunya air alami paling jernih yang tersedia.

Meski kenyataan di lapangan, sungai tersebut juga mengalami kekeringan. Hanya terdapat kubangan air setinggi tak kurang dari 50 cm dari dasar sungai. Itupun airnya juga berwarna keruh kecoklatan. ’’Terpaksa mandi dan mencuci di sungai belakang rumah. Kalau untuk masak dan minum ya pakai air dari tandon,’’ terangnya.

Air tandon itu hasil bantuan pasokan dari BPBD Pemkab Mojokerto. Sarti mengaku, tidak bisa berbuat banyak meski kondisi sungai terdapat bungkus plastik bekas sabun deterjen berceceran di sungai. Pasalnya, selain untuk mandi warga, sungai juga digunakan warga untuk mencuci pakaian.

Sebab, bantuan air bersih dari pemkab hanya cukup untuk memasak dan minum. Termasuk mandi yang dikhususkan bagi anak-anak sebelum memulai aktivitas sekolah. ’’Kalau yang dewasa cukup mandi di sini (Sungai Pereng),’’ ujar Siti, 45, warga Dusun Tempuran lainnya. Krisis air bersih, dikatakan Siti, selalu dialami warga saat musim kemarau tahun lalu.

Upaya untuk mendapatkan air selain dari Wslic sempat dilakukan. Yakni, dengan mengebor sumur hingga di kedalaman 30 meter lebih. Akan tetapi, upaya itu tak pernah membuahkan hasil. Tak setetes pun air mengalir dari pipa. ’’Saya sudah pernah ngebor tiga kali di titik berbeda, tapi nggak ada airnya. Di sini (Dusun Tempuran) memang susah mencari sumber air,’’ tambahnya.

Warga sebenarnya berharap, ada pasokan air bersih yang terus mengalir setiap harinya. Termasuk PDAM sebagai solusi tepat mengatasi minimnya pasokan air. Warga mengaku, tidak keberatan jika harus berlangganan, asal air mudah didapatkan setiap saat. Apalagi, hampir setiap rumah warga telah terpasang saluran pipa yang selama mengalirkan air dari Wslic.

Sehingga tidak perlu lagi memasang instalasi pipa dari pusat PDAM ke rumah-rumah warga. ’’Selama ini warga ambil air di Wslic, tapi sumber airnya sudah habis. Kayaknya lebih baik pakai PDAM,’’ terang Kasun Tempuran, Sukamto.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Mokhamad Zaini menuturkan, pihak PDAM memang telah menawari warga untuk berlangganan. Akan tetapi, sampai saat ini belum terealisasi. Meski begitu, pihaknya bersama PDAM dan pemerintah kecamatan berupaya semaksimal mungkin untuk membujuk warga agar berlangganan air PDAM. Sehingga pasokan air bisa terus mengalir, meski kemarau tiba.

’’Warga selama ini dapat air dari Wslic dan Pamsimas gratis. Kita terus sosialisasikan agar mau berlangganan PDAM meskipun dengan volume atau debit air yang murah. Asalkan, warga bisa mendapatkan air setiap hari,’’ tandasnya.

Dusun Tempuran, Desa Simongagrok sendiri terdiri atas 120 KK (kepala keluarga) dengan 270 jiwa. Selain Simongagrok, kekeringan juga melanda 4 desa lainnya di Kabupaten Mojokerto. Kekeringan mengakibatkan ribuan jiwa kesulitan mendapatkan air bersih. Seperti Dusun Sekiping, Desa/Kecamatan Dawarblandong yang terdapat 750 jiwa.

Lalu, di Kecamatan Ngoro, tepatnya di lereng Gunung Penanggunakan, yang terdiri dari tiga desa. Di antaranya, Desa Kunjorowesi sebanyak 520 jiwa warga terdampak, Desa Manduromanggunggajah, dan Desa Kutogirang yang masing-masing terdapat 750 jiwa warga terdampak. (farisma romawan)

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia