Kamis, 24 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Makam Bukit Jubel yang Dikenal Misterius

Ke Kamar Mandi Saja Anak Yatim Tak Berani, Takut Ada Hantu atau Pocong

27 Juni 2019, 19: 21: 01 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang pekerja melakukan pemasangan paving di kompleks makam fiktif di Bukit Jubel,  Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Seorang pekerja melakukan pemasangan paving di kompleks makam fiktif di Bukit Jubel, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Polemik makam tak bertuan di Bukit Jubel, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet,  Kabupaten Mojokerto bakal berkepanjangan. Sebab, selain belum ada solusi konkret dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini, makam milik jamaah asal Surabaya itu justru diperluas.

LAHAN makam milik H Sofyan Rahman, warga asal Surabaya itu sebenarnya tidak aneh. Layaknya pemakaman pada umumnya. Yang menjadi janggal justru makam yang sudah ada sejak 2016 lalu itu ternyata bukan milik warga setempat, melainkan milik warga luar daerah.

Bahkan, kompleks makam itu dinilai sebagai fasum perumahan. Padahal, dari penelusuran di lokasi, tanda-tanda adanya dibangun perumahan tersebut tidak satupun nampak. Situasi ini membuat warga justru menganggap banyak kejanggalan di balik makam fiktif ini.

Disebut-sebut, makam itu layaknya, TPA yang sengaja dikomersilkan oleh pemilik lahan. Selain masih menimbulkan tanda tanya besar, keberadaan makam yang jaraknya tidak jauh dengan Vila Durian Doa Yatim Sejahtera membuat ancaman serius bagi psikologi penghuninya.

Bagaiaman tidak, vila yang dihuni puluhan orang dan anak PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) kerap dilanda trauma saat kedatangan jenazah yang belum diketaui jelas asal usulnya tersebut. Apalagi, dari puluhan penghuni vila tersebut merupakan anak di bawah umur.

Di saat malam, ketakutan tak jarang mereka alami. ’’Ke kamar mandi saja, kadang beberapa anak tak berani. Katanya takut ada hantu dan pocong,’’ ungkap Mukhidin, pengasuh Vila Durian Doa Yatim Sejahtera. Dia menceritakan, ketakutan yang menghantui anak-anak itu kerap muncul setelah keberadaan makam tersebut.

Apalagi, saat proses pemakaman, dipastikan jenazah akan melintas di depan vila. Sehingga membuat mereka merasa trauma dan dirundung ketakutan. Seperti yang terjadi kemarin siang (25/6). Di tengah asyik bermain di pelataran vila, mereka tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam vila.

Itu setelah mereka menyadari kehadirian rombongan palayat yang melintas di depan vila. Mereka yang datang secara berombol membawa mobil ambulans dan kendaraan pribadi itu tak lain untuk mengikuti prosesi pemakaman salah satu jenazah dari Surabaya.

’’Bahkan sebelumnya, kami sempat harus mengungsikan anak-anak ke tempat laki-laki. Lokasinya di Desa Bendunganjati,’’ tuturnya. Langkah itu tak lain untuk menghindari sekaligus menghilangkan traumatik anak asuhnya yang mayoritas masih berusia balita dan anak-anak. ’’Setelah beberapa hari dan rasa traumanya hilang, baru kami usung lagi ke sini,’’ ujarnya.

Namun, kondisi itu akan terus terulang jika polemik ini tak segera ada solusi konkret dari pemerintah. ’’Yang menjadi masalah itu belum ada permukimannya, tapi sudah ada makam. Ini kan jauh dari kewajaran,’’ sesalnya. Pemkab Mojokerto diharapkan harus bertindak tegas.

Selain belum ada tanda-tanda permukiman yang jelas, sebagai alasan diadakannya fasum tersebut hingga kini lokasi pemakaman justru terus diperluas. Mukhidin menjelaskan, kompleks makam yang dibangun di atas lahan milik Sofyan Rahman, warga asal Surabaya terus diperluas. Secara diam-diam pengerjaan makam terus dilakukan, meski sebelumnya pernah dihentikan oleh pemerintah daerah.

’’Perluasan makam kurang lebih sekitar 3 ribu meter persegi dari sebelumnya hanya 500 persegi,’’ ungkapnya. Pelebaran makam ini terjadi sejak empat bulan terakhir. Awalnya, dia mengira aktivitas pembangunan yang diperoleh dari para pekerja menyebutkan akan dibangun vila.

Seiring berjalannya waktu, dia mengetahui yang dibangun bukanlah permukiman. Sebaliknya, area makam diperluas. Dari semula seluas 500 meter persegi dan sudah dipagar. Namun, dikembangkan lagi dengan memugar pagar. ’’Tidak tahu sebenarnya apa yang menjadi dasar pembangunan makam itu. Yang jelas, itu tidak masuk akal,’’ tandasnya.

Sebab, logikanya, lanjut dia, permukiman didirikan lebih dulu, baru disediakan fasum berupa kompleks makam. ’’Itu juga perlu dipertegas, jelas tidak hanya pembangunan rumah- rumah kosong,’’ tambahnya. Begitu juga meski itu tanah milik pribadi bukan berarti bisa seenaknya menjadikan lahannya untuk makam.

Khawatirnya kalau itu dibiarkan, akan menjadi acuhan masyarakat luas. Termasuk di desa orang atau di luar tempat tinggalnya. ’’Itu baru di sini, hal itu diterapkan,’’ tuturnya. Berbeda lagi jika permukiman itu sudah jelas adanya. Secara otomatis, fasum makam akan mengikuti.

’’Lha ini kompleks pemakaman terus diperluas, tetapi permukimannya tidak jelas,’’ imbuhnya. Sejak awal keberadaan makam ini memang banyak menui kontroversi. Sebelumnya pernah ditemukan belasan nisan lengkap dengan nama, namun tidak ada kuburan yang digali. Bahkan tidak ada satupun jenazah yang dimakamkan. (khudori aliandu/ris)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia