Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ratusan Warga Mojokerto Terserang Hepatitis, Pasien Suspect Diburu

05 Juli 2019, 19: 50: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa for radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Adanya wabah hepatitis A yang terjadi di wilayah Pacitan dan Trenggalek membuat daerah di sekitarnya waspada. Tak terkecuali di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Mulai awal pekan ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat melakukan gerak cepat untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang menyerang fungsi hati itu. Petugas menelusuri adanya warga yang terjangkit ke rumah sakit umum daerah (RSUD) maupun RS swasta di Kabupaten Mojokerto.

Upaya itu dilakukan untuk mencari pasien baru yang terindikasi terpapar hepatitis. ”Mulai kemarin kita keliling seluruh rumah sakit untuk mendata pasien suspect hepatitis,” ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, dr Langir Kresna Janitra Kamis (4/7).

Menurutnya, penelusuran tersebut tidak sekadar untuk mendeteksi pasien dengan hepatitis A, melainkan dilakukan secara menyeluruh. Selama dua hari ini, pihaknya belum menemukan adanya penderita baru. Namun, upaya itu tetap dilakukan hingga menjangkau seluruh fasilitas kesehatan (faskes). ”Kita belum menemukan, tapi klinik rawat inap nanti juga kita pantau,” ulasnya.

Dia mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran di wilayah Kabupaten Mojokerto. Mengingat, penyakit yang disebabkan oleh virus ini tergolong mudah menular. Langit menyatakan, penularan hepatitis bisa terjadi ketika kontak langsung dengan penderita.

Di samping itu bisa melalui makanan dan lingkungan. Oleh sebab itu, jika nanti ditemukan ada pasien yang terdiagnosis hepatitis, petugas kesehatan akan turun ke tempat tempat tinggal penderita. ”Karena kalau hepatitis tidak menutup kemungkinan bisa menular pada orang di dekatnya. Bisa pada orang yang tinggal satu rumah atau tetangga kanan kirinya,” tukasnya.

Terlebih, jika penderita tinggal di permukiman padat penduduk, maka penularan bisa menjadi sangat rentan. Untuk itu, anggota keluarga yang tinggal satu atap dan tetangga dekatnya juga akan dilakukan pemeriksaan. Sehingga jika ditemukan lebih awal, maka bisa mencegah meluasnya penularan. ”Karena lewat jabat tangan saja bisa tertular,” tandasnya.

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Mojokerto, tahun 2018 lalu, jumlah warga yang terdeteksi hepatitis cukup tinggi. Ada sebanyak 358 warga dari 18 kecamatan yang dilaporkan terjangkit hepatitis. Sementara pada periode Januari-Juni tahun 2019 ini, jumlahnya sudah menyentuh 105 warga.

Tidak menutup kemungkinan angka tersebut masih bisa bertambah. Sebab, laporan data tersebut hanya terdeteksi dari jumlah bayi baru lahir dari ibu hamil (bumil) yang terdiagnosis hepatitis. Itu diketahui setelah bumil melakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) pada masa kehamilan.

”Makanya, kita juga akan cari ke seluruh rumah sakit,” tukasnya. Langit menjelaskan, hepatitis bisa berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan. Pada fase awal, penderita mengalami gejala panas yang mirip dengan demam.

Pada beberapa kasus terkadang disertai dengan mual. Namun, yang membedakan dengan penyakit lainnya adalah munculnya gejala khas dengan berubahnya warna kuning pada bagian mata maupun permukaan kulit.

Oleh sebab itu, imbuh Langit, bagi warga yang mengalami keluhan apa pun pada kondisi kesehatannya, diminta untuk segera datang ke faskes terdekat. ”Agar segera bisa tertangani. Selain itu untuk mencegah penularan pada orang di sekitarnya,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia