Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Rumah Majapahitan Tak Dilirik Wisatawan, Sebagian Dimakan Rayap

04 Juli 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga memberikan sajian tari di depan rumah Majapahit di kawasan Bejijong Trowulan, beberapa waktu lalu. Rumah Majapahit ini diharapkan mampu menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan internasional.

Warga memberikan sajian tari di depan rumah Majapahit di kawasan Bejijong Trowulan, beberapa waktu lalu. Rumah Majapahit ini diharapkan mampu menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan internasional. (Imron Arlado/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan yang menjamah lima desa di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tak sesuai ekspektasi.

Dari ratusan rumah yang telah berdiri, hanya segelintir saja yang dinilai ’’bermanfaat’’. Seperti apa kondisi bangunan yang menyerap anggaran puluhan miliar tersebut sekarang? Deretan rumah dengan dominan batu bata merah berdiri rapi di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulanm Kabupaten Mojokerto.

Tampak indah dengan arsitektur yang disebut-sebut sebagai rumah tempo dulu. Untuk pembangunan rumah ini, pemerintah sudah menggelontor dana puluhan miliar. Ya, lima tahun lalu. Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan ini diharapkan menjadi destinasi wisata yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat Trowulan dan sekitarnya.

Lokasi ini diharapkan menjadi satu dari lima desa yang akan menjadi jujukan wisatawan domestik dan internasional. ’’Rencananya memang terlalu muluk-muluk,’’ ungkap Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Kabupaten Mojokerto, Supriyadi. Namun, rencana itu rupanya tak dibarengi dengan langkah dan perencanaan apik nan matang.

Pasca pembangunan lima tahun silam, pemerintah nyaris tak pernah melakukan apa pun. Rumah warga yang telah berubah wajah ala Majapahitan dibiarkan begitu saja. Alhasil, tak sedikit warga yang kebingungan. Lihat saja, dari 200 rumah yang dipugar di desa ini, tak lebih dari 30 rumah saja yang pernah menjadi persinggahan wisawatan.

’’Tidak banyak. Hanya 30 rumah saja yang bisa menikmati,’’ imbuh dia. Ke-30 pemilik rumah yang bisa menikmati itu karena kediaman mereka sudah berulangkali menjadi homestay wisatawan Trowulan. Mereka menginap dengan fasilitas seadanya. Sementara, sisanya yang mencapai 170 unit rumah, kini dimanfaatkan sebagai ruang tamu, toko, warung, tempat etalase, dan bahkan mangkrak.

’’Tidak ada manfaatnya untuk kawasan wisata,’’ papar perajin cor kuningan ini. Bahkan, beberapa rumah di antaranya yang minim perawatan sudah jadi konsumsi rayap. Supriyadi menilai, fungsi dan manfaat rumah Majapahit di kampungnya tak jauh beda dengan empat kampung lain yang turut dijamah sasaran pembangunan ini. Sama-sama memprihatinkan.

Hal itu diakui Kepala Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Sunardi. Dia menegaskan, pembangunan rumah bernuansa Majapahitan sejak tahun 2016 di desanya juga tak banyak memiliki fungsi dan pendukung wisawatan. ’’Tidak ada apa-apa. Karena setelah dibangun, tidak ada perhatian dari pemerintah daerah,’’ tandasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah sebagai stakeholder, melakukan upaya-upaya apik untuk memanfaatkan rumah dengan arsitektur era kerajaan Majapahit tersebut. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia