Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda

Copy Paste Jadi Ancaman Literasi di Tengah Era Teknologi Informasi

15 Juli 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dua siswa memanfaatkan waktu libur sekolah dengan membaca buku di Perpustakaan Kota Mojokerto.

Dua siswa memanfaatkan waktu libur sekolah dengan membaca buku di Perpustakaan Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

Kesadaran terhadap literasi tidak lepas dari sumber informasi yang didapat. Bahkan, informasi kini mudah digenggam melalui perkembangan pesat teknologi sebagai medianya.

Akan tetapi, kemudahan informasi ini tidak berarti melegitimasi semua hasil karya tulis. Harus ada sumber referensi ilmiah sebagai penyeimbang karya literasi. Dengan harapan, pembacanya tidak mudah terjebak dalam lubang misinformasi atau disinformasi.

Ya, merebaknya informasi hoaks, khususnya di dunia maya memaksa setiap pembaca harus lebih selektif dalam mengonsumsi karya tulis ilmiah maupun jurnalis. Termasuk di dunia literasi yang mulai booming fenomena copy-paste (copas). Di mana, orang bisa dengan mudah mengklaim karya tulis orang lain tanpa melalui proses editing lebih dulu.

Fenomena tersebut yang menjadi tantangan serius pegiat literasi di tengah melejitnya teknologi informasi (TI). Termasuk dalam menumbuhkan minat membaca dan menulis di kalangan anak-anak usia dini dan produktif .

’’Sebisa mungkin anak-anak harus ada pendampingan khusus dari orang tua dan guru. Tidak hanya mengawasi informasi yang diterima, tapi juga menumbuhkan minat baca. Dan mengungkapkan dalam sebuah karya,’’ tutur pegiat literasi Jawa Timur (Jatim), Yeti Kartikasari kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Yeti tak memungkiri keberadaan teknologi cukup membantu seseorang dalam mendapatkan beragam sumber informasi.  Bahkan, dalam hitungan menit saja informasi ter-update bisa segera diketahui. Cukup dengan searching dan browsing di mesin pencari informasi yang tersaji di gadget.

Namun, kebebasan berselancar juga memunculkan kebiasaan buruk terhadap budaya membaca dan menulis. Menyalin atau mencomot karya tulis orang lain yang diklaim sebagai hasil karya pribadi tanpa ada elaborasi hasil pemikiran menjadi momok menakutkan.

Lantaran tidak adanya proses seleksi dan pengujian dari berbagai macam referensi. Sehingga dapat menurunkan kualitas dan derajat sebuah literasi. ’’Kebiasaan copy-paste itu yang menakutkan. Karena di dunia maya tidak mengenal sistem konfirmasi ke sumber referensi,’’ ujar alumnus UMY Jogjakarta ini.

Di dunia pendidikan sendiri, melek literasi sebisa mungkin ditanamkan para pendidik kepada anak-anak usia produktif, mulai usia 9 sampai 18 tahun. Caranya, dengan merangsang mereka melalui bermacam jenis buku, sehingga tercipta kebiasaan membaca dan menulis. Bahkan, pemerintah terus menyediakan fasilitas membaca bagi siswa sekolah.

’’Sekarang, setiap sekolah wajib memiliki perpustakaan. Dan, di kurikulum terbaru anak diwajibkan membaca di 15 menit pertama setiap kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung,’’ tambahnya. Akan tetapi, cara tersebut belum bisa dikatakan berhasil ketika belum menjadi sebuah kebiasaan atau budaya.

Di mana, guru dan orang tua sebisa mungkin mendampingi siswa atau buah hati setiap hari dalam belajar. Baik di rumah maupun sekolah. Termasuk mengawasi kebiasaan mereka dalam mengoperasikan gadget untuk mendapatkan informasi. ’’Antara guru dan orang tua tidak boleh parsial, harus bisa bekerja sama satu sama lain,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia