Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Cerita di Balik Pembangunan Dam Pudaksari

Pembagi Irigasi Pertanian, Sokong Produksi Pabrik Gula Bangsal

04 Juli 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Alat bantu untuk membuka dan menutup pintu air di Dam Pudaksari berfungsi membagi aliran air di Sungai Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Alat bantu untuk membuka dan menutup pintu air di Dam Pudaksari berfungsi membagi aliran air di Sungai Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Keberadaan Belanda di Kabupaten Mojokerto cukup memiliki andil di sektor pambangunan. Selama masa penjajahan, kolonial membangun sejumlah infrastruktur vital di berbagai bidang. Terutama, Negeri Kincir Angin ini sangat ahli dalam penataan irigasi atau pengairan. Salah satu peningalan itu adalah Dam Pudaksari.

SESUAI namanya, dam tersebut berada di Dusun Pudaksari, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Didirikannya instalasi irigasi pertanian yang membendung Sungai Bangsal itu untuk menyokong produksi Pabrik Gula (PG) Bangsal pada masa lalu. Meski sudah berusia 1 abad lebih, dam pembagi air tersebut masih kukuh dan tetap berfungsi hingga kini.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pada zaman Belanda terdapat belasan pabrik yang bediri di Mojokerto. Salah satunya adalah Suikerfabierk (SF) atau PG Bangsal. Industri penghasil gula tersebut didirikan pada kisaran tahun 1850-an. Menurutnya, PG Bangsal dikelola oleh NV Onderneming Cultuur Matschappij Bangsal.

Sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Eschauzier Concern. Seiring dengan pendirian pabrik gula tersebut, selanjutnya dibuka lahan pertanian tebu dengan menyewa lahan sawah yang berada tak jauh dari lokasi produksi. ”Untuk mencukupi air irigasi, maka dibuatlah sebuah dam di Pudaksari,” ujarnya.

Lokasinya tentu relatif berdekatan dengan pabrik yang berada di Jalan Raya Bangsal. Oleh karena itu, mulai tahun 1893, pembuatan pintu air dilakukan dengan memanfaatkan Sungai Bangsal. Selang dua tahun berikutnya, dam itu rampung dikerjakan tahun 1895. ”Pekerjaan Dam Pudaksari saat itu dibiayai oleh sindikat pabrik gula Mojokerto,” paparnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, sebelum Dam Pudaksari didirikan, sebenarnya sudah ada beberapa bendungan yang dibuat oleh penduduk lokal. Namun, sarana irigasi itu tersebar di beberapa titik di sepanjang aliran sungai. ”Rata-rata desa yang dilalui Sungai Bangsal membuat bendungan sendiri-sendiri, biasanya untuk kebutuhan pengairan sawah di daerahnya,” paparnya.

Dengan demikian, lanjut dia, bendungan-bendungan sederhana itu pengelolaannya tidak terorganisir. Sehingga hal itu mengakibatkan areal persawahan yang ada di bawah sering kekurangan air. Pasalnya, air telah banyak digunakan oleh penduduk yang berada di hulu sungai.

Akibatnya, tanaman tebu di wilayah bawah tumbuh tidak begitu baik saat kebutuhan airnya tidak maksimal. ”Bahkan, kekurangan air juga dianggap sebagai penyebab timbulnya wabah penyakit tebu pada saat itu. Sehingga hal itu yang melatarbelakangi dibangunnya Dam Pudaksari,” imbuh Yuhan.

Pasca Dam Pudaksari berdiri dan dioperasikan, dam sederhana milik warga desa yang dibuat semipermanen dibongkar. Mantan Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini melanjutkan, terkait pengelolaan pintu air di Dam Pudaksari, dinakhodai sepenuhnya oleh Kantor Irigasi Afdeling Brantas.

”Afdeling Brantas bertugas membagi air ke areal persawahan. Tapi, sesuai tujuan awalnya, maka yang diprioritaskan adalah tanaman tebu milik pabrik gula Bangsal,” tandasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia