Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Jaringan Lapas Madiun Dibongkar, Rekam Pesta Sabu dengan Handphone

15 Juli 2019, 17: 29: 57 WIB | editor : Mochamad Chariris

Empat tersangka bersama barang bukti diamankan di Mapolsek Ngoro.

Empat tersangka bersama barang bukti diamankan di Mapolsek Ngoro. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Polsek Ngoro membongkar peredaran narkoba jaringan Lapas Madiun. Empat pengedar ini ditangkap dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam. Dari tangan mereka polisi mendapati 7,48 gram sabu-sabu, dan 1.400 butir pil dobel L.

Keempatnya adalah Dedi Setiawan, 27, dan Soesilo Dwi Erwanto, 28, warga Desa Kweden, Kecamatan Mojoanyar; Rendi Jhohanuari, 31, warga Desa/Kecamatan Ngoro; dan Eko Tri Prasetyo, 26, warga Desa/Kecamatan Kutorejo,Kabupaten Mojokerto. ’’Mereka ini saling terkait. Termasuk dalam jaringan Lapas Madiun,’’ ungkap Kapolsek Ngoro, Kompol Gatot Wiyono.

Namun, polisi masih menemui kendala untuk mengungkap jaringan di atasnya. Selain mata rantai terputus, mereka juga tak pernah saling bertemu. Baik dalam melakukan transaksi ataupemesanan. ’’Sistemnya diranjau di terminal Kertajaya, Kota Mojokerto. Pemesanannya via telepon.Sedangkan pembayaran ditransfer. Kami juga ada bukti transfernya,’’ paparnya.

Para tersangka diketahui bagian dari jaringan besar dan antarkota. Untuk sekali transaksi sabu-sabu mencapai 0,5 ons dengan nilai Rp 41 juta. Polisi menduga bisnis haram ini sudah berlangsung lama. Dugaan itu dikuatkan dengan rekam jejak para tersangka, sekaligus model transaksi yang diterapkan. Mereka selalu membagi peran.

’’Dedi berperan sebagai penghubung ke jaringan Lapas. Sedangkan Soesilo menjadi kudanya (kurir),’’ jelasnya. Tersangka Rendi Jhohanuari, dan Eko Tri Prasetyo sebagai pengedar dan kurir dibawah Dedi dan Soesilo. Namun, polisi memastikan, selain pengedar mereka juga pecandu sabu-sabu. Hal itu dibuktikan dengan hasil tes urine. ’’Keempatnya positif sabu-sabu,’’ ujarnya.

Terbongkarnya pengedar narkoba jaringan lapas ini berawal dari pengaduan masyarakat atas dugaan perzinahan dilakukan Rendi dengan pacarnya di sebuah rumah di Desa/Kecamatan Ngoro, Rabu (10/7) pukul 23.00. Atas laporan itu polisi lantas melakukan penggerebekan. ’’Di lokasi kami menemukan alat hisap sabu-sabu,’’ tambah Kanitreskrim Polsek Ngoro, Ipda Selimat.

Dari kamar Rendi, polisi mendapati tiga plastik kecil di dalamnya tersisa sabu. Sebelumnya dia sempat menggelar pesta sabu-sabudengan Eko Tri Prasetyo. Hasil keterangan Rendi ini juga didukung bukti rekaman video yang menunjukkan keduanya asyik menghisap sabu-sabu. ’’Video itu direkam pacar gelap Rendi, Diah,’’ terangnya.

Bermodal alat bukti tersebut polisi lalu menangkap Eko di rumahnya. Penggerebekan kemudian mengembang kepada tersangka berikutnya. Tak kurang dari 24 jam, petugas menangkap Dedi di rumah kosnya di perumahan Jabon Estate, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar. Di rumah itu, Dedi tak sendirian. Ia bersama Soesilo. Kedunya langsung dilakukan penangkapan dengan disertai barang bukti sabu-sabu dan ribuan pil koplo.

’’Kami menemukan 7,48 gram sabu-sabu dan 1.400 butir pil dobel L,’’ paparnya. Sabu-sabu tersebut disimpan dalam 9 kemasan plastik klip. Sisa dari penjualan 0,5 ons yang sebelumnya dibeli dari Lapas Madiun. Petugas juga menyita 500 pak plastik klip untuk memecah sabu-sabu, kartu ATM platinum, tempat kaca mata untuk menyimpan sabu-sabu, tas, korek api modifikasi, alat hisap, dua pipet kaca, lima handphone, serta uang tunai Rp 4,8 juta.

Oleh polisi, keempatnya dijerat pasal 114 ayat 1 subsider pasal 112 ayat 1, UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.  ’’Dengan ancaman hukuman selama 12 tahun penjara,’’ tandasnya.  

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia