Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Seni Phyrography: Goresan Alami Pembakaran, Kreasikan Gradasi Warna

15 Juli 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Nuryahdi atau Reon bersantai di depan rumah dan menunjukkan gambar pyrography karyanya.

Nuryahdi atau Reon bersantai di depan rumah dan menunjukkan gambar pyrography karyanya. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Menyalurkan ekspresi seni tidak harus terpaku hanya satu bidang. Namun tidak ada salahnya untuk meng-explore dengan berbagai media yang ada di sekitar. Seperti yang dilakukan oleh Nuryahdi. Dia menyalurkan bakat menggambarnya melalui media kayu.

SENGATAN matahari siang itu terasa teduh. Terpayungi lebatnya daun pohon beringin. Sepasang meja-kursi sederhana berada tepat di bawahnya. Secangkir kopi menemani Nuryahi bersantai. Sebelum melanjutkan aktivitasnya.

Di salah satu sudut halaman, tampak menumpuk lembaran papan kayu. Beberapa di antaranya telah dirangkai menjadi perangkat furnitur. ’’Ini pesanan untuk tempat rak TV,’’ ungkapnya ditemui di rumahnya di Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Dunia mebel merupakan salah satu kesibukan baru yang dilakukan kurun waktu dua tahun terakhir. Berawal dari usaha perkayuan itu yang mengantarkannya menemukan aktivitas baru lain. Ya, dia mulai mencoba menggeluti pyrography.

Sebuah teknik menggambar menggunakan bara api yang dituangkan melalui media kayu. Sebagai pengganti bara api, dia menggunakan alat pemanas listrik atau wood burning tool yang memang diperuntukkan seni pyrography.

Alat sejenis solder elektrik tersebut memiliki berbagai macam tool yang bisa digunakan sesuai kebutuhan. Sebenarnya, menggambar bukan hal asing bagi pria yang akrab disapa Reon ini. Sebab, sebelumnya dia juga cukup lama berkecimpung di dunia seni lukis dan fotografi.

Hanya saja, dia merasa tertantang untuk menuangkan ekspresi dengan pyrography. ’’Karena saya ingin mencoba hal baru,’’ sambungnya. Menurutnya, teknik pyrography dirasa lebih rumit dibandingkan melukis atau membuat sketsa.

Salah satu kesulitannya adalah goresan yang bersifat permanen. Dengan kata lain, goresan bara api yang menimbulkan bekas pembakaran pada media kayu tidak bisa dihapus. Sehingga, diperlukan ketelatenan eksta.

’’Kalau gambar pakai pensil atau melukis dengan cat kan bisa dihapus atau ditumpuk. Tapi kalau pakai ini (pyrograpphy) sudah tidak bisa diubah lagi,’’ tandasnya. Di sisi lain, karya seni rupa ini juga terbatas untuk bermain warna. Karena hanya mengandalkan goresan alami akibat proses pembakaran.

Praktis hanya memunculkan warna hitam (gosong) saja. Sehingga, karya yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan teknik lukis hitam-putih. ’’Jadi, cuma bisa sedikit dipadukan dengan gradasi dari gelap ke terang saja,’’ paparnya.

Kendati demikian, teknik pyrography ini memiliki sejumlah keunggulan. Selain hasil karya dinilai lebih natural, media kayu yang digunakan juga menambah nilai seni tersendiri. Pasalnya, setiap kayu memiliki motif yang alami.

Sehingga, motif tersebut bisa menjadi background yang memperkuat gambar. Di sisi lain, motif kayu tersebut juga bisa menjadi sumber inspirasi untuk tema menggambar. ’’Motif kayu memiliki pola yang khas. Biasanya bisa menyerupai sesuatu. Tinggal kita ikuti saja alurnya untuk menggambar,’’ ulasnya.

Pria berambut gondrong yang memiliki hobi mendaki gunung ini, mengatakan, hampir semua jenis kayu bisa digunakan sebagai media gambar. Hanya saja, ada beberapa jenis tertentu yang mampu menghasilkan karya yang baik.

Salah satu yang menjadi pilihannya adalah adalah kayu pinus. Karena permukaaannya cenderung memiliki warna putih. Sehingga motif kayu maupun goresan gambar bisa terlihat lebih jelas.

Saat ini, dirinya belum terlalu fokus untuk menggeluti menggambar pyrography tersebut. Hanya sesekali jika dia menerima pesanan dari temannya sendiri. ’’Karena dari awal memang tidak terlalu niat untuk jualan. Cuma dibuat menuangkan ekspresi saja,’’ imbuhnya.

Namun, ke depan, dirinya berencana memperbanyak produksi. Yaitu, dengan memanfaatkan limbah bahan baku mebel yang tersisa. Selain sebagai hiasan, karya pyrography juga bisa dikreasikan menjadi tempat lampu, telenan kayu hias, maupun gantungan kunci. (rizal amrulloh)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia