Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Riwayat KA Jalur Timur Mojokerto, Lintasan Membentang hingga Pasuruan

11 Juli 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sisa jalur rel di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Sisa jalur rel di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Mojokerto pernah menjadi salah satu daerah yang memiliki jalur transportasi kereta api (KA) tersibuk. Bekas Kadipaten Japan ini memiliki jalur rel yang membentang hampir mengelilingi penjuru wilayah. Kondisi itu tidak lepas karena berdirinya belasan pabrik gula (PG). Salah satunya adalah KA jalur timur yang membentang dari Mojokerto hingga Japanan.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, keberadaan KA jalur timur mulai dibangun pada akhir abad ke-19. Jalur tram tersebut dinaungi oleh Modjokerto Stoomtram Maatschapij (MSM) yang berkantor pusat di Kota Mojokerto. Dia menceritakan, perusahaan yang mengoperasikan trem uap ini awalnya mendapat penugasan untuk membangun jalur KA yang menghubungkan sejumlah pabrik gula.

Konsesi izin pembangunan jalur tram itu menyusul telah dikeluarkannya surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Cornelis Pijnacker Hordijk, tertanggal 31 Desember 1895. Surat tersebut keluar atas proposal yang dibuat oleh Mr. J.F. Colinet, seorang pengacara di Kabupaten Nganjuk. ”Proposal Colinet itu dibuat berdasarkan rencana para pemilik modal di Den Haag, Belanda,” terangnya.

Kereta api uap seri C2902 yang pernah melayani jalur Mojokerto-Japanan saat ini berada di Depo Lokomotif Perhutani KPH Cepu, Kabupaten Blora, Jateng.

Kereta api uap seri C2902 yang pernah melayani jalur Mojokerto-Japanan saat ini berada di Depo Lokomotif Perhutani KPH Cepu, Kabupaten Blora, Jateng. (Sugiyanto for radarmojokerto.id)

Selanjutnya, rencana itu ditindaklanjuti dengan menyediakan modal sebesar f 85.000 gulden berikut 60 lembar saham gabungan. Dia mengatakan, biaya jumbo tersebut diperuntukkan untuk pendirian perusahaan berbentuk perseroan terbatas (PT). Di samping itu, alokasinya dibuat sebagai kontribusi konsesi, kontruksi, peralatan, biaya operasional, hingga kebutuhan lainnya.

Bahkan, juga disiapkan modal pinjaman yang diperkirakan hingga f 2 juta gulden dalam bentuk obligasi. ”Para pemodal itu berani menanamkan uangnya karena tingginya potensi ekonomi yang berkembang di Jawa Timur (Jatim) saat itu,” urai pria yang akrab disapa Yuhan ini. Alasannya, tak lain karena pesatnya perkembangan industri gula.

Sehingga sangat dibutuhkan jasa transportasi guna mengangkut hasil pabrik gula ke pelabuhan. Terutama pelabuhan Surabaya. ”Beberapa perusahaan kereta api swasta lainnya juga sudah berkembang sebagai bagian dalam industri gula tersebut,” tuturnya. Sementara itu, daerah yang dibidik oleh MSM merupakan wilayah berkategori makmur.

Sehingga dibangunlah jalur timur yang dimulai dari Mojokerto-Kejapanan, Kabupaten Pasuruan, kemudian Kejapanan-Porong, Kabupaten Sidoarjo, serta percabangan menuju Pandaan. ”Sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa titik pabrik gula,” tandasnya. Ketiga jalur yang memiliki total lintasan rel sepanjang 47,3 kilometer (km) ini diresmikan pada 1 November 1898.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia