Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Sportainment

Perubahan Periodisasi Porprov Berimbas pada Pola Regenerasi Atlet

15 Juli 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Cabor sepak takraw Kabupaten Mojokerto gagal mempersembahkan medali di gelaran Porprov Jatim VI pekan kemarin.

Cabor sepak takraw Kabupaten Mojokerto gagal mempersembahkan medali di gelaran Porprov Jatim VI pekan kemarin. (Istimewa for radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Porprov Jatim VI berlangsung di empat kota, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro memang telah berakhir. Sabtu (13/7) ajang olahraga multi-event paling bergengsi tingkat provinsi itu telah resmi ditutup di Stadion Bumi Wali Tuban.

Ke-38 kontingen se-Jatim juga telah menyelesaikan pertandingan dengan sejumlah raihan medali. Termasuk Kabupaten Mojokerto yang harus puas bertengger di posisi 30 dari 38 kontingen di klasemen akhir porprov dengan raihan medali 1 emas, 9 perak dan 7 perunggu.

Raihan tersebut menjadi prestasi yang terburuk dari enam kali ajang porprov bergulir. Khususnya raihan medali emas yang mengalami kemerosotan tajam. Kondisi ini sudah disadari KONI Kabupaten Mojokerto sejak awal keberangkatan kontingen menuju arena porprov.

Di mana, kualitas atlet yang diturunkan tidak semaksimal seperti porprov sebelum-sebelumnya. Dari hasil evaluasi sementara, faktor usia menjadi kendala utama. Di mana, atlet yang diturunkan sebagian besar adalah atlet usia junior atau di bawah 18 tahun. Padahal, sebagian besar kontingen lawan menurunkan atlet usia di bawah 21 tahun.

Sehingga dilihat dari pengalaman dan kualitas permainan, kontingen dari bumi Majapahit masih kalah jauh. ’’Ini dampak dari perubahan periodisasi porprov dari dua tahunan menjadi empat tahunan. Sehingga berimbas pola regenerasi atlet. Kita harus mengawali lagi sistem pembinaan sesuai jenjang usia atlet,’’ tutur Kabid Binpres KONI Kabupaten Mojokerto, Muslim Muttaqin.

Meski begitu, KONI tak lantas merombak total struktur atlet di masing-masing cabor. Bahkan, dari 185 atlet yang diturunkan, 80 persennya justru dipertahankan sampai di gelaran porprov berikutnya yang akan berlangsung di empat kota, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Di mana, periodisasi porprov dikembalikan seperti semula, yakni menjadi dua tahunan.

Dari pengembalian itu, atlet yang masuk dalam kontingen tahun ini sebagian besar masih bisa eksis kembali. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri. Di mana, KONI dan cabor tidak perlu susah payah menyiapkan atlet mulai dari pembinaan awal. Bahkan, kualitasnya bisa saja meningkat tajam andai sistem pembinaan berjalan kontinyu.  

’’Kalau pembenahan, justru diawali dari pembinaan usia dini atau mulai 9 tahun. Makanya itu, sistem pembinaan berjenjang akan dirancang saat rakor akhir tahun besok. Di situ kita rancang mulai pembinaan setiap tahun sampai persiapan menjelang porprov,’’ tandasnya.

Di Porprov 2015 lalu, kontingen kabupaten hanya mampu nangkring di posisi 28 dengan raihan medali 2 emas, 3 perak, 8 perunggu. Atau dua strip diatas perolehan medali porprov tahun ini.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia