Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Mertua Dibakar Menantu Sendiri, Jam Imitasi Milik Korban pun Dipreteli

21 Juni 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dua tersangka dugaan pembunuhan WY dan ML resmi ditahan di Mapolres Mojokerto.

Dua tersangka dugaan pembunuhan WY dan ML resmi ditahan di Mapolres Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Di tengah menunggu hasil DNA (deoxybro nucleic acid), penyidikan kasus tindak pidana pembunuhan sadis dengan cara dibakar menunjukkan perkembangan berarti.

Bahkan, setelah jasad korban, SR,  54, dibakar hingga empat kali di kebun Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro,  Kabupaten Mojokerto, pelaku juga menjarah barang berharga milik korban. Para pelaku yang sudah ditetapkan tersangka terancam pasal berlapis. Masing-masing WY, warga Sidoarjo, menantu korban. Sedangkan, ML, dan LM, warga Mojokerto.

’’Hasil sidik, ada fakta baru yang kami temukan,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, kemarin. Kendati begitu, dari tiga terduga pelaku ini, polisi hanya menahan WY dan ML. Bahkan, keduanya dijerat pasal berlapis. Selain disangka dengan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, keduanya juga disangka dengan pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan yang Mengakibatkan Korban Meninggal.

’’Dari dua pasal itu, ancamannya juga di atas lima tahun penjara,’’ ujarnya. Sebaliknya, untuk pelaku LM, oleh penyidik hanya disangka dengan pasal 181 KUHP tentang Menghilangkan Mayat untuk Menyembunyikan Kematian Seseorang. Dia dinilai hanya berperan membantu untuk membakar mayat SR. ’’Ancaman hukuman 9 bulan penjara dalam pasal itu membuat LM tak ditahan,’’ tuturnya.

Menurut Fery, dalam serangkaian penyelidikan, sebelum akhirnya jasad korban dibakar, terlebih dulu, pelaku WY dan ML melucuti barang berharga milik korban. Di antaranya, perhiasan berupa kalung dan cincin imitasi, jam tangan, handphone serta uang Rp 50 ribu. WY juga terbukti menjual sepeda motor Honda Scoopy milik korban. ’’Ada juga yang sudah kami sita dari terduga pelaku berupa jam tangan. Lainnya masih kami telusuri,’’ tuturnya.

Setidaknya hal itu juga dikuatkan dari pengakuan saksi, yang sebelumnya sempat menjadi perantara penjualan barang-barang hasil rampasan milik korban. Dalam BAP (berita acara pemeriksaan) orang yang menjadi perantara juga mengaku pernah menerima barang dari pelaku. Akibatnya, korban mengalami kerugian material belasan juta rupiah.

Angka itu dihitung dari satu unit sepeda motor Honda Scoopy, handphone, jam tangan,  dan perhiasan. ’’Untuk kepastiannya masih kita inventarisasi. Diduga ada barang berharga lagi yang juga dikuasai pelaku,’’ bebernya. Meski pihaknya masih menunggu hasil DNA tengkorak yang mengarah ke SR, 55, warga asal Buduruan, Sidoarjo sebagai bukti otentik, sejauh ini bukti petunjuk yang didapatkan penyidik sudah kuat.

Pengakuan para pelaku misalnya. Sejauh ini, dalam BAP, mereka sudah mengakui perbuatannya. Termasuk peran yang mereka lakukan dalam insiden pembunuhan berencana tersebut. Bahkan, sebelum akhirnya tengkorak korban ditemukan, untuk menghilangkan jejak, mereka harus membakar jasad korban hingga empat kali. Tak heran, jika di tempat kejadian perkara (TKP) petugas hanya menemukan tengkorak dan serpihan tulang di atas abu sisa pembakaran ban saja.

Hal itu juga didukung dari hasil analisa Dokpol Polda Jatim yang menyebutkan tengkorak korban diketahui berjenis kelamin perempuan. ’’Usianya juga di atas 50 tahun,’’ tegasnya. Bukti itu juga dikuatkan dari fakta-fakta yang sudah ditemukan di TKP dan didukung keterangan para saksi. Termasuk, dari barang bukti milik korban yang disita dari tangan pelaku.

Tapi, karena korban sudah tidak bisa dikenali. Hanya menyisahkan tengkorak. Untuk kevalidan korban itu benar-benar SR, perlu adanya tes DNA. ’’Makanya, sebagai pembanding kami juga lakukan tes DNA terhadap anak kandung SR, berinsial CH,’’ terangnya. CH, 37, warga Buduran, Sidoarjo ini sebelumnya melaporkan atas hilangnya ibunya, SR, 55, sebulan lalu.

Terhitung sejak ditemukan tengkorak di atas abu pembakaran. Dengan demikian, hasil tes DNA ini menjadi kunci serangkaian fakta dan proses penyidikan yang sudah dilakukan. ’’Itu sekaligus bentuk kehati-hatian polisi dalam menangani perkara,’’ tandas Fery. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia